Menikahi Mr. Rajendra (S1)

Menikahi Mr. Rajendra (S1)
BAB 69 Dia Istriku


__ADS_3

Pagi telah datang lagi. Mentari telah naik keperedarannya. Angin juga berhembus menambah kesan kesejukan. Kini, jam telah menunjukan pukul 07.00 Wib.


Nana tampak tengah duduk didepan meja riasnya. Menatap pantulan wajahnya dengan senyuman. Wanita itu sepertinya sedang memasang anting kesayangan ditelinganya.



Juga memoles wajahnya dengan make up yang natural seperti biasanya. Setelah itu ia segara ke wardrobe untuk mengambil salah satu pakaian dan memakainya.


Hari ini nana tampak mengenakan dress panjang berwarna putih dengan sedikit motif. Rambut yang dikuncir rendah. Dengan tas kecil berwarna merah ditangannya. Ditambah lagi dengan high heels berwarna putih.


Sungguh terlihat sangat cantik dan juga anggun.



Hari ini wanita itu akan menghadiri acara pertemuan yang diadakan oleh PERSPEBSI bersama dengan dokter bedah saraf lainnya. Pertemuan itu sendiri akan di adakan disebuah hotel bintang lima di Jakarta Pusat.


Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia (PERSPEBSI) merupakan organisasi profesi yang menghimpun seluruh dokter spesialis bedah saraf di Indonesia.


Layanan bedah saraf di Indonesia dimulai pada tahun 1948 atas inisiatif Prof.Dr. C.H. Lenshoek, seorang ahli bedah saraf Belanda, yang lahir di Semarang, Indonesia.


"Udah siap belum ? Gue mau otw nih ke rumah lo" Seru seseorang dari seberang sana setelah sambungannya tersambung.


"Udah. Gue tunggu lo dirumah ya" Jawab nana.


Tristan. Iya benar, nana akan pergi keacara itu bersama dengan dokter Tristan. Karena memang mereka memiliki profesi yang sama, yaitu sama-sama dokter saraf. Selain itu mereka juga sahabat dekat. Jadi wajar saja jika nana memilih pergi bersama dokter tristan. Dari pada sama dokter yang lain kan ? Hhhaa.


☀☀☀


Nana menuruni anak tangga satu persatu dengan langkah yang berhati-hati.


"Kamu mau kemana sayang ? Kok tumben beda dari biasanya ?" Tanya mama yanti dengan heran.


Biasanya nana tidak pernah berpakaian seperti itu jika ingin pergi bekerja di Rumah Sakit. Ia selalu memakai outfitt yang sederhana seperti dress pendek atau setelan santai saja.


Nana tersenyum. Wanita itu memang belum memberi tau pada orang tuanya kalau hari ini ia tidak masuk kerja karena ada kegiatan bersama dokter saraf lainnya di Hotel Mutiara Jiwa.


"Nana ada kegiatan pertemuan sama PERSPEBSI ma di Hotel Mutiara Jiwa" Jawab nana dengan santai.


"Oo, begitu. Kamu mau sarapan apa ?" Tanya mama yanti.


"Ngak deh ma. Nana makan roti aja, lagi malas makan ma" Jawab nana yang mendapat pelototan dari sang mama.


"Nana kamu ngak boleh kayak gitu. Sekarang itu kamu lagi hamil nak, ada kehidupan lain dirahim kamu. Jadi kamu harus memperhatikan nutrisi yang masuk dalam tubuh kamu itu" Omel mama yanti pagi-pagi.


"Tapi ma, perut nana lagi ngak enak sekarang. Pengen mual kalau makan nasi" Jawab nana dengan cemberut. "Nanti aja ya ma nana makannya. Janji deh" Ucap nana mengangkat jari tangannya hingga membentuk huruf V.


"Okee.. Awas ya kalau kamu ngak makan" Ancam mama yanti. "Mama itu ngak mau kalau kamu dan cucu mama kenapa-kenapa" Sambungnya lagi.


