Menuju Jalan Pernikahan

Menuju Jalan Pernikahan
Prolog


__ADS_3

Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarakatuh... Temen-temen ini mau di perbarui lagi ya... Mohon kerja samanya. Agak sedikit berbeda dengan itu, ini lebih padet nanti. Maaf kalau ada kata salah ya... A updatenya nggak tertentu... Author masih fokus dengan yang lain, selain novel ini.


:) Jangan salahkan author 😂😂😂


Happy Reading


Anin Fitri Ani, seorang perempuan yang tak kenal lelah dan semangat untuk selalu menuju masa depan, tetapi dia mempunyai kata lain, yaitu


'meninggalkan' itu lah yang selalu sakit di dalam hati. Rasanya pengen di injak-injak pakai sandal yang kasar terus kepalanya di jedotin di tembok.


Sekarang Anin sehabis pulang dari kuliah, dengan masa-masa seperti ini, kuliah udah dua hari ini, membuatnya terasa lelah dan membuang lelahnya jauh-jauh.


“ Ini nak. Ibu tadi buatkan kamu teh, kamu kayaknya pucet kayak gitu. Emangnya tadi kuliah kamu di kerjai sama ospek-nya. ” Ibu meletakkan tehnya di meja dan Anin langsung meminumnya.


“ Hm ya kayak gitulah, namanya juga masih maha siswi baru bu. Pasti dikit-dikit itulah, inilah. Bingung jadinya. ”


Ibu Siti Nurhaliza, ibu dari Anin. Yang setiap hari berjualan di warung kecil di samping rumahnya, peninggalan dari neneknya.


“ Ini nak, maaf ibu nyuruh kamu, ibu tadi nggak sempat ke pasar, cuma ke warung saja. Jadinya, kamu mau belanja ke pasar kan? ”


“ Hehehe... Uang dulu baru berangkat bu. ”


“ Ya nanti ibu kasih uang, uangnya di dalam kasur. Numpuk-numpuk warna putih itu terus banyak lagi. ”


“ Iya kapuk lah bu. Itu bukan uang namanya. ”


“ Hahaha... Kamu ini emang ya. Yaudah nanti kalau sisa uangnya, kamu ambil saja. ”


Anin langsung bergegas dan mengambil kerudung, bersama dompetnya di kamar.


“ Ini uangnya sama catatannya ya. Jangan sampai hilang dua-duanya! ”


“ Siap bos! ” Anin memakai sandalnya dan menyalimi ibunya.


“ Assalamu'alaikum bu. ” Ucap Anin dengan melangkah keluar, mengambil sepedanya.


“ Waalaikumsalam. Hati-hati. ”


“ Iya. ” Anin mengayuh sepedanya, menuju ke pasar yang sedikit jauh, sekitar 1 kiloan.


“ Kemana-mana itu butuh uang, sekarang aja buang air kecil, dikit-dikit uang. Emang orang yang jaga wc, minta di tabok uang. Ikhlas apa gimana gitu? Namanya juga nyikat wc terus nanti kalau tainya nempel-nempel gitu, ya orangnya jijik kan. Ah ngomong aja udah pingin muntah rasanya.”


Anin dumel-dumel sendiri dengan mengayuh sepedanya.

__ADS_1


“ Yaudah lah ikhlas sama sabar itu semua kunci keutamaan kita untuk hidup jugaan. ”


Anin peluh keringat sampai tangannya di stir sepeda berkeringat jugaan.


“ Tin... Tin... ”


Suara mobil mengklakson Anin.


Mobil pun berhenti di depan sepeda Anin, untung Anin mengerem kalau tidak body mobil bisa lecet terus dia ikut terjungkal.


“ Siapa yang ngerem mendadak kayak gini? Ah, emang bikin kesel aja. Udah panas kayak gini, dia naik mobil ada ac-nya terus nggak kepanasan. ” Gumam Anin.


Keluarlah sosok laki-laki yang memakai baju seragam polisi dengan lengkap.


“ Apa? ” Jerit Anin dengan menutup mulutnya.


“ Maaf mbak, kemana helm-nya? Kok nggak di pakai. ”


“ Mana ada helm-helm an Pak, ini aja sepeda dari jaman baulak terus bapak nanyain dimana helm-nya, ealah?” Ucap Anin di dalam hati dengan mengumpat.


“ Mbak. ” Dengan menyadarkan Anin, karena sejak tadi Anin ingin melawan, tetapi dia maklumi karena di hadapannya sekarang polisi, bisa saja di tangkap.


