
“Aww, perut ku mas.” Ucap Nana meringis menahan sakit. Melihat istrinya kesakitan, Zayyan langsung panik.
“Perut kamu kenapa sayang ?.” Tanya Zayyan dengan panik.
“Perut aku sangat sakit mas. Sepertinya anak kita mau lahir.” Ucap Nana menahan rasa sakitnya.
Mendengar Nana mau lahiran, zayyan jadi tampah panik. Ia tidak tau harus berbuat apa lagi sekarang ini. Otaknya tiba-tiba saja buntu karena panik. “Ayo panggil ibu mas. Aku udah ngak kuat lagi.” Seru Nana.
“Iya, aku akan panggil ibu sekarang.” Nana saat ini sudah mengalami kontraksi yang cukup sering. Zayyan langsung berlari kearah kamar ibu ranya untuk memanggil sang ibu.
“Bu.. Ibu..” Panggil Zayyan menggedor-gedor pintu kamar sang ibu. Mendengar Zayyan memanggilnya, ibu ranya langsung membuka pintu.
“Ada apa nak ?.” Tanya ibu ranya.
“Bu, sepertinya Nana mau lahiran ?.” Jawab Zayyan.
“Apa ? Bukannya 2 minggu lagi baru lahiran ?.” Tanya ibu ranya yang kini ikut panik. Tanpa menunggu jawaban dari Zayyan, ibu ranya langsung berlari kekamar Nana begitupun ayah marvin yang mengikutinya dari belakang.
“Zayyan, ayo langsung bawa istrimu kerumah sakit sekarang juga.” Seru ibu ranya yang begitu panic karena sekarang air ketuban nana sudah pecah. Dengan segera Zayyan langsung menggendong sang istri menuju mobil. Zayyan mengambil alih kemudi dengan ayah marvin berada disampingnya sementara Nana dan ibu ranya berada dikursi tengah.
***
Tak membutuhkan waktu yang lama, mereka telah sampai dirumah sakit saat ini. Zizi sudah menunggu di rumah sakit karena tadi Zayyan sempat menghubunginya untuk memberi tau bahwa Nana akan segera melahirkan.
“Ayo langsung saja bawa Nana dikeruang persalinan.” Seru Zizi memerintah suster agar mndorong brankar dengan cepat keruang persalinan.
Setelah sampai diruang persalinan, Zizi langsung memeriksa keadaan dari sahabatnya itu. Ternyata saat ini nana sudah bukaan Sembilan. Sebenarnya Nana sudah merasakan kontraksi dari sejak siang tadi, tapi ia tidak terlalu mempedulikannya.
“Suster ayo persiapkan semua alat nya dengan cepat, pasien akan segera melahirkan.” Titah Zizi.
“Bibi, maafkan aku tapi hanya boleh satu orang saja yang berada diruangan ini.” Ucap Zizi. Tanpa membantah lagi, ibu ranya langsung keluar dari ruang persalinan. Sementara Zayyan terlihat begitu panic saat ini, selain itu dia juga merasa kasihan dan tidak tega melihat sang istri kesakitan karena ingin melahirkan anaknya.
Nana menjerit karena menahan rasa sakit. Tangannya menggenggam kuat tangan Zayyan. Butiran keringat terlihat membasahi wajah Wanita itu. Sesekali Nana mengejan karena tidak tahan dengan rasa sakitnya.
“Sayang, kamu yang kuat ya. Aku yakin kamu pasti bisa.” Seru Zayyan mencoba menyemangati sang istri. Namun ia sendiri sangat cemas saat ini. Andai saja rasa sakit ini bisa dibagi, ia rela menahan rasa sakit itu sendiri. Tapi kenyataannya tidak bisa, ia hanya bisa berharap agar sang pemberi kehidupan mempermudah segalanya.
__ADS_1
“Tapi ini sangat banget mas. Aku udah ngak kuat lagi.” Ujar Nana. Sudut matanya kini telah berair.
‘Apa sebaiknya kamu operasi saja ya sayang. Biar kamu ngak kesakitan seperti ini.” Ucap Zayyan menawarkan pilihan pada Nana.
Nana menggelengkan kepalanya. Dari awal ia ingin melahirkan secara normal, ia juga ingin merasakan bagaimana sakit dan perjuangan seorang ibu. “Ngak mau mas. Aku tetap mau melahirkan secara normal.” Tolak nana sembari menahan rasa sakit.
***
Sementara diluar sana, para orang tua terlihat mondar-mandir didepan ruang persalinan. Mereka sangat cemas saat ini. Sebuah doa tak henti-hentinya mereka panjatkan pada sang maha kuasa untuk keselamatan dan kelancaran lahiran Nana.
Saat ini mama yanti dan papa dion juga sudah berada dirumah sakit. Tadi setelah sampai dirumah sakit, ibu ranya langsung menelfon besannya untuk memberi tau keadaan Nana. Ibu ranya juga sudah memberi tau pada bibi citra, paman bimo, kak shakira dan juga kak juna. Tapi sampai saat ini mereka belum sampai dirumah sakit.
“Sudah lah ma, sebaiknya mama duduk dulu disini. Tenang diri mama, jangan terlalu cemas seperti itu.” Seru papa dion yang pusing melihat sang istri hanya mondar-mandir dari tadi.
‘Bagaimana mama bisa tenang pa. Putri mama sedang bertaruh nyawa didalam sana, dan papa minta mama untuk tenang ?.” Kesal mama yanti. Wanita paruh baya itu saat ini terlihat sangat cemas.
