
Anin dan Siti sampai rumah. Anin membuka pintunya dan meletakkan tasnya di meja.
" Bu, bagaimana nanti kalau pak Rifa'i tidak bisa menjelaskan? satu lagi kalau tante Hajar dan om Rahmat marah sama pak Rifa'i bagaimana? tetapi kalau Anin nanti di suruh buat menjauhi pak Rifa'i bagaimana? " tanya Anin dengan sedikit tidak tenang.
" Udah nak, tenang aja insyaallah nanti nak Rifa'i bisa menyelesaikan masalahnya dengan satu-persatu. Ibu mau ke pasar dulu buat jualan nasi uduk nanti. " Jawab Siti dengan mengambil tas buat belanjaannya nanti.
" Kalau begitu jaga rumah dulu ya, Ibu mau ke pasar dan itu dapur di bereskan ya. " Dengan menganggukkan kepala. Anin ke kamar dan masih memikirkan tentang tadi.
"Hm, bagaimana ya itunya apakah semuanya lancar atau ngga? " tanyanya sendiri karena dari tadi bingung.
"Aku mandi aja biar adem ni otak, " dengan mengambil handuk dan baju ganti. Setelah masuk kamar mandi Anin ada yang lupa karena dia di suruh membereskan dapur.
__ADS_1
" O ya aku lupa tadi di suruh Ibu buat beberes di dapur gara-gara masalah belum selesai ya, begini. " Anin keluar dari kamar mandi dan menyelesaikan pekerjaannya sebelum Ibunya pulang.
..." Huh capek juga ya, " dengan mengelap piring dan gelas pun akhirnya selesai....
________________________________
Rifa'i bingung mau menjelaskan atau tidak bisa menjelaskan kepada Hajar dan Rahmat. Rifa'i sekarang di kamar
" aduh ini gimana dari tadi mau ngomong aja susah, "sambil mondar-mandir kayak gosokan
" Eh Rifa'i, lho kamu kok belum siap-siap? " sambil duduk Rifa'i pun mau menjelaskan tetapi ada suara papanya turun.
__ADS_1
" Hm, papa juga kok belum siap-siap ini tu kenapa padaan. "Dengan bingung akhirnya Rifa'i menjelaskan ternyata papanya sudah tau tentang perayaan di hotel.
" Ma, aku mau menjelaskan bahwa acara di hotel dibatalkan, Ma. Itu semua karena Anin tidak mau tampil di hotel karena alasan dia tidak mau denger berita hoax yang tidak jelas di sosial media, Ma. "Jelas Rifa'i
" apa kok bisa dan semua itu di batalkan secara mendadak begitu? " dengan begitu Hajar geram karena acara tidak bisa di tunda-tunda karena waktu bagi dia adalah waktu tidak bisa di gali kembali jadilah nasi sudah menjadi bubur, mau bagaimana lagi itu semua kehendak yang punya acara masa dia mau tidak terima.
"Iya, Ma. Kalau pun begitu Rifa'i dari kemaren-kemaren juga ngga mau menyiapkan ini semua, ya udah nasi sudah menjadi bubur. " Rifa'i pun tidak tega melihat barang yang di buang begitu aja baginya uang juga hasil jerih payahnya bukan di buang begitu aja tetapi tidak apa-apa karena uang bisa di cari kalau keikhlasan tidak bisa di cari karena selalu menempel di hati dan di pikiran.
"Ya, yang penting sekarang harus ikhlas nak, karena setiap keikhlasan berarti bagi orang-orang sekitar kita maupun yang menyayangi kita maupun orang yang tidak mempunyai harta lebih maupun yang lebih. " Ceramah Hajar karena uang bukan dari segalanya tetapi keikhlasanlah yang segalanya untuk menerima semua kenyataannya.
"Ya, Ma. Ehm, Pa Papa ikhlas ngga tu muka di tekuk amat ya? " ehhh, kenapa tu muka papa kayaknya mau marah ah kabur dulu. Hehehe,
__ADS_1
*Bersambung*
Maaf ya teman-teman aku sakit jadi harap di maklumin kemaren dan aku hari ini kalau like banyak maka aku mau up nanti sore apa ngga siang jadi malam itu waktunya istirahat bukan begadang nulis novel ya teman-teman. Terima kasih udah mengikuti cerita ini.