"Iya mama ku sayang. Siaapp" Jawab nana dengan senyuman yang menampakkan deretan giginya yang rapi dan juga bersih.


☀☀☀

__ADS_1


"Perut lo mulai membuncit ya na ?" Tristan mencoba menghidupkan suasana setelah keheningan terjadi sejak dari tadi.


Nana mengalihkan pandangannya pada perut nya yang sekarang sudah tampak sedikit membuncit. Senyumnya merekah saat tangan halusnya mengelus lembut perutnya.


"Iya nih."


"Oh iya, gimana hubungan lo sama suami lo sekarang ?" Tanya tristan dengan menatap sekilah ke arah nana lalu kembali mengalihkan pandangannya kedepan.


Nana mengangkat kedua bahunya. "Ngak tau gue" Jawab nana.


"Lo cinta ngak sama dia ?" Tanya tristan tiba-tiba.


Nana diam, tidak berniat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh sahabat nya itu.


"Kenapa diam ?" Seru tristan.


Nana mengalihkan pandangannya pada tristan hingga kedua manik mata mereka beradu. Cukup lama mereka saling pandang sebelum nana mengalihkan kembali pandangannya kedepan.


"Ngak usah dijawab. Gue tau jawabannya" Jawab tristan cepat.


"Sebagai sahabat lo, gue saranin. Lebih baik lo pertimbangin lagi deh na tentang hubungan kalian. Sampai kapan kalian mau kayak gini terus ?."


"Gue bisa lihat dari tatapan kalian, kalau kalian itu sama-sama cinta tapi hanya gengsi mengakuinya. Gue kasihan sama anak kalian. Kalau orang tuanya sama-sama egois dan memiliki gengsi yang tinggi."


"Seharusnya dia tumbuh dengan perhatian lengkap dari kedua orang tuanya. Dia butuh sosok kalian berdua."


Tristan berusaha menasehati nana agar memikirkan kembali tentang hubungannya dengan zayyan. Tristan memang mencintai nana, tapi dia tidak sekejam itu untuk memisahkan anak dari sosok ayah kandungnya. Ia tidak sekejam itu hingga menjauhkan nana dari cintanya.


"Iya, gue akan pertimbangkan. Terima kasih karena udah peduli sama gue" Jawab nana dengan tersenyum. Ia benar-benar tulus berterima kasih pada sahabat laki-lakinya itu.


☀☀☀


Tristan tampak berada agak jauh dari nana. Karena tadi laki-laki itu habis mengobrol dengan dokter lain dari surabaya. Sementara nana mengobrol dengan dokter perempuan yang merupakan kenalannya.


"Duh tristan kemana sih ?" Seru nana mencari keberadaan tristan.


Nana berjalan mengelilingi tempat itu tapi tidak menemukan keberadaan Tristan. Pikirannya pun mulai melayang-layang, apakah tristan sudah pulang duluan tanpa memberitaunya, pikir nana.


Tapi itu mungkin, tristan tidak mungkin meninggalkannya sendirian disini apalagi sampai tidak memberi taunya, sangkal nana.


Untuk membuktikan kalau pemikirannya itu salah, nana memutuskan untuk menghubungi tristan. Agar semuanya juga jelas.


Nana segera mengambil handphonenya lalu segera menekan nama yang tertera dilayar handphonenya itu My Prince.


"Hallo Tris, lo dimana sih ?" Tanya nana dengan sedikit kesal.


"Gue diluar na, lagi ngobrol sama dokter dika" Jawab tristan.


"Ihh, gue kira lo udah pergi ninggalin gue disini sendiri" Gerutu nana.


"ck..Iya ngak mungkin lah gue ninggalin lo sendirian disini" Ujar tristan berdecak mendengar omongan nana. Ya kali dia ninggalin nana disini, ngak mungkin lah, pikir tristan.

__ADS_1


"Ya udah, lo kesini dong. Gue laper nih" Seru nana dengan manjanya.


"Ya udah kamu tunggu disana ya."


