
Gibran menangis sejadi-jadinya di pelukan wanita itu, bagaimanapun Gibran juga seorang manusia dan seorang anak yang juga sangat menyayangi ayahnya dan harus kehilangan ayah kesayangannya dengan secepat ini.
"Makasi sayang kamu selalu ada buat ku " ucap Gibran mengusap kepala kekasihnya itu.
"iya sayang sama-sama " ucap kekasih Gibran bergelut manja di lengan Gibran.
Gibran pun tersenyum manis padanya ia sangat bersyukur mempunyai seseorang yang bisa menjadi tempat untuk sandaran dia bersedih dan gembira.
"aku akan mengantar mu pulang" ajak Gibran menarik tangan kekasihnya menuju mobil dan mengantar kekasihnya untuk pulang berhubung waktu sudah semakin gelap.
*
*
*
*
1 Minggu kemudian sejak kematian pak Damar keyna masih tetap tinggal di rumahnya ia belum bisa meninggalkan rumah masa kecilnya yang penuh dengan kenangan manis bersama pak Damar ayah yang paling keyna sayang.
keyna juga sangat manja dengan Devan, Devan tidak bisa meninggalkan keyna satu detik pun sehingga membuat Devan harus bekerja ekstra di rumah dalam mengurus urusan kantor yang hampir 1 Minggu ini ia tinggalkan.
"Sayang apa aku boleh ke kantor, aku harus mengecek kondisi kantor dan ada beberapa berkas yang harus ku urus " ucap Devan mengusap kepala Keyna dengan lembut.
"Aku gak mau kamu meninggalkan ku sendiri" ucap keyna manja di bidang dada kekar milik Devan.
"kalau gitu kamu ikut aku ke kantor gimana hmm" tanya Devan menatap keyna dengan kebiasaanya menaikan satu alisnya.
"Aku gak mau hmm....yah sudah kamu ke kantor tapi janji jangan lama-lama oke " ucap keyna menaikan satu jari kelingkingnya dan Devan pun membalas dengan menaikan satu jari kelingkingnya pula.
"Kau sangat manja bocah kecil tapi aku sangat menyukainya " batin Devan.
Devan pun berganti pakaiannya dan Keyna membantu Devan memasangkan dasi di lehernya tapi karena Devan sangat tinggi membuat keyna susah memasangkan dasi dan harus berjinjit.
Devan yang melihat keyna berusaha memasangkan dasi padanya hanya tertawa lalu menunduk sedikit agar tinggi badannya agar setara dengan keyna.
"Kau sangat pendek bocah kecil " ucap Devan menatap keyna yang masih fokus memasangkan dasi pada Devan.
__ADS_1
"kau pun sangat tinggi dan besar pak tua, kau makan apa saja sehingga badan mu sangat besar seperti ini " ucap keyna sambil memasang kan dasi pada Devan.
setelah keyna selesai memasangkan Devan dasi, Devan pun langsung mencium bibir keyna dengan sekilas yang membuat keyna blush hingga pipi keyna merona.
"morning kiss" ucap Devan dan mengulang tingkahnya tadi berulang-ulang yang membuat keyna geli dan menyuruh Devan untuk segera berhenti.
keyna pun mengantar Devan sampai ke luar pintu rumahnya, keyna selalu menggenggam tangan suaminya itu dengan erat seakan tidak ingin lepas.
Devan hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang manja dan mencium kening keyna dengan singkat lalu Devan naik kedalam mobil mewah miliknya, keyna pun melambaikan tangannya kepada Devan dan Devan pun membalasnya.
Melihat kepergian Devan keyna sangat sedih entah mengapa keyna tak mau jauh dari Devan ia merasa akan di tinggalkan lagi seperti papanya yang meninggalkan keyna.
"Aduh anak mama sudah besar masih manja " ucap mama Mira yang baru datang dari arah belakang keyna.
"Yang penting manjanya sama suami sendiri tidak apa kan hehehe" ucap keyna sambil memeluk mama Mira.
"Yah sudah bantu mama yuk buat kue, itung-itungan cari kegiatan supaya di rumah tidak bosan " ucap mama Mira.
