Menuju Jalan Pernikahan

Menuju Jalan Pernikahan
Membatalkan Resepsi


__ADS_3

Anin pun tertidur pulas dan dia bangun jam 2. Dengan mengucek-ucek matanya dan melihat jam.


"Kok Pak Rifa'i ngga ada. Hm, paling juga belum siap. Ah ya udah daripada ngantuk ini udahan. " Anin pun tidur kembali


********


Rifa'i di kamar dan sesekali berdecak karena kamar ini terlalu kecil untuknya. Rifa'i pun mondar-mandir dan sekali minum.


"Kenapa aku jadi begini? " Rifa'i akhirnya tidur dan sesekali memikirkan perkataan tadi.


********


Pagi hari, suara burung berkicauan dan Anin bangun dari subuh.


"Hm, kok laper ya. " Anin pun ke dapur yang ada di bawah dan di sana sudah ada Rifa'i, Hajar, Rahmat, dan Ibunya.


"Assalamu'alaikum, " sapa Anin sambil menyalami mertuanya, ibunya, dan suaminya.


Tetapi Rifa'i pun menolak dan meninggalkan meja makan. Karena tidak mood untuk makan bersama istrinya.

__ADS_1


Semuanya pun melihat ada kecurigaan dengan Rifa'i.


"Pa, kenapa Rifa'i itu? " Tanya Hajar dengan heran


"Hm, ngga tau ma. Kayaknya ini ada sesuatu yang di umpetin. " Anin ingin sekali rasanya menangis.


" bu, ma, sama papa. Aku mau ke kamar dulu ya. " Dengan begitu mereka juga heran dan Anin mengejar Rifa'i.


"Mas, kamu kenapa? " Dengan langkah yang tertinggal dari Rifa'i.


Anin pun menangis karena semalam pun dia tidak sama sekali di sentuh oleh Rifa'i. Anin tertinggal jauh oleh langkah Rifa'i dan Anin pun istirahat di taman.


"Kenapa aku jadi begini ya Allah. " Anin menangis dalam diam


************


Rifa'i sekarang menelepon papanya dan berada di luar hotel.


"Pa, aku mau batalkan resepsi pernikahan itu. Pa, " Ucap Rifa'i dan langsung mematikan teleponnya.

__ADS_1


"Kamu adalah sosok wanita yang hebat, tetapi kamu bukanlah di hatiku. Aku tidak bisa memenuhi janji yang di berikan orang tua kita untuk menunjang ke masa depan yang akan datang. Aku bukan seseorang suami yang baik buat kamu. Aku butuh istirahat untuk itu semua. Kamu bisa memilih suami yang setia buat kamu sendiri. Walaupun dada terasa sesak untuk di ucapkan, Kamu jangan sekali-kali untuk mengatakan mengeluh. Jangan untuk putus asa di tengah jalan. Bagiku kamu merupakan sosok yang aku sukai. " Ucap Rifa'i di dalam hati sambil menangis di dalam mobil dan menggengam foto Anin bersamanya yang di ambil pada saat lamarannya.


Rifa'i pun menjalankan mobilnya dan menuju ke mansionnya sekarang. Walaupun, hatinya sedikit terluka.


Rifa'i sampai di mansion dan pelayan, pengawal pun menyapa tetapi Rifa'i tidak menjawabnya.


Rifa'i pun naik ke kamar dan termenung untuk memikirkan bagaimana pernikahannya?


****


Resepsi pernikahan pun di batalkan dan Rahmat ingin sekali memarahi Rifa'i karena membuang-buang waktu, uang, dan tenaga itu semua adalah keborosan.


Anin pun kembali di hotel dengan langkah yang di seret karena dia lemas. Dengan begitu ibunya Anin pun membantu Anin ke kamar dan di bawa ke ranjang.


"Nak, kamu istirahat dahulu biar ibu ambilkan minum sama makan. Kamu tadi belum makan, bisa sakit nanti kamu. " Ibunya Anin pun mengambilkan makan dan minum.


Seterusnya Hajar dan Rahmat pun masuk ke kamar Anin


"Assalamu'alaikum nak, " Hajar mendekati Anin dan mencium kening Anin.

__ADS_1


*Bersambung*


Maaf kemarin dan kemarinnya lagi ngga up 2 kali sama ngga up kemarin. Author masih ada urusan di dunia nyata dan ini author curi-curi di tempat sepi biar ada yang baca karena author butuh ketenangan buat menulis part selanjutnya.


__ADS_2