Menuju Jalan Pernikahan

Menuju Jalan Pernikahan
Keadaan Terpuruk


__ADS_3

Happy Reading


******


Anin pun dalam perjalanan gelisah dan tidak nyenyak sama sekali.


“ Non sabar ya... Ini bentar lagi nyampe kok, ” Ucap Mang Darso dengan menyetir dan Mang Jalal pun ikut.


Sampailah di rumah sakit dan Anin pun keluar dari mobil. Anin berlari-lari menuju tempat yang di tuju, tetapi dia tidak tau tempatnya.


Mang Jalal pun sama mengikuti Anin dari belakang dan Anin pun telah sampai di ruangan Rifa'i di rawat. Ruang VVIP No. 1 ruang Wijaya.


“ Ya Allah non, larinya kenceng amat... Huh huh, aduh ini nafas kenapa ya nggak bisa di ajak kompromi? ” Akhirnya Mang Jalal nggelosor di lantai dan Mang Darso dari luar menyusul Mang Jalal.


“ Eh Bang kenapa kok nggelosor begitu? Nggak malu buat tontonan orang yang menjenguk di rumah sakit, yuk kita susul Nona Anin dulu, ”


Mang Darso membantu Mang Jalal berdiri dan mereka pun menyusul Anin.


*******


Anin sekarang membuka pintu ruangan Rifa'i di rawat dan di sana ada pengawal yang telah berjaga.


“ Selamat malam Non, ” Sapa mereka serempak dan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“ Malam, ” Jawab Anin dengan mengusap kasar air matanya,


“ Kalau begitu kami keluar dulu ya, Nona. Kami permisi, ” Dengan begitu mereka keluar dan Anin duduk di kursi samping ranjang yang sudah di siapkan. Ranjangnya lebar dan untuk berdua pun masih cukup.


“ Assalamu'alaikum mas, ” Sapa pelan Anin dengan mencium tangan Rifa'i.


Ternyata ada dokter yang mengurus Rifa'i dan dokter yang mengurus Rifa'i.


“ Selamat malam Nona muda, ” Sapa dokter pria yang sudah berumur 52 tahun tersebut.


“ Malam dok, ehm mau apa ya? ” Tanya Anin


“ Saya memberitahukan kalau Tuan Muda tidak boleh di ganggu dahulu Nona muda, karena Tuan muda keadaannya belum stabil. Nona, ” Jelas dokter bernama Pak Burhan di papan namanya yang di tempel di snellinya.


“ Iya sudah kalau begitu, saya izin keluar dahulu. Kalau ada apa-apa tinggal pencet bel ini ya Non. Saya keluar dulu, ” Pak Burhan pun keluar dari ruangannya Rifa'i.


“ Mas kenapa kamu jadi seperti ini? Aku tidak menyangka kalau kamu mempunyai masa kelam yang terlalu berat untukmu, sampai kamu butuh perawatan untuk ini semua. ” Dengan begitu tangan Rifa'i bergerak dan Rifa'i pun membuka matanya.


“ Akhhh.... ” Suara dari Rifa'i yang memegang kepalanya dan Anin pun sigap memencet belnya.


Dengan begitu dokter pun cepat menangani dan Anin di bawa keluar oleh suster.


“ Suster tolong ambilkan suntik dan obatnya, ” Suster pun menyuntikkan di infusnya dan Rifa'i pun tidur kembali.

__ADS_1


*******


Anin di luar pun seperti gosokkan yang terus bolak-balik dan pengawal tidak berani berkutik sama sekali. Dari arah belakang ada Rahmat yang berjalan dan pengawalnya.


“ Anin, ” dengan terkejut karena ada menantunya di sini dan Anin langsung memeluk papa mertuanya. Rahmat menerimanya dan mengelus kepala Anin.


“ Pa, bagaimana keadaan mas Rifa'i pa? ” Anin terisak dan Anin melepas pelukan Rahmat.


“ Iya sabar sayang pasti nggak papa kok. Papa yakin kalau Rifa'i itu kuat, ” Rahmat pun duduk di kursi dan menggandeng Anin.


Suster pun keluar dari ruangan dan berjalan menghampiri Anin sama Rahmat,


“ Selamat malam Tuan, Nona. Saya mengabarkan kalau kondisi Tuan muda semakin memburuk, Nona dan Tuan. ” Jelas suster dengan tertawa gembira di hati.


***Bersambung*


Maaf author kemarin nggak up... Author lagi pengen istirahat kemarin karena jempol author masih ada kegiatan lainnya.... Jangan lupa like, komen, dan vote.


Kalau mau silakan follow instagram author ya, karena di sana akan memberitahukan bagaimana kegiatan dari novel ini.


@dindafitriani0911


Terima kasih udah mampir dan Salam halu dari author tersayang 😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2