
Detik berganti dengan menit, menit berganti jam, dan jam berganti dengan hari. Waktu berlalu begitu terus menerus tanpa bisa diubah apalagi dihentikan sekejap saja.
Sudah 3 hari Bela sadar dari masa kritisnya, perawatan dan pengobatan terus saja dilakukan oleh Dokter - Dokter yang menanganinya selama ini. Dokter berbakat dari Rumah Sakti Ayah Mertua Bela yang selama 2 tahun ini dipegang oleh Suaminya, Rifqy Al-Furqan yang juga seorang Dokter Bedah dan Spesial Penyakit Dalam di Rumah Sakit tersebut.
Berkali - kali Bela selalu bertanya kepada Suami, Orang tua, Mertua maupun Dokter dan Perawat di Rumah Sakit tersebut.
Ia selalu menanyakan kondisinya, apa yang terjadi pada dirinya? kenapa harus perawatan dan pengobatan yang ketat dan sesering mungkin seperti ini? padahal ia sudah sembuh dan tak sakit apa-apa.
Bela tidak tahu saja kalau sebenarnya telah terjadi sesuatu pada tubuhnya yang suatu saat akan membuat salah satu organ dalamnya bermasalah. Ya, Bela hanya tahu kalau ia telah pulih dari Tumor yang dulu ia derita. Tapi kenyatannya ia salah!
Tumor itu memang sudah hilang! tapi muncul Tumor baru yang harus secepatnya dioperasi dan ditambah dengan kejadian penyuntikan obat dengan bisa racun ular didalamnya membuat tubuh Bela sering drop jika terlalu kelelahan.
Pagi ini Bela telah bangun lebih pagi dari sebelumnya. Ia ingin jalan - jalan keluar Rumah Sakit mencari udara segar.
Seperti biasanya, Bela selalu membujuk juga merayu Suaminya agar mau membawanya keluar Ruangan.
Ya, begitulah Rifqy! sejak kejadian beberapa minggu lalu, Rifqy tak mengizinkan Bela untuk keluar Rumah Sakit tanpa ada pendamping dan Rifqy juga tak ingin Bela kelelahan karena terlalu lama berjalan.
Mungkin itu bisa dibilang Egois ya?
Dan bisa dibilang juga Over Protectiv?
Tapi Rifqy tak peduli. Yang ia pikirkan sekarang hanya kesehatan Istrinya, Istrinya dan Istrinya agar tak kelelahan yang akan berujung drop lagi bagi tubuh Bela yang sekarang memang ringkih.
Bela menatap sayu Suaminya. "Kak!" panggil Bela kemudian.
Tapi apa ini?
Rifqy seakan tahu apa yang dimaksud oleh Istrinya. Kepalanya menggeleng cepat sesaat sesudah Istrinya memanggil. Bahkan matanya memilih untuk menghindar dan tak mau bersitatap pada mata sayu Bela yang memang dibuat memelas agar Rifqy luluh.
Ini tidak boleh terjadi, kalau begini terus aku akan luluh padanya!
Oh ya ampun! lihatlah matanya lucu sekali. Enggak enggak aku gak boleh gegabah dan gak boleh luluh, tubuh Syasya belum sepenuhnya pulih! aku tak ingin mengambil resiko. Batin Rifqy seakan ingin berteriak diiringi gelengan kepala saat sadar akan fantasinya itu.
"Kak?" masih belum menyerah juga?
Ya, sudah 2 hari ini Bela merajuk dan merayu Suaminya agar mau mengabulkan keinginannya yang hanya ingin menghirup udara segar di luar Ruangan Rumah Sakit.
Dasar pelit! Bela hanya bisa mendengus sebal dengan tingkah over protectiv dari sang Suami. Ya, mau bagaimana lagi? dia tetap Suamimu Bela!
Dengan merajuk, bibirnya ia majukan dengan lengan ia lipat di dadanya. Percuma merajuk seperti anak kecil, 'pun Suaminya tak akan luluh. Ia kesal, kesal dan kesal setengah mati.
Cuma ingin keluar untuk menghirup udara segar pun tak boleh? yang benar saja! sejak kapan coba Kak Rifqy Over Protectiv seperti ini?
Sebenarnya apa sih yang terjadi saat aku masih dalam masa kritis sampe tingkahnya terlalu berlebihan. Dasar nyebelin tau gak! Batin Bela.
Oh maafkanlah sikap Over Protectiv dari Suamimu itu!
Dan maafkanlah keegoisan Suamimu itu!
Itu lebih baik untuk dirimu yang memang sedang terancam. Masih ada seseorang yang ingin menjatuhkan mu!
Dengan kasar Gadis bercadar itu menghela nafas. Ia sudah menyerah! selama 2 hari ini dia membujuk Rifqy, tapi apa? tak berhasil!
Menyesal sudah ia memasang wajah manis nan unyu miliknya kalau tetap tidak berhasil.
__ADS_1
Kaki kiri gadis itu mulai ingin turun dari ranjang berseprei putih itu. Tapi berhasil dihentikan Rifqy saat pemuda itu melihat Istrinya ingin turun.
Keningnya mengkerut. "Mau kemana?" tanya Rifqy berusaha tenang. ia takut Istrinya akan marah karena tak diizinkan keluar Ruangan.
Bela tampak melengos, dan itu sontak membuat Rifqy menahan tawanya. Tingkah lucu itu begitu menggemaskan di mata Pemuda tampan keturunan Arab - Indo itu.
"Mau ke kamar mandi!" jawab Bela ketus. Ia masih marah dan kesal!
Rifqy tersenyum lembut. "Sini aku bantu!" baru 2 langkah ia berjalan sudah dihentikan oleh Bela.
