
Hari semakin sore
Setelah perdebatan panjang antara Rifqy dengan Dimas tadi sewaktu baru saja Rifqy masuk ruangannya yang sudah 1 bulan ini di tinggalkan. Kini mereka berdua masih sama-sama larut dalam pekerjaan yang saat ini sedang mereka kerjakan.
Rifqy melirik arloji mahalnya yang terpasang di tangan sebelah kiri untuk tau jam berapa sekarang ini. Dan ternyata sekarang sudah pukul 3 lewat 15 menit, sebentar lagi waktunya Sholat Ashar pikir Rifqy
Astagfirullah!! berkas yang harus aku periksa masih terlalu banyak, padahal selama satu bulan ini aku selalu minta Dimas untuk kirim file-file yang menyangkut Rumah Sakit dan Raustarant lewat E-mail tapi kenapa aku harus periksa lagi!! Huhhh. Gerutu Rifqy di dalam hati. Dia menarik nafasnya pelan lewat hidung dan menghembuskan lewat mulut dengan kasar agar bisa mengurangi rasa lelah yang mulai melanda dan rasa pusing yang seketika menghampirinya.
Tapi dia merasa belum puas kalau belum memeriksanya sendiri dari data diri dan riwayat penyakit dari pasien-pasien barunya.
Rifqy menutup map yang berisi data pasien barunya, dia beranjak dari kursi kebesarannya berjalan keluar namun langkahnya terhenti saat Dimas memanggilnya
"Rifqy mau kemana lo?" Tanya Dimas penasaran
"Ke Mushola Rumah Sakit, sebentar lagi Adzan jadi mau siap-siap Sholat Ashar dulu baru nanti lanjut lagi" Jawab Rifqy dan langsung meninggalkan Dimas seorang diri di ruangannya
"Qy, gua ikut!" teriak Dimas agar Rifqy menunggunya tapi Rifqy seolah tak menggubris panggilan dari sahabatnya itu
"****** lo! tungguin gua!" umpat Dimas yang geram dengan perilaku Rifqy
Sesampainya di Mushola Rumah Sakit, Rifqy berwudhu di tempat wudhu sebelum masuk kedalam dan di ikuti oleh Dimas yang juga berwudhu terlebih dahulu.
Setelah berwudhu Rifqy berjalan ke arah tempat imam sholat, dia meraih Mix agar dia bisa mengajak semua orang Muslim dan Muslimah yang mendengar untuk Sholat berjamaah di Mushola tersebut. Memang sudah kebiasaan bagi Rifqy yang mungkin sudah jadi kegiatan rutinnya jika belum ada yang Adzan maka dia akan mewakilinya.
***
Selesai Sholat Rifqy dan juga sahabatnya kembali ke Rumah Sakit, kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda
"Lo bilang gak ada pekerjaan! tapi ini apa? kerjaan juga kan?" Rifqy mendengus kesal saat Dimas mengatakan kalau hari ini tidak ada pekerjaan untuknya
Dimas terkekeh
"Habisnya lo ****** banget, udah 1 bulan nikah tapi lo belum juga cicipin tuh istri lo!" jawab Dimas sambil menahan tawanya melihat wajah kesal Rifqy saat ini
"Bulan ini gajih lo gua potong!!" Ancam Rifqy yang semakin geram karna terus saja Dimas mengejeknya
"Wett Wett Wettt, gua becanda kali" menetralkan suasana karna takut ancaman Rifqy benar-benar terjadi
__ADS_1
****** gua! niatnya mau godain pengantin baru ehh malah gua yang kena imbasnya. Gua harus bisa nih rayu Rifqy biar dia gak potong tuh gajih gua, kan sayang kalo sampe gajih gua yang gede itu kepotong walau cuma beberapa persen doang. Gumam Dimas memikirkan cara apa yang harus dia lakukan agar gajihnya tidak di potong
" Ayolah Qy, gua minta maaf lah udah buat lo jengkel. Janji deh gaka akan ulangin lagi! suerr" mengacungkan dua jarinya ke depan agar Rifqy percaya kata-katanya
Rifqy tersenyum miring
"Oke, gua gak akan potong gajih lo" sebenarnya Rifqy gak bener-bener kesal, dia cuma mau balik ngejahili Dimas yang menurutnya terlalu cerewet hari ini. Ya mau bagaimana lagi cuma ancaman potong gajih lah yang ampuh untuk membuat mulut Dimas diam dan tertutup, tidak banyak bicara. Dia sudah cukup pusing dengan pertanyaan-pertanyaan Dimas ketika Dia baru saja masuk.
