
"Itukan Nana, Istri nya si pak boss" Seru seseorang yang baru saja datang kerestoran itu. Ia semakin mendekat untuk melihat apakah itu benar-benar istri sahabatnya atau tidak.
"Iya, itu memang benar nana. Tapi ngapain dia ada disini ? Terus siapa laki-laki itu ? Kayaknya bukan zayyan deh" Gumamnya lagi.
"Ah mungkin itu adalah temannya" Tebak laki-laki itu. Ia terdiam sejenak seakan memikirkan sesuatu. Tak berapa lama ia mempunyai sebuah ide. Laki-laki itu mengeluarkan ponsel canggihnya dari saku celana.
"Lebih baik gue fotoin aja tuh nana sama cowok itu, terus nanti gue kirim ke zayyan. Biar kebakaran jenggot tu si zayyan. Lagian gue juga pengen lihat bagaimana reaksinya si pak boss kalau lihat foto istrinya berduaan sama cowok lain" Ucapnya sembari mengambil beberapa foto dari jarak yang cukup jauh.
"Selesai.. Sekarang tinggal kirim aja"
π© [Sebuah Foto]
π© Lihat tuh broo, istri lo. Saran gue ni sebagai sahabat lo, mendingan lo cepat-cepat deh bawa istri lo balik sebelum terlambat dan dibawa pergi sama cowok lain. Memangnya lo rela kehilangan istri lo ? Udah lah jangan ngengsian dan egois, gue tau lo udah cinta sama istri lo. Tapi lo hanya ngengsi untuk mengakuinya. Gue ngak mau lo menyesal dikemudian hari disaat dia benar-benar pergi dari hidup lo.~ Raka
Iya, yang mempunyai ide buat kerjain zayyan adalah si Raka, sahabat zayyan sendiri. Habisnya raka juga kesal saat mendengar cerita dari juna tentang masalah dalam rumah tangga sahabatnya itu.
"Rasain tuh.. Habis nya gue juga kesel sama lo, masa iya punya istri cantik dan cerdas kayak gitu disia-siain" Gerutu raka.
Tak lama sebuah pesan pun masuk di hp nya zayyan, ia melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
"Raka" Ucap zayyan menyipitkan matanya. "Gambar apa yang dia kirimkan" serunya dengan penasaran. Laki-laki itu kemudian membuka pesan yang dikirimkan oleh sahabatnya itu. Matanya membulat tak kala melihat gambar yang dikirimkan, dada nya begitu sesak dan begitu sakit seperti dihujam oleh ribuan anak panah yang runcing. Amarah nya membeludak hingga menghempaskan barang-barang disekitarnya. Sepertinya laki-laki itu sangat marah dan cemburu melihat istrinya bersama laki-laki lain.
Namun tangannya bergerak membuka pesan lain yang dikirim kan oleh raka. Ia membaca kata demi kata dan kalimat demi kalimat di dalam pesan itu. Hatinya terenyuh setelah membaca itu. Ia berusaha bertanya dan memahami hatinya sekarang.
"Kenapa rasanya begitu sesak melihat dia bersama laki-laki lain ? Kenapa rasanya begitu sakit melihat dia tertawa bahagia dengan pria lain ? Kenapa aku marah melihat itu semua ? Kenapa hatiku seakan tidak terima dengan semua itu"
"Apa mungkin yang dikatakan oleh raka dan orang-orang itu benar ? Apa aku sudah mulai mencintai dia ?" Tanyanya pada dirinya sendiri.
"Aku rasa benar. Aku memang mencintainya. Aku tidak mau dia meninggalkan ku. Dia harus selalu bersama ku, berada disisi ku"
"Kerena dia adalah istriku, dia adalah ibu dari anak ku, dia adalah cinta ku, dan dia adalah milik ku. Iya benar, nana hanya akan menjadi milik zayyang" Ucapnya.
Laki-laki itu tersenyum setelah menyadari perasaannya. Ia sadar, tidak seharusnya ia bersikap seperti itu pada wanita yang kini mengandung anak nya. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan memperbaiki semua kesalahannya.
"Aku akan menjemputnya besok dirumah papa" Ucapnya lagi.
πΏπΏπΏ
__ADS_1
Setelah menikmati makan siang tadi, nana segera pulang kerumahnya. Ia duduk diatas tempat tidurnya sembari memengang ponselnya. Wanita itu kini tengah melihat foto-foto pernikahannya dengan zayyan serta melihat foto kenangan mereka saat bulan madu di negara kincir angin dan negara paman sam.
Tiba-tiba wanita itu mengelus perut ratanya, "Apa kau merindukan ayah mu nak ?" Tanya nana pada perutnya.
Wajahnya berubah sendu, mata nya mulai berkaca-kaca. "Mommy juga merindukan ayahmu" Ucapnya lagi.
"Tapi dia tidak merindukan kita, bahkan tidak menginginkan kehadiran kita" Airnya matanya tak lagi mampu dibentung. Butiran kristal itu akhirnya jatuhnya. Hatinya kembali sesak dan sakit mengingat hari itu.
