
Kini hari telah beranjak malam. Mentari telah berganti dengan sang rembulan. Nana tampak mengotak-atik benda pipih ditangannya. Duduk bersantai disofa yang tersedia didalam kamarnya.
Sementara zayyan berada diruang kerjanya. Tadi raka menelfon zayyan, dia minta agar laki-laki itu mengecek email yang baru saja ia kirimkan.
Wanita hamil itu sepertinya saat ini sangat bosan, ia tidak tau harus mengerjakan apa. Akhirnya ia memilih mengajak anak dalam kandungannya mengobrol.
"Hay, selamat malam. Kamu lagi apa didalam sana nak ? Pasti lagi main ya !" Tanya nana.
"Kamu cepat tumbuh ya sayang, biar bisa keluar dari rahimnya mommy. Kamu pasti bosan kan kalau harus main sendirian didalam sana. Nanti kalau kamu udah lahir, mommy akan ajak kamu main seharian."
Nana tersenyum membayangkan jika suatu saat anaknya telah lahir kedunia. Dia pasti akan senang karena setiap hari ia akan menyaksikan pertumbuhan sang malaikat kecilnya.
Ceklek...
Pintu kamar tiba-tiba terbuka dari luar. Nana menoleh untuk melihat siapa yang membuka pintu itu. Senyuman tipis muncul dibibirnya tanpa diketahui oleh zayyan.
"Kamu lagi apa ?" Tanya zayyan mendekat kearah nana. Ia duduk disamping nana sambil merangkul pundak istrinya itu.
"Ngak lagi ngapa-ngapain kok. Cuma ajak baby nya ngobrol aja" Jawab nana. Ia berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan zayyan. Berusaha melupakan yang pernah terjadi.
"Oh iya.. Kamu ngobrolin apa sama mommy nak ? kalian ngak lagi gosipin ayah kan ?" Tanya zayyan yang saat ini sudah mengusap perut nana.
Nana tersenyum mendengar pertanyaan zayyan. "Iya ya nak. Tadi kita lagi gosipin ayah kan. Tapi jangan bilang-bilang ya kita obrolin apa" Jawab nana.
"Oo jadi begitu sekarang, main rahasia-rahasiaan sekarang. Okee, awas aja nanti. Ayah akan hukum kalian berdua" Seru zayyan menanggapi omongan wanita yang yang tengah mengandung anak nya itu.
"Sayang" Panggil zayyan. Mendengar zayyan memanggilnya, nana menoleh pada laki-laki itu.
"Sayang ? Panggil siapa ?" Tanya nana mencoba menggoda suaminya itu.
"Panggil siapa lagi kalau bukan istri ku yang cantik ini" Ucap zayyan yang langsung mencium pipi nana.
Pipi nana merona karena mendapatkan ciuman mendadak dari suaminya itu. Awalnya ia ingin menggoda zayyan, tapi malah dia yang malu karena zayyan malah menggodanya balik.
"Oo sudah pintar menggoda ya ternyata tuan gunung es ini" Seru nana.
"Tuan gunung er ?" Tanya zayyan menyerngitkan dahinya.
"Iya. Kamu kan dulu dingin banget sama aku. Sekarang aja baru mencair itupun sedikit" Ucap nana terkekeh.
"Dulu aku tu bukannya dingin. Tapi cuma belum menyadari sesuatu aja. Sekarang aku udah sadar, dan aku ngak mau kehilangan anakku" Seru zayyan.
Nana terdiam mencerna kalimat zayyan. Sepertinya nana salah paham dengan ucapan zayyan.
"Apa itu artinya setelah anak ini lahir, kamu jauhin aku ?" Tanya nana sendu.
Zayyan menggelengkan kepalanya. Ia sadar, ada kalimatnya yang salah hingga membuat istrinya salah paham begini.
"Bukan begitu sayang. Aku ngak akan jauhin kamu sampai kapan pun. Aku ngak mau kehilangan kamu dan anak kita lagi. Aku sudah cukup menderita saat kalian pergi kemaren. Aku ngak mau sampai itu terjadi lagi" Jelas zayyan.
__ADS_1
Laki-laki itu sengaja tidak mengatakan kalau ia sangat mencintai nana. Karena ia ingin mengungkapkan cintanya disaat yang tepat. Dihari bahagianya nana.
Iya dia memilih hari bahagianya nana sebagai hari ia mengungkapkan perasaannya. Bukan hanya itu, ia juga akan memberikan nana surprize yang akan membuat wanita itu sangat bahagia.
"Benar begitu ? Aku pikir kamu akan tinggalin aku saat anak kamu lahir" Jawab nana cemberut.
"Anak kita sayang" Bantah zayyan. "Tapi apa itu artinya kamu takut kehilangan aku ?" Tanya zayyan kembali menggoda nana.
Entah kenapa ia sekarang menjadi sangat suka sekali menggoda wanita yang tengah mengandung anaknya itu. Ada kebahagiaan tersendiri saat melihat muka nana menjadi merah merona karena malu.
"Tidak. Aku.. aku hanya tidak mau anak ku kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya kalau kita berdua berpisah" Elak nana memberikan alasannya.
"Anak kita. Bukan hanya anak aku atau anak kamu. Lagipula siapa yang ingin berpisah dengan kalian" Seru zayyan.
