Menikahi Pria Tua

Menikahi Pria Tua
Bab 73


__ADS_3

setelah menelfon Ica pun kembali bergabung bersama keyna dan Gibran yang sedang asik menyantap makanan.


"siapa yang telfon sayang" tanya Gibran.


"ah bukan siapa-siapa kok hanya teman yang nanya masalah tugas kampus " balas Ica.


"oh gitu, yaudah ayo makan nanti dingin loh makanannya" ucap Gibran sambil mengelus kepala Ica.


"ya ampun ingat lah dunia bukan milik kalian berdua" ucap keyna yang kesal melihat kemesraan mereka.


mendengar bicara keyna Gibran dan Ica saling menatap dan langsung tertawa dan Keyna pun langsung ikut tertawa bersama mereka.


"ya ampun rame banget ya" ucap mama Mira pelan, ia terbangun saat mendengar tawa dari anak-anaknya.


"ma..sudah bangun" tanya keyna mendekat kearah mama Mira.


"mama baru aja bangun saat mendengar tawa kalian " ucap mama Mira lembut.


"hehehehe maaf ya ganggu tidurnya mama" ucap keyna memeluk mama Mira.


"enggak kok sayang..." balas Mama Mira.


tak berapa lama mereka berbincang dokter Ical masuk untuk mengecek kondisi mama Mira yang semakin membaik.


"bagaimana dengan mama saya" tanya keyna.


"Alhamdulillah sudah membaik dan nyonya Mira juga boleh pulang sore ini" ucap Ical.


"Alhamdulillah " ucap Gibran.


"baiklah kalau begitu saya permisi dulu" ucap dokter Ical langsung meninggalkan ruangan itu.


mendengar kabar bahwa sang mama bisa pulang Ica Gibran dan Keyna langsung berkemas merapikan keperluan mereka saat tinggal di rumah sakit.


"key...Kaka musti balik lagi kantor, nanti sore Kaka jemput kamu sama mama di rumah sakit" ucap Gibran.


"baiklah kak, mm Ica kamu mau ke kampus hari ini" tanya keyna.


"iya hari ini aku ke kampus untuk menyetor beberapa tugas sih " balas Ica.


"yah baiklah, hati-hati ya di jalan " ucap keyna.

__ADS_1


Gibran dan Ica pun pergi meninggalkan rumah sakit, sebelum ke kantor Gibran mengantar Ica ke kampusnya yang kebetulan sejalur dengan tempat menuju kantor.


sesampainya di kampus Ica segera turun dari mobil tapi sebelum itu ia mencium tangan Gibran yang sudah menjadi kebiasaan mereka.


"aku pergi ya " ucap Ica lembut.


"iya hati-hati" balas Gibran.


"kamu juga harus hati-hati" ucap Ica kemudian ia segera turun dari mobil.


tak menunggu berapa lama kendaraan Gibran sudah melaju meninggalkan kampus Ica dan Ica pun segera menuju kelasnya, namun langkahnya terhenti saat handphone di dalam tas Ica berdering.


""siapa lagi yang menelfon" ucap Ica saat melihat layar handphone nya.


"hallo " ucap Ica.


"wah.....anda sangat santai sekali ya...apa kamu lupa dengan tugas mu Ica " ucap seorang wanita di sebrang telfon sana.


"kau...." ucap Ica.


"kenapa kaget.... CK. kau dan Reyhan sama saja lebih mementingkan perasaan pribadi ya " ucap sosok wanita itu.


"lupakanlah... sekarang jalankan tugasmu sebagai Kaka ipar yang baik untuk keyna..apa kau tau aku terus mengawasi mu" Ucap sosok wanita itu dan langsung mematikan telfonnya.


"baiklah aku akan melaporkan padanya " ucap Ica langsung mengambil handphone yang lain di dalam tasnya dan menelfon seseorang.


"hallo" ucap Ica.


"yah bagaimana" ucap seseorang di sebrang telfon sana.


"aku akan memulainya" ucap Ica tegas.


"baiklah lakukanlah" ucap seseorang itu langsung dan langsung mematikan panggilan telfon dari Ica.


"baiklah....maafkan aku keyna " batin Ica kemudian ia segera menuju kedalam kelasnya.


...****************...


sementara di tempat lain Devan yang masih fokus menatap layar leptopnyan sambil tersenyum devil membuat Ivan yang melihatnya merasa ngeri dan tak berani menatap sang bos yang seakan melahap siapa saja yang mengajaknya berbicara.


"kenapa kematian Merry sangat cepat " ucap Devan.

__ADS_1


"maafkan saya tuan " ucap Ivan tunduk.


"jangan meminta maaf Ivan" ucap Devan menatap Ivan dengan kejam.


mendapatkan tatapan dari Devan membuat Ivan menelan salivanya dengan paksa karena ia sangat takut Dengan tatapan Devan saat ini.


"kalau ada nona keyna di sini...pasti dia bisa mengontrol singa yang lagi terbangun saat ini" batin Ivan.


" Ivan seret dia kesini aku sudah tidak tahan menahan kesabaran mengikuti langkah permainan nya" ucap Devan.


"maaf tuan jangan kita bertindak gegabah walau kita sudah tau siapa pelakunya tapi bukti yang ada masih sangat kurang karena dia sangat lihai dalam membersihkan bekas ia melangkah" ucap Ivan.


"sial...apa team mu belum juga menemukan bukti yang kuat" ucap Devan sinis.


"maafkan kami tuan...kami akan berusaha" ucap Ivan.


tak berapa lama sekertaris Devan mengetuk pintu ruangan Devan dan mengatakan bahwa pak Hendra Jaya ingin bertemu dengan Devan.


Devan pun mengizinkan pak Hendra masuk tapi Devan bingung tak biasanya pak Hendra seperti itu kalau dia ingin bertemu pasti dia akan menghubungi Ivan.


"maafkan saya Devan, tidak menghubungi dan langsung datang kemari menemui secara mendadak" ucap pak Hendra.


"ada hal apa yang membuat pak Hendra ingin menemui saya secara mendadak seperti ini" ucap Devan dingin.


"bolehkah saya berbicara berdua dengan anda " tawar pak Hendra.


"kau boleh berbicara Ivan adalah orang kepercayaan ku" ucap Devan.


"baiklah" ucap pak Hendra.


kemudian Devan mempersilahkan pak Hendra duduk dan pak Hendra pun memulai pembicaraan nya secara menatap kearah Ivan dan Devan.


mendengar cerita pak Hendra membuat Devan sangat geram dan ingin memukul orang yang ada di hadapannya ini.


"apa kau tau perbuatan sangat tidak termaafkan" ucap Devan marah matanya saat ini benar-benar sangat mengerikan.


"maafkan saya Devan " ucap pak Hendra pelan.


"Ivan.... Putuskan hubungan perusahaan dengan perusahaan Hendra Jaya dan jatuhkan perusahaan itu dengan cepat besok saya akan menerima laporan bahwa perusahaan Hendra Jaya hancur " ucap Devan dengan lantang.


mendengar perkataan Devan pak Hendra hanya diam ia sangat tau resiko yang akan di hadapi sekarang.

__ADS_1


Next...next....next ...🥴🥴🥴


__ADS_2