Menikahi Mr. Rajendra (S1)

Menikahi Mr. Rajendra (S1)
BAB 87 Apa Kau Mencintaiku ?


__ADS_3

“Sayang, dia bergerak.” Ucap Zayyan menatap nana dengan tatapan penuh arti. Namun tangannya masih setia mengelus perut istrinya seakan merasakan kembali pergerakan anaknya didalam sana.


“Iya, dia memang sering bergerak akhir-akhir ini. Dia sangat aktif didalam sana.” Jawab Nana dengan sebuah senyuman.


Mendengar ucapan Nana, Zayyan mengangkat kepalanya agar bisa melihat wajah sang istri dengan lebih jelas. “Kenapa melihat ku seperti ?.” Tanya Nana dengan ekspresi bingung.


“Dia sering bergerak seperti tadi ?.” Tanyanya memastikan.


Nana menganggukan kepalanya, “Iya. Memang nya kenapa ?.” Tanya Nana balik.


“Dia sering bergerak seperti tadi dan kau tidak memberitau ku tentang itu ? Tapi kenapa ? Aku juga berhak tau perkembangannya. Aku adalah ayah nya sayang.” Protes Zayyan tidak terima karena Nana sama sekali tidak memberi taunya tentang perkembangan janin yang ada dirahim istrinya.


Mendengar itu nana jadi melongo. Apa itu hal penting yang harus dibicarakan juga ? Tapikan tidak mungkin aku menceritakan semuanya tentang bagaimana pergerakannya didalam sana, pikir Nana.


“Kenapa diam sayang. Aku sedang berbicara pada mu.” Kesal Zayyan.


“Tidak. Aku hanya tidak tau mau berbicara apa pada mu.” Ucap Nana. “Tapi apa itu perlu aku beritahu juga pada mu ? Rasanya tidak mungkin jika aku harus menceritakan segalanya pada mu.” Ucap Nana yang akhirnya memberanikan diri untuk berbicara pada sang suami.


“Tentu saja itu perlu. Aku adalah ayahnya, jadi aku juga berhak tau tentang perkembangannya.” Seru Zayyan. “Pokoknya aku tidak mau tau, kamu harus memberitau ku tentang segalanya.” Sambung laki-laki itu seakan tidak menerima bantahan apapun.


“Huft.. Baiklah tuan Zayyan, aku akan beritau nanti.” Nana menghela nafasnya, karena percuma saja jika dia harus membantah perkataan suaminya itu.


***


“Siapa laki-laki itu tadi ? Kenapa sepertinya mereka sangat akrab. Apa zizi mengenalnya ?.” Tanya Tristan pada dirinya sendiri.


Flashback On…


Tadi siang, ia sengaja mampir ketempat seminar untuk melihat sahabat-sahabatnya itu. Namun kerana kemacetan kota Jakarta, ia jadi terlambat. Laki-laki itu sampai saat acaranya telah selesai dan semuanya telah pulang kerumah masing-masing. Tapi ia sempat bertemu dengan Nana diparkiran tadi. Wanita itu sepertinya baru ingin pulang bersama suaminya.


“Hay na.. Hay yan.” Sapa Tristan.


Kedua pasangan itu langsung menoleh kesumber suara. “Tristan.” Seru Nana.


“Hay Bro. Wah, lo terlambat sekali datang nya, bahkan acaranya telah selesai.” Ujar Zayyan sembari menepuk pelan pundak Tristan.

__ADS_1


“Sebenarnya gue udah berangkat dari tadi. Tapi kalian tahu sendiri bagaimana jalanan dikota ini.” Keluh laki-laki itu.


“Hhhaa.. Harusnya lo berangkat dari subuh aja.” Ejek Zayyan.


“Oh iya na, Zizi dimana ? kok ngak kelihatan !.” Tanya Tristan mengalihkan topic pembicaraan mereka.


“Zizi masih didalam tuh. Tadi kita udah tawarin pulang bareng tapi dianya nolak. Katanya mau langsung kerumah sakit karena ada janji sama pasiennya.” Jawab nana apa adanya.


“Oh gitu. Yaudah deh, gue juga mau langsung kerumah sakit.” Ucap Tristan.


“Mending lo susulin deh sahabat lo kedalam. Kalau bisa sama-sama aja kerumah sakitnya.” Ujar Nana memberi saran. Ia tau akhir-akhir ini hubungan mereka akan merengang, salah satu dari mereka berusaha menjauh. Tapi Nana tidak tau pasti apa masalahnya karena tidak ada yang mau cerita.


“Ya udah, gue susulin dia kedalam dulu ya.” Seru Tristan. “Bro kalau bawa mobil hati-hati ya, awas aja kalau My Queen jadi lecet.” Sambung laki-laki itu sebelum meninggal kedua pasangan itu.


“Dia istri gue kalau-kalau lo lupa.” Teriak Zayyan tidak terima karena Tristan menyebut istrinya sebagai My Queen.


“Dan dia sahabat aku kalau-kalau mas lupa.” Ucap nana yang sengaja membuat sang suami semakin kesal.


