
Disinilah tempatnya!
Di taman bunga yang berada di belakang Rumah Sakit. Taman Bunga itu memang Rifqy peruntukan untuk Istrinya. Ya, Bela! siapa lagi?
Taman yang sengaja Rifqy buat untuk Wanitanya! wanita yang sangat ia cintai dan ia sayangi sepenuh hati. Wanita yang telah merebut posisi kedua setelah Bundanya di dalam hatinya. Wanita yang merenggut perhatian yang hanya ingin ia peruntukan untuknya saja. Wanita yang sangat berharga setelah Bundanya. Wanita wanita wanita yang apalah!
Tentu saja itu membuat Bela terenyuh. Hatinya berbunga - bunga, perutnya seakan banyak kupu - kupu yang beterbangan keluar sehingga seketika itu juga dapat menggelitik, Bela sangat - sangat bahagia!
Bela merasa menjadi wanita yang sangat beruntung di dunia ini memiliki Suami yang sangat perhatian dan selalu mengutamakan dirinya di banding diri pemuda itu sendiri.
Rifqy melengkungkan kedua ujung bibirnya membentuk senyuman.
Senyuman menawan yang membuat Bela serasa tak ingin mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Kamu seneng?" tanya Rifqy seraya berlutut dihadapan Wanitanya yang sedang duduk di atas kursi roda.
Wanita bercadar hanya membalas dengan senyuman sumringah di balik cadar yang ia pakai, diikuti dengan anggukan kepala yang sangat yakin.
Sebagai seorang Suami 'pun Rifqy sangat senang melihat Istrinya juga senang hanya dengan hal - hal seperti ini.
"Coba liat geh, Kak!" tangan mungil milik Bela menunjuk sebuah bunga anggrek berwarna putih yang bermekaran disana.
Pandangan mata Rifqy 'pun mengikuti arah tangan milik Istrinya.
"Itu Bunga Anggrek! kamu mau aku ambilin?!"
"Boleh." ungkap Bela singkat.
Ya, begitulah Rifqy!
Selalu mengutamakan keinginan dari Wanitanya.
Dengan langkah lebar Rifqy berjalan menuju bunga Anggrek itu berada.
"Kak?" tiba - tiba suara Bela mengagetkan Rifqy yang sedang mencoba memetik bunga.
"Hemm..." hanya gumaman lah yang menjadi jawaban.
"Emang disini gak ada yang berkunjung ya?" kepalanya terus menoleh kesana kemari mencari keberadaan orang lain, selain dirinya dan sang Suami.
Dimanakah gerangan?!
"Kenapa? kok kamu nanya gitu?" apa ini? pertanyaan dijawab dengan pertanyaan.
"Heran aja" ketus Bela, ia paling sebal kalau bertanya bukannya menjawab malah bertanya kembali.
"Heran?" beo Rifqy.
"He.em..."
"Heran kenapa?" matanya menyorot Bela. bingung!
Bola mata gadis bercandar itu seketika memutar malas. "Soalnya gak ada orang lain selain kita."
"Ada kok!" loh ada? apa? mana? dimana ada orang? begitulah pikiran Bela mendengar jawaban Suaminya.
"Mana?" kalau dibilang penasaran, ya iya lah!
"Itu..." menunjuk pada banyaknya orang berbaju pasien yang sedang bercengkrama dengan seseorang berpakaian putih dan bertopi di kepalanya.
"Oh iya. Hehe aku gak liat." Bela tergelak sendiri mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Nih.."
Matanya berbinar. "Wahhh..." senyumnya kembali sumringah saat rangkaian berbagai Bunga yang Rifqy buat secara mendadak terpampang nyata di depan matanya.
"Makasih..."
Pemuda keturunan Arab - Indo itu hanya bisa menggeleng kepala. Hanya dengan hal kecil seperti ini sudah membuat dia bahagia pikiran Rifqy melayang.
__ADS_1
Saat sedang asyik - asyiknya bercanda tawa dengan sang Suami. Tiba - tiba sebuah suara yang terdengar cempreng mengalihkan perhatian Bela.
"Syasya ku Bebeb ku!" suara yang tak asing di telinga Bela. Tapi siapa?
Dahi Rifqy sudah berkerut membentuk lipatan, telinganya sudah panas mendengar panggilan orang lain kepada istrinya yang terdengar mesra, matanya menatap Bela seakan mengatakan siapa?. Ya ampun Akak Rifqy mulai cemburu!
Bela menoleh ke belakang, tapi mulutnya tetap bungkam belum menyahut.
"Ya ampun Beb! kamu kenapa?" ada nada kekhawatiran disana. Tak lama seorang gadis berhijab dengan pemuda di belakangnya menghampiri Bela.
"Sil..?" belum yakin tapi bibirnya meluncur begitu saja menyebut nama. Seakan sudah fasih.
"Iya, Beb ini aku!" tangannya merengkuh tubuh Bela yang sedang duduk di atas kursi roda, sehingga membuat gadis itu sedikit membungkuk.
Bela tersenyum dibalik cadarnya, tangan mungil Bela mulai membalas rengkuhan dari seorang Sahabat lama.