"Gak mau!..." sahut Bela dengan cepat. Sungguh tak tahu malu! baru dia menolak mengajakku keluar Ruangan dan sekarang ia ingin membantuku? aku tidak mau. batin Bela melanjutkan
Tapi bukan Rifqy namanya kalau cepat menyerah hanya karena perkataan dari Istrinya. Bukan tipenya!
"Biar aku bantu!" itu bukan tawaran tapi memang perintah dari seorang Suami yang terlalu mengkhawatirkan Istri yang sangat ia cintai.
Tangan kekar nan putih bersih dengan bulu halus disana tampak ditepis oleh tangan mungil yang bersih itu milik Bela, Istrinya.
"Aku bilang gak mau ya gak mau!" pekik Bela dengan bibir dimanyunkan setelahnya.
Matanya berkaca - kaca ingin menangis tapi masih mampu ia tahan. Tapi mampu dilihat oleh pandangan mata Rifqy.
"Hei ada apa? kenapa kau menangis?" dengan sekaan lembut, Rifqy mengusap embun mata yang sudah mulai luluh lantai di pipi Bela.
"Aku pingin keluar!" cicit Gadis bercadar itu dengan lirih. Matanya masih saja mengeluarkan cairan bening yang sekarang pun jatuh di atas lengan Rifqy.
"Syasya, aku cuma gak mau..." belum juga Rifqy selesai dengan ucapannya, spontan Belaemotong.
"Aku tau! aku mau ke kamar mandi. Minggir..." sambar Bela yang mulai jengah dengan beribu alasan yang meluncur keluar begitu saja dari bibir itu.
Dengusan kesal itu keluar lagi dari mulut Bela. "Aku cuma ingin keluar! apa salahnya? dasar nyebelin!
Terlalu over! berlebihan! egois!
Kalo kaya gini terus gimana aku mau sembuh, aku bahkan gak bisa menikmati keindahan di luar Ruangan." Gumam Bela sesaat sesudah di dalam kamar mandi.
"Gak boleh! gak boleh! dan gak boleh! itu aja yang dia jawab setiap aku mengajaknya keluar dari sini.
Aku cuma gak ingin kamu cape!
Aku cuma gak ingin kamu lelah!
Kamu belum pulih sepenuhnya!
Jangan bandel!
Jangan memaksa kalo kamu belum sembuh!
Jangan ngeyel!
Jangan membantah!
Jangan yang aneh - aneh!
Ini demi kebaikan kamu! jadi nurut.
__ADS_1
Bulsyittt!! omong kosong!! itu mah bukan kebaikan untuk ku, tapi dia sekarang seakan memenjarakan aku di dalam Ruangan ini!
Nyebelin!!!" Terus saja Bela menggerutu dengan beberapa kali menirukan cara bicara dari sang Suami yang Over Protectiv itu, tak lupa dengan tangan yang juga ikut andil saat berbicara.
Huh
Bela berusaha tenang!
Berusaha untuk menarik nafasnya pelan dan menghembuskan nafasnya lagi. Ia ulang beberapa kali agar bisa menghilangkan rasa jengkel dan juga kesal dengan sang Suami.
Usahanya tak sia - sia! itu berhasil.
Setelah Bela melampiaskan omelannya di dalam kamar mandi. Gadis itu mulai keluar karena mulai lelah saat berdiri. Entah kenapa kakinya gampang lemas dan tak biasanya seperti ini! membuat Bela terheran - heran. Kakinya seakan mati rasa kalau belum ia pukul - pukul kecil. Dan benar saja! kakinya kembali berasa sesaat sesudah dipukul - pukul kecil olehnya.
Dengan langkah gonta Bela keluar dan tak lupa menutup pintu kamar mandi.
Saat berbalik arah, mata Bela melebar seketika melihat pemandangan di depan mata. Ya, dia melihat sang Suami memegang kursi roda dengan senyum hangat dan tulisan kata 'MAAF' di jidat miliknya. Oh ya ampun! apa ini?
"Mau keluar?" pertanyaan itu sebenarnya berat untuk keluar dari mulut Rifqy. Tapi mau bagaimana lagi? ia rak ingin istrinya menangis lagi hanya karena tak bisa keluar dari Ruangan. Ia tak ingin sang Istri merasa dipenjara dalam Ruangan VVIP Rumah Sakit.
Mata Bela berkaca - kaca seraya anggukan itu ia lakukan dan saat itu juga Rifqy mengangkat tubuh Istrinya untuk ia dudukkan di atas kursi roda yang akan ia gunakan mengantar Istrinya keluar Ruangan.
"Makasih! maaf tadi aku..."
"Udah gak usah minta maaf! aku yang salah, karena terlalu keras sama kamu. Sekarang mau kemana?"
Bela mengangguk. "Ke taman bunga di Rumah Sakit ini."
Rifqy tersenyum hangat. "Apapun untukmu tuan Putri!"
Gayamu! seperti ala - ala prajurit yang membungkuk hormat kepada sang Ratu saja. 😂😂
Melihat itu Bela terkekeh pelan.
"Gitu dong ketawa, kan cantik." dibalas senyuman oleh Bela.
"Ayo..."
"Let go!!" seru Bela membuat Pemuda tampan keturunan Arab - Indo itu terlonjak kaget sesaat sebelum ia kemudian tertawa bersama.
.
.
.
Bersambung...!
Like like like! gak bosen - bosennya Aku ingetin kalian untuk bantu dukung karya ku 😊 hihi 😁 gak salah kan?
Yang udah baca dan yang udah setia nungguin aku up makasih banget 🙏 maaf masih banyak ngecewain kalian 🙏
Tapi tetep pembaca yang bijak akan tinggalkan jejak setelah dirinya membaca 🤭
See you 😘
__ADS_1