Tristan berjalan memasuki kampus itu. Saat ia sudah mulai mendekati aula tempat dimana acara seminar itu dilaksanakan tadi, matanya tak sengaja menangkap seorang perempuan yang ia kenal sedang bersama dengan pria asing yang dimana Tristan tidak pernah melihatnya sebelumnya.


“Atau mereka baru saja kenalan tadi saat acara seminar ?.” Tebak Tristan. Entah mengapa ia menjadi sangat penasaran dengan siapa sebenarnya laki-laki yang bersama dengan zizi tadi siang.


“Tapikan tidak mungkin mereka langsung akrab jika baru saja mengenal. Lagipula zizi bukanlah tipe orang yang mudah dekat dengan orang yang baru dikenalnya.”


“Lalu mereka mau kemana tadi siang. Sepertinya mereka berencana kesuatu tempat.” Ucapnya lagi. “Tapi kenapa aku harus sibuk memikirkan itu ?.” Seru laki-laki itu lagi.


***


Masih berada didalam kamar, sepasang suami-istri itu tampak masih terjaga dengan obrolan-obrolan ringan, diselingi dengan canda dan tawa.


“Sayang.” Panggil Zayyan.


“Mmm.” Nana hanya menjawabnya sebuah deheman.


“Sayang.” Panggil Zayyan lagi.

__ADS_1


Nana menoleh kearah sang suami. “Iya, ada apa ?.” Jawab Nana kemudian.


“Panggil aku sayang dulu baru aku akan mengatakannya.”  Seru Zayyan.


Nana mengerutkan dahinya mendengar ucapan Zayyan. Apa hubungannya memanggil sayang dengan apa yang akan dikatakannya, pikir Nana. “Ayo katakan.” Desak Zayyan


“Kau ingin mengatakan apa sayang ?.” Tanya nana yang memilih menuruti keinginan suaminya itu.


Bukannya langsung mengatakan apa yang ingin dikatakannya, laki-laki itu malah tersenyum mendengar kata sayang yang diucapkan oleh Nana. “Apa kau mencintai ku ?.” Tanya Zayyan tiba-tiba.


Nana terdiam mendengar pertanyaan Zayyan. Cukup lama kebisuan itu menyelimuti mereka berdua. “Kenapa diam ? Aku bertanya pada mu.” Nana tersadar dari lamunan nya saat Zayyan kembali mengajukan pertanyaan.


“I.. Iya, mas mengatakan apa tadi ?.” Tanya Nana balik dengan gugup.


“Mas tanya, apakah kamu mencintai mas ?.” Ucap Zayyan mengulang pertanyaannya. Kali ini Zayyan menatap Nana dengan serius. Ia begitu tidak sabar mendengar jawaban dari istrinya. Namun nana masih tidak menjawab pertanyaan itu sampai detik ini. Entah apa yang dipikirkan oleh wanita itu hingga ia tidak mengatakan perasaannya yang sesungguhnya.


“Apa diam mu bisa aku jadikan sebagai jawaban ?.” Tanya Zayyan dengan raut wajah kecewa. Sepertinya laki-laki itu berfikir bahwa Nana sama sekali tidak mencintainya. Tentang memberikannya kesempatan kedua, mungkin saja itu Nana lakukan hanya demi anak yang ada dalam kandungannya, Pikir Zayyan.


“Seorang wanita tidak akan pernah memberikan tubuhnya pada laki-laki yang tidak memiliki tempat dihatinya, sekalipun itu adalah suaminya sendiri.” Seru Nana. Ia menjawab tapi seolah memberikan teka-teki pada laki-laki yang telah menghamilinya itu.


“Maksud kamu ?.” Tanya Zayyan bingung.


Nana tersenyum lembut sembari membelai wajah laki-laki yang telah mencuri hatinya sepenuhnya itu. “Aku yakin, mas tidak bodoh untuk memahami apa yang aku katakana.” Ucapnya kemudian.


“Kenapa tidak menjawabnya langsung saja ? Kenapa harus dengan kalimat teka-teki ?.” Tanya Zayyan.


Nana tidak menjawabnya kerena perutnya tiba-tiba saja sakit. Akhir-akhir ini wanita itu sering mengalami kontraksi. Mungkin karena saat ini sudah memasuki bulan kesembilan kehamilannya. Tapi menurut perkiraan Zizi yang bertanggung jawab sebagai dokter pribadi Nana selama kehamilan, Nana baru akan melahirkan 2 minggu lagi.


“Aww, perut ku mas.” Ucap Nana meringis menahan sakit. Melihat istrinya kesakitan, Zayyan langsung panik.


Ayo dong, Tinggalin jejaknya biar author tambah semangat buat nulisnya. Jangan lupa Vote, Like dan Koment yaa. Terima Kasih.


Jangan lupa untuk baca, Mentari Dari Bumi Sakti juga ya. Hari ini update juga loh ☺


Happy Reading, Semoga Suka.

__ADS_1


Kerinci, Jambi 6 Oktober 2020


__ADS_2