Laki-laki itu adalah Rifa'i Wijaya Koesoemo, seorang polisi yang sudah naik jabatan sebagai kapolres.


“ Kemana helm-nya mbak? ”


“ Tau nggak Pak, ini itu sepeda jaman dulu, bapak ngerti kalau jaman dulu itu nggak ada yang namanya helm. Itu juga helm belum lunas di rumah Pak, masih nyicil uangnya buat bayar utang helm Pak. ” Ucap Anin pertamanya menyolot dan akhir kata, dia pakai nada kasihan.


Rifa'i menggeleng-gelengkan kepalanya dan langsung mengambil sebuah buku sama pulpennya.


“ Mbak maaf saya tilang ya, ini nanti mbak bisa datang di kapolres sana, buat mengurusnya. Saya bawa sepedanya dulu ya mbak. ”


Rifa'i langsung menjunjung sepedanya dan Anin tidak terima, dia gulung-gulung seperti anak kecil.


Rifa'i tidak mau membantu Anin, Rifa'i langsung jalan begitu saja, melewati Anin yang gulung-gulung.


“ Ya Allah. Kenapa jahat banget itu orang? Nggak punya hati apa gimana? Udah tau rumah jauh, suruh naik apa kayak gini? Terus belanjanya gimana? ”


“ Ahh.. Mak, pingin pulang. ” Anin menangis agar ada yang menolongnya dan memberinya tumpangan.


Malah setiap orang yang melewatinya tertawa. Sungguh penderitaan Anin sekarang.


Dia melanjutkan langkah kakinya ke pasar, karena tidak jauh pasarnya dengan tempat yang tadi.

__ADS_1


“ Auhhh. Enaknya makan es terus seruput-seruput esnya sampai hilang hausnya. Tapi ini gimana? ”


Anin meremat kertas yang berisi surat penilangannya tadi.


“ Eeh jangan sampai nanti subek! Kalau sobek bisa gawat lagi. Polisi itu cuma sukanya ceramah panjang kali lebar, ndadak ke kantor polisi lagi. Uang lagi... Duh... Duh, minta tanggungjawab sama Pak polisinya tadi lah. ” Ucap Anin menendang batu di jalan sampai mengenai kepala orang.


“ Heh kamu! Ini apa-apaan? Untung aja saya ngehindar, kamu harus di bawa ke kantor polisi ini. Biar dapet ilmunya. ”


Anin terkejut karena orang itu membawanya ke kantor polisi.


Orang itu langsung menyeret tangan Anin dan bersama warga lain, karena ada warga yang melihatnya.


“ Pak... Maaf saya nggak sengaja tadi. ”


“ Alah kamu ini banyak alasan. Nanti kamu bisa dapet nasihat buat nggak ngelakuin lagi. Pak, cepet bawa ke kantor polisi. ”


“ Iya bener. ” Ucap warga lain dengan berbondong-bondong membawa Anin ke kantor polisi.


“ Gimana ini? Harus mengeluarkan jurus nih. ”


Anin dengan aba-aba agar cepet menghilang dari sini, tetapi tenaganya udah nggak kuat.


Akhirnya Anin di bawa ke mobil dan mobil melaju ke kantor polisi.


“ Sumpek... Bau kecing-kecing kayak gini lagi. Emang bapak-bapak ini sama ibu-ibu ini nggak pakai deodoran apa? Pada pesing kayak gini, baunya aja melebihi ompolan bayi. Aduh... ” Ucap Anin di dalam hati dengan menggerakkan tubuhnya agar mereka semua memberi jalan.


“ Udah mobilnya bunyinya ngik-ngik terus nanti kalau ada tanjakan gimana? Nggak kuat pastinya. Orang aneh semua ini. Mak tolong aku. Aku di sini serasa di siksa, enak jalan, naik sepeda. Ini mobil bobrok terus orangnya pada nggak mandi lagi. ” Anin udah merasakan dirinya pusing karena tidak betah di dalam mobil.


Sampailah di kantor polisi, Anin udah mau memuntahkan cairan karena orang di dalam mobil begitu banyak. Tersiksa....


Bersambung...


Sungguh penderitaan yang berarti 🤣🤣🤣


Novelnya beda ya, jangan salahkan author!!!


Maaf agak di beda, tapi kebanyakan nanti ada pembedanya.


Sekalian bau ompol bayi daripada bau ketek


😂😂😂


Instagram author :

__ADS_1


@dindafitriani0911


__ADS_2