
"Saya tau dari mimpi saya, Saya ingin menikahi kamu karna Allah" Jawab Rifqy dengan tenang
"Huhhh, bagaimana bisa Kamu ingin menikahi gadis yang bahkan belum Kamu kenal sebelumnya?" cibir Bela seraya dengan senyum mengejek Rifqy
"Dan Kamu bilang kamu tau Saya dari mimpi Kamu! apakah mimpi Kamu ada wajah Saya? Hahh!" bentak Bela dengan menatap sinis ke arah pemuda yang ada di depannya itu. Bela semakin kesal dengan niat baik Rifqy yang ingin menikahinya, Dia belum siap kalau harus meninggalkan orang tuanya sendiri apalagi setelah kejadian 9 tahun yang lalu itu mampu membuatnya trauma untuk menjalin hubungan dengan seorang laki-laki.
"Sabar dulu Nak, jaga bicara Kamu kepada tamu Kita? Kita bisa bicarakan ini dengan kepala dingin bukan dengan marah-marah seperti ini. Gak baik berbicara tidak sopan seperti itu Nak!" cetus Ibu mengelus-elus pundak Bela seraya menenangkan Bela yang sempat emosi itu.
Ibunya sangat tahu dan sangat hafal sifat anak gadis semata wayangnya itu, memang kalau sudah emosi maka hanya dengan pelukan kehangatan yang mampu meredam amarah anaknya bukan dengan balik membentaknya. Ibu Bela sudah curiga sejak lama, kenapa Anak Gadisnya bisa berubah menjadi emosian selama 9 tahun ini?.
Bela yang dulunya ceria, lemah lembut dan juga sering bermanfaat-manja pada Ayah maupun pada Ibunya itu berubah 180 derajat selama 9 tahun ini terakhir, menjadi anak yang pendiam, kasar, emosian, gampang tersinggung maupun tak dapat meredam emosinya sendiri dan tidak manja seperti dulu lagi. Tapi tetap kasih sayangnya kepada orang tua tidak hilang sedikitpun walau sifat yang dulu telah berubah.
Sebenarnya ada masalah apa yang berusaha untuk di sembunyikan oleh Putrinya? entahlah! hanya Ibu Bela hanya bisa membatin tanpa berani untuk bertanya lebih jelas duduk permasalahan pada Putrinya itu.
"Tapi Bu, dia itu aneh. Dia gak kenal Syasya tapi kenapa Dia ingin menikahi Syasya? Syasya gak mau Bu, Syasya belum siap untuk itu" sahut Bela lirih sambil menunjuk-nunjuk Rifqy
Ibu Bela langsung memeluk anaknya untuk bisa menenangkan
"Aku gak akan menikahi Kamu besok, Kita bisa Ta'aruf terlebih dulu" usul Rifqy memberi solusi untuk masalah ini. Ia tidak pernah berfikir kalau tekatnya malah akan menimbulkan keributan seperti ini
"Saya gak tau" Jawab bela ketus
"Maafkan Anak Ibu ya Nak?" Ujar Ibu menatap Rifqy dengan hangat
"Ibu apaan sih? kenapa Ibu minta maaf sama Dia? Dia yang salah! kok malah kita yang minta maaf" cetus Bela begitu saja saat mendengar Ibunya meminta maaf pada Pemuda yang bahkan belum di kenalnya sama sekali itu.
"Nak pikirkan ini baik-baik. Umur Kamu sudah 24 tahun Nak, Bapak sama Ibu semakin hari semakin tua dan tidak akan bisa menjaga Kamu setiap saat" Bapak bela ikut membujuk
"Pak Syasya gak tau, Syasya belum siap untuk
menikah Pak, Syasya masih ingin bahagiakan Bapak sama Ibu" Ucapan Bela sendu di dalam pelukan Ibunya yang entah kapan air matanya telah lancang keluar dari persembunyiannya
"Nak, Kami bahagia jika Kamu bahagia. Kamu sudah sangat membahagiakan Kami Nak. Kami sangat menyayangi mu, Terimalah dia Nak" Ibu ikut membujuk dengan memeluk Bela
Bela sedikit berfikir sejenak
__ADS_1
"Baiklah Saya akan menjalani Ta'aruf dengan Kamu, tapi bukan berarti Saya menerima Kamu sebagai calon suami Saya! Jika cocok saya akan menerima Kamu menjadi suami Saya" Bela menyetujui Ta'aruf yang di ajukan Rifqy kepadanya dengan kata-kata yang tak bersahabat
"Pak Bu, Bela ingin bicara empat mata dengan Kak Rifqy" Lanjut Bela bicara kepada Orang tuanya
"Baiklah Nak, Kami kedalam dulu. Kalian bisa bicara berdua" jawab Bapak Bela menggandeng tangan Ibu untuk pergi
Bapak dan Ibu Bela berjalan menuju belakang
****
Setelah Orang Tuanya pergi
"Apa maksut Kamu ingin menikahi Saya? dan apa maksut Kamu juga bahwa Saya ada dalam mimpi Kamu?" Bela bertanya karna penasaran dengan kata-kata Rifqy di awal tadi
"Saya ingin menikahi Kamu karna Allah. Dan benar Kamu adalah gadis yang selama ini ada dalam mimpi Saya" jawab Rifqy memandang Bela tanpa henti dengan tatapan kagum walau tadi telah marah-marah seperti itu.