"Maaf kan mommy karena tidak bisa membuat mu dekat dengan ayah mu. Maaf karena telah membuatmu kehilangan kasih sayang dari ayahmu"
Tanpa diketahui nana, ternyata ada sosok lain yang tengah melihatnya saat ini. Ia juga begitu sedih melihat nana menderita seperti ini. Hatinya ikut hancur melihat wanita yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri.
Pintu tiba-tiba terbuka. Wanita itu masuk kedalam kamarnya nana lalu menghampiri wanita yang saat ini tengah mengandung itu. "Zizi" Ucap nana. Iya, wanita itulah zizi sahabatnya nana. Wanita yang terlihat acuh namun sebenarnya sangat peduli. Tanpa diketahui orang-orang, ia sering menangis disaat sendiri, ia begitu sedih melihat sahabatnya seperti ini. Ia ikut menderita dengan penderitaan nana, ia juga terluka saat melihat nana terluka. Karena ia menyayangi nana seperti seorang saudara.
Gadis itu langsung berhamburan kepelukan nana. Air mata nya lolos dari pelupuk matanya. Isak tangisnya terdengar begitu pilu. "Kenapa menangis ?" Tanya nana sembari mengelus lembut kepala zizi.
"Aku tidak tahan lagi melihat mu seperti ini. Kau tau aku begitu terluka saat melihat kau terluka. Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan untuk mengurangi luka mu itu ?" Seru zizi dengan isak tangisnya.
"Jangan menangis lagi. Aku tidak apa-apa" Ucap nana dengan senyum yang terkesan terpaksa.
"Nana.. Aku mohon ikutlah dengan ku. Aku akan membawamu pergi jauh dari laki-laki brengsek itu. Tidak akan ku biarkan lagi dia menyakiti mu. Aku janji akan selalu menjagamu dan bayi ini" Seru zizi dengan serius. Nana terdiam, sejujurnya ia tidak tau harus berbuat apa. Haruskah ia menerima tawaran sahabatnya itu ? tapi mungkin memang benar, pergi adalah salah satu cara terbaik untuk menata kembali hatinya saat ini.
"Baiklah.. Aku akan temui dirimu besok pagi-pagi sekali" Jawab nana yang diangguki oleh zizi.
πΏπΏπΏ
Pagi telah tiba, mentari telah menampakkan senyumnya diatas cakrawala sana. Wanita paruh baya itu berjalan kearah kamar putri bungsunya.
Tokkk.. Tokkk.. Tokkk..
"Sayang apa kau sudah bangun ?" Panggil mama yanti dari luar. Namun tidak ada jawaban dari dalam. Tidak putus asa, mama yanti terus saja mengetuk pintunya.
"Nana.. sayang, apa mama boleh masuk ?" Panggil mama yanti lagi. Namun masih tetap tidak ada jawaban. Tanpa menunggu lagi, mama yanti langsung membuka pintu kamar itu. Tapi dia tidak menemukan siapa pun didalam kamar itu.
"Kemana nana ?" Seru mama yanti.
"Nanaaa.. Sayang, kau dimana ?" Panggil mama yanti sedikit berteriak. Tapi tetap saja tidak ada jawaban. Matanya menangkap sebuah kertas yang terdapat diatas nakas sebelah tempat tidur itu. Tangannya bergerak mengambil kertas itu.
__ADS_1
Selamat pagi mama...
Selamat pagi papa..
Maaf karena pergi tanpa pamit terlebih dahulu.
Nana pergi ma, pa.. Ketempat yang jauh dan tidak diketahui oleh semua orang.
Maaf karena meninggalkan kalian semua, tapi nana perlu waktu untuk kembali menata hati.
Kalian tidak perlu khawatir, nana akan baik-baik saja demi kalian. Nana juga akan selalu menjaga menjaga bayi ini.
Tidak perlu mencari nana, karena nana sendiri yang akan kembali jika hati ini telah sembuh dari lukanya.
Salam sayang,
Putrimu, Nana βΊ
Membaca itu, kaki mama yanti pun melemah. Ia terjatuh kelantai dengan air mata yang mengalir dengan begitu deras. Papa dion yang mendengar teriakan dan tangis mama yanti pun segera berlari keatas menuju kamar nana.
"Ada apa ma ?" Tanya papa dion panik melihat istrinya menangis.
"Lihat ini pa" Ucapnya memberi surat itu. "Putri ku telah pergi meninggalkan ku. Dia pergi membawa cucuku juga. Dan aku tidak tau dia ada dimana sekarang" Ujar mama yanti dengan begitu sendu. Bahkan air matanya pun tak berhenti mengalir. Papa dion memeluk mama yanti dan ikut menangis.
"Kau tenang saja.. Aku akan mencari keberadaannya" Ucap papa dion.
"Tapi dia bilang, tidak perlu mencarinya karena dia akan pulang sendiri setelah hatinya tertata kembali" Jawab mama yanti masih dalam tangisnya.
To be continue.. π
Maaf ya, ceritanya ngengantung karena author ngak tau mau nulis apa lagi. Besok author lanjut lagi ya updatenya..
Jangan lupa untuk kasih Vote, Like dan Koment ya.
Terima kasih βΊ
Kerinci, Jambi 17 September 2020
__ADS_1