“Iya papa ngerti. Tapi lebih baik mama duduk dan berdoa saja semoga Allah menlancarkan semuanya.” Tutur papa dion menarik tangan mama yanti agar duduk disampingnya.
Sementara Shakira terlihat berlari dari ujung koridor untuk menemui mereka. Bisa dilihat dari wajah ibu satu anak itu, kalau saat ini ia juga sedang cemas memikirkan adik semata wayangnya. Dibelakangnya ada bibi citra, paman bimo dan arjuna yang mengikuti langkah Shakira.
“Nana masih didalam sayang. Belum ada tanda-tanda apapun dari tadi, mama sangat cemas.” Jawab mama yanti.
“Mama tenang ya. Shakira yakin, Nana akan baik-baik aja. Dia adalah wanita yang kuat, dia mampu melewati semua ini.” Ucap Shakira menenangkan wanita yang telah melahirkannya.
Mama yanti mengangguk sebagai bentuk jawaban dari ucapan Shakira. “Iya sayang.” Ucapnya kemudian.
***
Didalam sana, Nana terlihat sangat kesakitan. Rasa sakitnya kini kian bertambah. Zayyan semakin tidak tega melihat istrinya seperti ini. Tanpa sadar, Zayyan menangis karena mengingat bagaimana perlakuannya dulu pada wanita yang saat ini sedang mempertaruhkan nyawanya hanya untuk memberikannya seorang anak.
“Sayang kamu yang kuat ya. Aku minta maaf karena selama ini telah menyakiti hati kamu. Aku menyesal telah melakukan itu. Aku mohon kamu yang kuat dan jangan tinggalin aku.” Ucap Zayyan dengan sendu, sesekali laki-laki mencium kepalanya Nana dengan sayang.
Nana tidak menanggapi omongan Zayyan. Karena rasa sakit membuatnya tidak fokus dengan hal disekitarnya. “Kak Zayyan, aku akan segera membantu nana melahirkan bayi kalian. Tapi kak zayyan harus memberi semangat pada nana.” Ucap zizi yang diangguki oleh Zayyan.
“Na, sekarang lo atur pernapasan ya. Nanti kalau udah waktunya kamu harus mengejan sesuai dengan instruksi yang gue kasih, oke.” Ucap Zizi memberikan Instrukis pada sahabatnya itu. Nana hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
__ADS_1
“Sekarang ayo na.” Ucap zizi memerintahkan agar Nana mengejan. Nana melakukan sesuai dengan yang diperintahkan oleh zizi. Ia menggengam tangan zayyan dengan begitu kuat.
“Tarik nafas dulu na lalu hembuskan.” Titah Zizi. Nana segera menarik nafasnya yang kini tengah memburu. Rasa sakitnya juga sudah semakin terasa saat ini. Seperti ratusan dan ribuan tulang yang dipatahkan secara bersamaan.
“Mas, sakit banget.” Ucap Nana yang saat ini sudah mulai melemah.
“Iya sayang, mas tau. Tapi kamu harus kuat demi mas dan anak kita.” Seru Zayyan.
“Ayo na, sedikit lagi. Kepalanya sekarang udah keluar.” Ucap Zizi. “Ayo, gue yakin lo pasti bisa.” Sambung zizi memberikan semangat. Nana langsung mengatur nafasnya lalu kembali mengejan dengan sangat kuat.
Oeekkk….
Oeekkk….
Oeekkk….
Hingga suara itu akhirnya terdengar juga. Semua orang menjadi lega saat mendengar tangisan pertama dari buah cinta Nana dan juga Zayyan. Zizi langsung mengangkat bayi yang baru saja keluar dari rahim ibunya itu. Lalu meminta suster untuk mengeluarkan plasenta yang masih tertinggal diperutnya Nana.
“Selamat na, selamat kak.. Bayi kalian adalah seorang laki-laki dan sangat tampan seperti ayahnya.” Ucap Zizi sebelum akhirnya ia membersihkan bayi itu.
Sementara Zayyan menangis sembari mencium istrinya itu. Ia sungguh tidak menyangka kalau saat ini dia sudah benar-benar menjadi seorang ayah. “Alhamdulillah, Terima kasih sayang.” Ucap Zayyan dengan begitu tulus.
Tak menunggu waktu lama, zizi telah selesai membersihkan bayi itu. Ia segera berjalan kearah Nana dan juga Zayyan. “Ini bayi kalian. Sekali lagi selamat ya, gue ikut bahagia atas kebahagiaan kalian.” Seru zizi.
“Tapi sebaiknya, kak zayyan adzani dulu putranya.” Titah zizi sembari memberikan bayi mungil itu kedalam gendongan zayyan. Zayyan segera melafaskan adzan ditelinga sang putra.
Setelah selesai mengadzaninya, Zayyan memperhatikan wajah bayi mungil itu dengan seksama. Sungguh ia saat ini telah jatuh cinta pada sosok makhluk kecil yang berada dalam gendongannya. Inikah benih yang sempat ia tanam dirahim istrinya waktu itu, pikir Zayyan.
“Welcome To The World, Sayang.” Ucap Zayyan sembari mencium lembut pipi gembul anaknya.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan cara Vote, Like dan Koment.
Happy Reading, Semoga suka.
Kerinci, Jambi 7 Oktober 2020
__ADS_1