Ya, gadis itu adalah Sahabat lama Bela yang sekarang sudah menikah. Itu yang membuat keduanya jarang bertemu.
"Apa kabar?" basa - basi kan perlu. Namun pertanyaan Bela benar - benar tulus.
Gadis berhijab yang diketahui Sahabat lama Bela bernama Silvia itu mulai berlutut.
"Eh, jangan!" cegah Bela tapi tak dihiraukan oleh Silvia.
"Kamu kenapa? hem?" tangannya menyentuh seluruh badan Bela guna untuk mencari tahu ada apakah sebenarnya Sahabatnya ini?
"Wajah kamu pucet banget, Beb." kekhawatiran gadis berhijab di depannya malah membuat Bela terkekeh pelan.
"Ehh..." kata - katanya terhenti. "Kamu ini benar - benar ya? kenapa kamu tertawa?"
Bela hanya menggedikkan kedua bahunya acuh, tak berniat memberi penjelasan.
"Kamu ngapain disini?"
Silvia menggerutu tak jelas sebelum menjawab. "seharusnya kan aku yang tanya kaya gitu."
"Aku?" menunjuk dirinya sendiri.
Bela mengangguk mengiyakan.
"Kamu dulu! kamu kenapa? kenapa bisa kaya gini?"
"Aku gak papa."
"Bohong!" sejauh mana Bela mengelak tetap saja Sahabatnya ini tahu kalau Bela kenapa - napa bukan gak apa - apa.
"Drop?" tebakannya seratus persen benar. Itu yang membuat raut wajah Rifqy semakin kebingungan.
"Iya." singkat padat dan jelas.
"Sudah ku duga!
Terus gimana kamu udah mendingan kan?" pertanyaan yang masih menyiratkan kekhawatiran.
Bela mengangguk. "Kamu belum jawab pertanyaan aku loh."
"Aku, ya gimana ya?" rona merah di wajah gadis yang diketahui Sahabat lama Bela ini mulai muncul. Pake malu - malu kucing.
"Ya gimana?" tanya Bela.
"Aku habis dari Dokter kandungan." ungkap Silvia kepada Bela.
"Ngapain?" pertanyaan konyol.
"Ya apa lagi?" mulai deh membuat teka - teki pikir Bela.
"Kamu hamil?" tebakan yang tepat!
Silvia menjentikkan jarinya pertanda kalau itu benar. "Top cer! itu bener." suaranya sungguh membuat Bela mengusap telinga.
__ADS_1
"Apaan sih? kaget saya bung."
Silvia terkekeh. "Kamu gimana?" pertanyaan Sahabat Bela ini membuat raut wajah Rifqy menjadi pias.
"Aku?"
"Iya lah"
"Aku emang kenapa?"
"Ih otak kamu itu emang gak nyambungan ya" ejekan yang memang sedari dulu di ucapkan oleh Silvia, selaku Sahabat Bela.
"Ya apa geh? kok jadi aku?" Sebenarnya Bela memang sudah tahu apa maksud pertanyaan dari sang Sahabat, tapi Bela mencoba untuk mengelak.
"Kamu udah ngisi belum? udah hamil belum? maksudnya udah telat datang bulannya gitu? kalo telat kan berarti hamil." pertanyaan beruntun itu membuat Rifqy semakin pucat pasi.
"Udah berapa bulan?" Bela mencoba untuk mengalihakn pembicaraan.
"Masuk 16 minggu."
"Wah, selamat ya?"hanya ucapan ini lah yang bisa menyelamatkan Bela dari pertanyaan Sahabatnya ini. "Sebentar lagi jadi Ibu, dan Aku udah mau jadi Aunty dong."
Silvia mencoba menatap Bela dengan serius. "Iya sebentar lagi kamu akan jadi Aunty! tapi apakah gak sebaiknya kalo di perut kamu ini juga ada janin kaya aku."
"Hehehe... Belum waktunya mungkin."
"Sya?"
"Iya..."
"Kamu harus sembuh! supaya kamu bisa secepatnya mengandung darah daging kamu, supaya perut kamu ini ada isinya, supaya kamu bisa ngerasain yang namanya Morning Sickness."
"Iya bawel."
"Jangan iya iya aja, kamu harus sembuh pokoknya!"
"Hemm..." diiringi dengan anggukan kepala.
"Udah belum? kita kan mau pergi?" suara pemuda di belakang Sahabat Bela yang Bela tahu adalah Suami Silvia mengalihkan pandangan keduanya.
"Oh iya apa kabar, Don?" basa - basinya beralih ke Suami dari Sahabatnya.
"Baik." tersenyum seraya menjawab.
"Aku pulang ya? kebetulan ada acara di Rumah Mertua jadi gak bisa lama - lama."
"Heleh! udah lama juga."
Silvia terkekeh. "Kamu harus sembuh! inget aku akan chat kamu nanti.
Bela hanya mengangguk.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikummussalam..." jawab Rifqy dan Bela kompak.
***
"Istirahat ya? kamu pasti capek?" hanya anggukan yang bisa Bela berikan sebagai jawaban.
"Aku disini, jangan khawatir." Rifqy tahu betul apa yang membuat Bela berubah diam, kalem seperti sekarang.
.
.
.
Bersambung...!
__ADS_1