"Sayang... Apa aku boleh minta sesuatu ?" Tanya zayyan.
"Boleh. Mau minta apa ?" Tanya nana balik.
"Jangan panggil aku dengan nama lagi" Jawab zayyan.
"Lalu aku harus panggil apa ?" Nana menengadahkan kepalanya agar bisa melihat wajah suaminya itu.
"Hmm.. Apa ya. Sayang, honey atau.." Ucapan zayyan terhenti ketika nana menyelanya.
"Mas aja deh" Sela nana.
"Mm.. Aku rasa itu ngak buruk" Ujar zayyan memberikan pendapatnya tentang usulan nana.
"Okee Mas" Jawab nana agak kikuk. Pasalnya ia tidak terbiasa memanggil suaminya dengan panggilan itu.
Setelah itu nana terdiam, entah apa yang ada dipikiran wanita itu saat ini.
"Kenapa menung ?" Tanya zayyan lagi.
"Baby nya pengen martabak" Seru nana cengengesan.
"Baby nya yang mau atau mommy nya ?" Tanya zayyan.
"Hhehe.. Dua-duanya sih" Jawab nana dengan tersenyum tanpa dosa.
"Ya udah. Kamu tunggu disini ya, aku akan cariin martabak" Zayyan baru saja ingin berdiri namun tangannya ditarik oleh nana.
"Aku ikut ya, please" Ucap nana memelas.
"Tapi ini udah malam sayang. Ngak baik angin malam bagi ibu hamil" Tolak sang suami.
"Tapi aku pengennya makan martabak disana. Aku mohon, sekali ini saja" Nana menangkup kan kedua tangannya memohon pada zayyan.
"Huft.. Baiklah, tapi janji ngak akan keluar dari mobil" Seru zayyan memberikan syarat.
__ADS_1
"Iya janji" Jawab nana sangat bahagia. Bahkan hal kecil seperti itu mampu membuat nana sangat bahagia. Hingga zayyan selalu ingin melihat senyum itu terlukis indah dibibir nana.
☀☀☀
"Kalian mau kemana malam-malam begini ?" Ujar ibu ranya.
Wanita paruh baya itu tampaknya sedang mengambil minuman di dapur. Karena ayah marvin punya kebiasaan minum ditengah malam. Makanya ibu ranya membawakan minuman kedalam kamar agar ayah marvin tidak susah-susah kedapur hanya untuk mengambil air.
"Menantu ibu lagi ngidam martabak. Zayyan udah bilang untuk tunggu dirumah aja tapi dianya ngeyel mau ikut" Adu zayyan pada ibunya.
"Aww" Nana tiba-tiba saja mencubit pinggang zayyan. Bagaimana mungkin suaminya itu mengadukan nya pada ibu mertua nya.
"Tapi nana pengen makan martabak disitu bu" Bela nana pada diri nya sendiri sambil mengerucutkan bibirnya.
Cup...
"Bibirnya tolong dikondisikan" Bisik zayyan setelah mengecup bibir nana dihadapan ibu ranya. Wajah nana saat ini pasti sudah sangat merah. Ia juga sangat malu pada ibu mertuanya karena ulah zayyan yang main nyosor aja.
"Ya sudah, kalian hati-hati ya. Jangan lupa setelah membeli martabak langsung pulang ya, angin malam tidak bagus untuk nana" Peringat ibu ranya. Yang diangguki oleh sepasang suami istri itu.
Zayyan langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tidak mungkin membawa istrinya mengebut dalam kondisi sedang hamil seperti ini. Bisa-bisa nana kontraksi dan melahirkan sebelum waktunya lagi, pikir zayyan.
Setelah puas berkeliling mencari orang yang jualan martabak, akhirnya mereka menemukan nya didekat taman kota.
"Kamu tunggu didalam ya, aku beliin dulu martabaknya" Titah zayyan.
"Okee, mas suami" Jawab nana mengacungkan jempolnya. Zayyan tersenyum mendengar panggilan istrinya untuk dirinya.
Tak lama kemudian zayyan datang dengan membawa martabak ditangannya.
"Ini untuk istri ku tersayang" Zayyan memberikan sebuah plastik berisi martabak.
Nana menerima plastik itu. Tanpa menunggu lama ia langsung membukanya.
"Aaa.. Ayo buka mulutnya" Titah nana.
"Kau saja yang makan, sayang. Aku sudah kenyang" Tolak zayyan dengan lembut.
Mendengar penolakan sang suami, nana langsung cemberut. Entah kenapa wanita itu sangat sensitif selama hamil. Suasana hatinya mudah sekali berubah.
"Huft.. Ya sudah ayo suapi aku" Seru zayyan akhirnya.
Senyuman nana langsung terbit kembali setelah mendengar itu. Dengan semangat ia langsung menyuapi zayyan dengan penuh cinta.
Malam itu menjadi malam pertama bagi mereka bisa sedekat ini. Terlibat begitu banyak kebahagian diwajah mereka malam ini.
Jangan lupa untuk Vote, Like dan Koment ya ☺
Part satu lagi nyusul ya, karena masih dalam proses pembuatan.
__ADS_1
Happy Reading, Semoga suka ❤
Kerinci, Jambi 28 September 2020