Tristan segera meminta izin pada dokter dika untuk pergi duluan. Setelah meminta izin, tristan langsung menghampiri nana didalam ruangan.


"Ada apa ?" Tanya tristan saat sudah sampai dihadapan nana.


"Lo dari mana aja sih ? gue cari-cari juga dari tadi" Sungut nana.


"Kan gue udah bilang, gue tadi ngobrol sama dokter dika diluar" Jawab tristan apa adanya.


"Ya udah deh, jangan bahas itu lagi. Gue laper nih, cari makan yuk" Ajak nana.


Tristan menggelengkan kepalanya melihat tingkah manjanya nana. Apalagi nana tambah menggemaskan dimata tristan ketika sedang cemberut seperti ini.


"Ya udah yuk" Tristan langsung menarik pelan tangan nana untuk meninggalkan tempat itu. Tanpa menolak, nana langsung berjalan disamping tristan.


Mereka seperti sepasang kekasih yang sangat serasi. Orang-orang pasti akan salah paham jika tidak tau kebenarannya.


Tak berapa lama mereka sampai disebuah restoran yang berada didekat hotel itu. Mereka langsung mengambil tempat duduk yang dekat dengan taman agar bisa menghirup udara segar.


Sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang, nana dan tristan memilih mengobrol dan kadang juga tertawa jika ada yang lucu.


Namun tiba-tiba tawa mereka terhenti ketika ada seorang laki-laki yang datang kemeja mereka. Dengan memasang wajah penuh amarah


"Zayyan" Panggil nana dengan wajah terkejut melihat zayyan tiba-tiba saja ada dihadapannya.


Zayyan sebenarnya tadi ada pertemuan penting dengan kliennya di restoran ini. Tapi setelah semuanya selesai, ia tidak sengaja menangkap sosok nana sedang tertawa bersama tristan. Ia menjadi gelap mata karena cemburu melihat kedekatan istrinya dengan laki-laki lain.


Tanpa menjawab pertanyaan dari nana, ia langsung menarik tangan istrinya itu. "Zayyan lepasin tangan ku, sakit" Nana berusaha memberontak melepaskan cekalan tangan zayyan pada tangannya. Tapi ada daya, ia tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan zayyan.


Tristan tidak tinggal diam melihat nana diseret oleh zayyan. "Lepasin nana" Teriak tristan. Mendengar itu, zayyan menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya hingga kini menghadap kearah sahabat dari istrinya itu.


"Lepasin tangan lo dari tangan nana. Lo ngak berhak menyeret nana seperti ini" Seru tristan mencoba melepaskan tangan nana.


Mendengar itu, zayyan tertawa mengejek. "Ngak berhak lo bilang ? Jangan lupa dokter tristan yang terhormat, Dia adalah istri saya" Seru zayyan dengan tegas pada tristan.


"Jadi lo yang berhak melarang gue untuk bawa istri gue pergi" Zayyan sengaja menekan kata istri pada tristan. Ia seakan menekan kan dan mengingatkan pada tristan kalau nana adalah miliknya.


Setelah mengatakan itu, zayyan langsung membawa nana pergi tapi kali ini tidak lagi menariknya dengan kasar. Ia menggenggam tangan nana dengan lembut lalu segera membawanya pergi.


Sementara tristan hanya terdiam disana tanpa menghentikan lagi zayyan membawa nana pergi. Karena dia bisa melihat kesalahpahaman dimata zayyan. Dia mencoba mengerti bahwa laki-laki itu hanya cemburu melihat istrinya bersama pria lain.


To Be Continue...


Hay.. Hay.. Apa kabar semuanya ? Author update lagi nih 😍


Jadi jangan lupa untuk Vote, Like dan Koment ya kesayangan-kesayangan nya Author. Terima kasih ☺


Oh iya Author mau kasih tau, Bab selanjutnya author akan ceritain sedikit tentang perasaan zizi pada tristan. Jadi jangan pada protes ya 😁

__ADS_1


Happy Reading, Semoga Suka ❤


Kerinci, Jambi 25 September 2020


__ADS_2