"Oke ma " balas keyna.
*
*
*
*
*
Di kantor perusahaan M.J group ( Mahendra Jaya group ) Devan sudah tiba di sana, ia segera memarkirkan mobilnya dan masuk kedalam perusahaan miliknya banyak karyawan dan karyawati menyapa CEO mereka dengan hormat dan ada juga yang sangat mengagumi ketampanan Devan.
banyak yang belum tau bahwa CEO mereka ini sudah memiliki istri jadi masih banyak perempuan yang menaruh harapan padanya, walau mereka tau mendekati Devan bukan suatu hal mudah dengan sifat arogan dan dinginnya yang melampaui batas manusia.
Devan membalas sapaan para pegawainya dengan datar tanpa ada senyuman yang melekat di wajahnya, yah begitulah Devan Mahendra yang terkenal sangat dingin namun tidak di hadapan istri kecilnya keyna dia akan berbanding terbalik 180° derajat.
Devan masuk kedalam ruangannya yang sudah di tunggu oleh Ivan sekertaris pribadi Devan.
__ADS_1
"Ivan apa ada masalah di kantor yang tidak bisa kau urus " ucap Devan datar sambil duduk di bangku kebesarannya.
"Tidak ada tuan semuanya saya bisa menanganinya dengan baik hanya saja ada beberapa masalah kendala perusahaan cabang kita di luar kota " ucap Ivan menunduk.
Devan pun mengangguk mengerti lalu ia melihat tumpukan berkas di mejanya sangat banyak membuat Devan mengusap wajahnya dengan kasar, ia tidak akan menyangka pekerjaannya akan tertumpuk seperti ini.
Devan pun membuka jasnya dan menaruhnya di kursi kebesarannya, ia mulai memeriksa berkas-berkasnya yang sudah tertumpuk yang di bantu oleh Ivan.
hampir 4 jam Devan berkutat dengan berkas-berkas itu dan hampir selesai, ia menyandarkan kepalnya di kursi kebesarannya lalu memijat pelipisnya sungguh hari ini hari yang paling melelahkan untuk Devan.
lalu Devan teringat dengan kendala perusahaan cabang yang ada di luar kota, Devan pun memanggil Ivan untuk mengatur jadwal mereka.
"Ivan aturlah jadwal secepatnya untuk ke cabang perusahaan yang ada di luar kota " ucap Devan sambil memeriksa beberapa berkas yang ada di tangannya.
"baik tuan saya akan mengurusnya " ucap Ivan.
tak lama kemudian pintu ruangan Devan terbuka membuat Ivan dan Devan menoleh ke arah suara pintu itu.
"Gibran " ucap Devan.
"Maaf kan saya lancang masuk tanpa izin tapi aku ingin membicarakan sesuatu hal yang penting pada mu Dev " ucap Gibran.
"Baiklah silahkan duduk " ucap Devan mempersilahkan Gibran duduk di sofa yang ada di ruangan nya.
Gibran pun menjelaskan tentang masalah yang sedang ia pikirkan beberapa hari ini, Gibran juga ingin memberitahukan Devan dari jauh hari namun ia belum menemukan waktu yang tepat dan hari ini Gibran menjelaskannya pada Devan.
"apa kau tidak salah Gibran " ucap Devan menatap Gibran dengan tajam.
"Aku sangat yakin, tapi entah siapa pelakunya Dev, makanya aku membutuhkan bantuan mu, kau sangat cerdik dan pasti bisa menangkap pelakunya dengan mudah dan aku merasa dia sangat mengincar keyna Dev" ucap Gibran khawatir.
"Baiklah, aku akan menyuruh Ivan untuk mencari tahu hal itu " ucap Devan menahan amarah saat mendengar cerita dari Gibran.
"Ivan cari tahu semua yang telah Gibran ceritakan tadi jangan sampai ada yang terlewatkan walau hal sekecil apapun itu dan segera lapor ke saya" ucap Devan dingin.
"Baik tuan " balas Ivan menunduk.
Next..next...🙄🙄🙄
__ADS_1