Hening sudah setelah ancaman Rifqy tadi kepada Dimas, mereka berdua sekarang sudah kembali berkutik dengan map map dan map yang berisi data diri pasien.
Sampai jam 19.45
Ohh iya, aku harus hubungi Syasya sebentar, karna aku mungkin pulang larut malam biar dia gak nungguin aku. Ucap Rifqy yang langsung merogoh saku celananya yang terdapat Smartphone disana
"Assalamualaikum" Salam Rifqy setelah orang yang di telpon di sebrang sana mengangkatnya
". . . . ."
"Iya, aku belum pulang. Kamu udah Sholat Ashar?" tanya Rifqy basa basi
". . . . ."
". . . . ."
"Sekali lagi maaf ya? Aku mungkin akan pulang larut jadi kamu jangan tungguin aku, kamu langsung tidur aja" sebenarnya Rifqy gak tega mengatakan ini sama istrinya apalagi terdengar sekali kalau dia kecewa tapi tetap di tutupin agar Rifqy tidak khawatir
"Ya udah aku tutup dulu ya? aku lanjut kerja dulu. Assalamualaikum" Ucap Rifqy mengakhiri panggilan
***
Di Rumah Rifqy
Terlihat ada gadis yang sedang kecewa karna habis mendengar kalau suaminya pulang larut, mau tak mau dia harus menuruti apa yang di katakan oleh suaminya.
Setelah Sholat Isya Bela memutuskan untuk duduk di tepian ranjang
"Huhh baiklah tak apa, wajarkan kalo dia sibuk kan udah 1 bulan ini dia gak ke Rumah Sakit. Oke ayo tidur sya." ucap Bela menyemangati dirinya sendiri
__ADS_1
Akhirnya setelah lama Bela berjaga, dia tertidur juga karna terlalu lelah.
***
Rumah Sakit
Saat malam sudah semakin larut tiba-tiba Rifqy merasakan rindunya kepada istrinya, sejenak dia memijat pelipisnya untuk menghilangkan pusing karna memang sejak tadi yang Rifqy pikirkan hanya Bela Bela dan Bela istrinya.
"Lo kenapa Qy? lo sakit?" tanya Dimas yang khawatir melihat laki-laki itu memijat pelipisnya
"Gua gak papa, gua cuma kepikiran aja sama istri gua, dia sendirian di Rumah sekarang"
"Hah.. kenapa lo gak bilang dari tadi sih? huhh **** lo? kita pulang aja, lanjut besok. Lagipula ini udah larut malem, udah mau jam 10 malem juga" melirik arloji di tangan nya
Rifqy menghembuskan nafasnya kasar sebelum beranjak dari duduknya
"Oke" nyelonong pergi begitu saja
Sampai di rumah ternyata pintunya di kunci oleh Bela, karna tak mau mengganggunya tidur Rifqy membuka dengan kunci duplikat yang memang selalu di bawanya kemana-mana.
Rifqy berjalan menaiki tangga dengan cepat, rasanya dia sudah tak sabar melihat istrinya untuk menghilangkan rasa rindu.
Ceklek (pintu terbuka)
Terlihat Bela sudah tertidur meringkuk di bawah selimutnya, perlahan tapi pasti Rifqy berjalan kearahnya.
Maaf aku gak becus jagain kamu, sekarang aku malah lebih mentingin kerjaan aku daripada nemenin kamu. Maaf maaf maaf. Gumam Rifqy pelan saat memandangi wajah istrinya.
Lama sekali dia memandangi wajah istrinya yang terlihat polos saat sedang tidur. Dia meneliti wajahnya dari mulai kening, alis, mata, bulu mata, hidung yang kecil, beralih ke pipi.
Kegiatan Rifqy yang membuat Bela menggeliat tapi tak kunjung bangun.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...!
Maaf ya banyak typo 🙏