"Sejak kapan? sejak kapan Saya ada di mimpi Kamu?" tanya Bela lagi menggebu-gebu, emosinya seakan tidak bisa di atur karna memang setelah kejadian beberapa tahun silam Bela menjadi pribadi yang sedikit tempramental.
"Sejak lama. Sejak 11bulan yang lalu setelah Saya kecelakaan" sahut Rifqy tak bergeming, masih sabar menjawab pertanyaan yang di lontarkan Bela kepadanya
"Kecelakaan hebat yang membuat ku bertemu dengan gadis berhati mulia, Ya Dia gadis penolongku. Aku meminta petunjuk kepada Allah dengan menjalankan Sholat Istikharah. Apa benar dia jodohku yang engkau pertemukan dalam keadaan Aku kecelakaan. Dan benar dalam mimpi ku berkali-kali selalu ada nama Kamu Aulia Syasya Bela dalam waktu 11 bulan ini, hanya ada 1 kali mimpi yang ada wajah Kamu. Wajah yang selalu Aku kagumi dan Aku rindukan itu." Jawab Rifqy tak lepas untuk memandang Bela lekat
"Apa maksut Kamu? Apa Kamu pemuda itu? Bagaimana Kamu bisa tau wajah Saya? Saya memakai cadar?" Ucap Bela sedikit penekanan di akhir kalimat
"Tapi waktu kecelakaan itu apa Kamu memakainya? tidak Bela! Kamu tidak memakainya dan bahkan Kamu meninggalkan foto Kamu dengan bertuliskan nama Kamu di meja nakal Rumah Sakit.
Ya memang benar Akulah pemuda itu"
"Atau jangan-jangan Kamu ingin menikahi ku hanya karna Kamu ingin balas budi kepada ku saja" hardik Bela dengan memincingkan matanya
Rifqy menyengit dengan menyatukan alisnya mendengar penuturan Bela yang tidak masuk akal
"Tidak, Itu tidak benar" seraya geleng-geleng kepala dengan mantap
"Aku tidak butuh balas budi! jika Kamu menikahi ku untuk balas budi kepada ku saja" ketus Bela memalingkan wajahnya ke arah lain
__ADS_1
"Tidak, Aku ingin menikahi mu karna Allah bukan karna balas budi kepada mu" masih berbicara apa adanya tanpa ke pura-puraan
"Baiklah Aku terima alasan Kamu kenapa ingin menikahi ku?" sahut Bela mengalah
"Boleh Aku meminta kontak nomor Kamu? Aku hanya ingin tau tentang Kamu lebih jauh" lanjut Bela menyerahkan ponselnya kepada Rifqy
"Baiklah, Dengan senang hat" Rifqy tersenyum dan mengetikkan nomor ke ponsel Bela
Rifqy menyerahkan ponselnya kembali kepada pemiliknya
Drrrttt Drrrttt Drrrttt
(ponsel Rifqy bergetar)
Rifqy menyengit ada nomor baru yang memanggil
"Itu nomor Aku, simpen ya? kalo Aku butuh Kamu Aku akan hubungin Kamu" Ujar Bela
"Iya bela" Jawab Rifqy
Di saat Rifqy dan Bela sedang asyik mengobrol, Bapak Bela muncul
"Nak apa Bapak boleh ngobrol dengan Nak Rifqy, Banyak yang ingin Bapak tanyakan kepada Nak Rifqy?" tanya Bapak pada Bela
"Iya pak, boleh" jawab Bela yang langsung meninggalkan dua orang pria tersebut
.
.
.
Bersambung...!
mohon dukungannya ya gaess 😉
__ADS_1