
Jam 04.30 WIB, Anin bangun dari tidurnya dan beranjak dari ranjang. Anin meringis karena bagian bawahnya terasa sakit. “ Aduh, ” dengan begitu Rifa'i mengerjapkan matanya dan melihat Anin yang kesusahan untuk berdiri. Rifa'i beranjak dari ranjang dan menggendong Anin. “ Mas mau ngapain, udah turunin. Malu lah, ” Rifa'i tetap menggendong Anin sampai ke kamar mandi dan menurunkan di bathup. Rifa'i mengucurkan krannya yang air panas dan dingin, dua-duanya di kucurkan. Rifa'i menuangkan sabun dan munculah bisa dari sabun. Anin terkejut karena air mulai naik dan dia belum melepas bajunya. Anin berdiri dan melepas bajunya, tetapi Anin kesakitan kembali di bagian sensitifnya.
Rifa'i ingin sekali melepas baju Anin dan melihat karena kasihan dengan Anin yang susah untuk berdiri. “ Kamu nggak bisa melepas baju ya, ya udah kalau begitu saya lepaskan. ” Rifa'i dengan cepat melepas baju Anin dan melihat t***h Anin yang tak kalah mempesonanya dari semalam.
Terjadilah kejadian panas yang berlangsung dan sampai menjelang setelah subuh. Anin tersadar kalau melewatkan subuhnya “ Mas udah ah, aku mau mandi dulu. Kamu keluar dulu
, nanti kamu lanjut mandinya. Kita bisa telat waktu subuh nanti, ” Rifa'i pun keluar dan Anin mandi,
********
Pagi yang sedikit gerimis membuat Anin mencolek di dapur untuk membuat makanan.
“ Assalamu'alaikum bu, ” sapa Anin kepada bi Ijah dan bi Ijah menyapanya kembali, “ Iya non, waalaikumsalam. ” Jawab bi Ijah dan Anin mengingat kalau Rifa'i setelah sholat subuh tidur kembali karena cuaca sedang gerimis.
__ADS_1
“ Oh iya nona, tuan kemana kok belum turun? ” Tanya bi Ijah sambil membuka kulkas dan membawa sayuran yang ada di kulkas. “ Em... Pak Rifa'inya masih tidur, enak tidur kayaknya.” Anin pun memulai aksinya di dapur, tetapi ketauan dengan bi Ijah. “ Nona mau ngapain? ” Tanya bi Ijah membuat Anin terperonjak kaget dan Anin memukau senyuman untuk bi Ijah, “ Hehehe, ehm itu bu aku mau masak boleh nggak? ” Tanya Anin dan yang jelas saja bi Ijah menolak keras, “ Ehm, nona nanti kalau saya di pecat gimana sama Tuan? ” Tanya bi Ijah karena dia takut sekali untuk di pecat dan bi Ijah bekerja selama belasan tahun, sebelumnya mengabdi di rumah Rahmat.
“ Udah itu urusan saya semuanya, bibi beres-beres itu kulkas. Kayaknya habis semua ya, bibu ke pasar aja ya. Biar ini bagian saya, ” Anin ingin sekali hari ini memasak karena moodnya sedang baik.
“ Iya udah nona hati-hati kalau masak, bibu mau ke pasar dulu ya. ” bi Ijah mengambil tas belanja dan Anin mulai memasak.
**********
Setelah beberapa menit kemudian, Anin selesai masak dan dia mencuci tangannya. Anin naik ke atas untuk menghampiri suami yang sedang tertidur nyenyak. Anin membuka handle pintu dan di sana Rifa'i sudah memakai baju yang rapi. “ Assalamu'alaikum mas, ” Sapa Anin dan Rifa'i tersenyum kepada Anin. “ Waalaikumsalam sayang, ” Jawab Rifa'i dan tersadar apa yang dia katakan tadi membuat hati Anin terpojok. “ Eh iya kamu tadi yang udah siapkan ini baju di ranjang? ” Tanya Rifa'i, “ Iya, kalau begitu kamu turun gih, udah aku siapkan makanannya. ” Rifa'i membuka lacinya dan mengeluarkan kotak jam tangan dan Rifa'i memberikannya kepada Anin. “ Hehehe pasangin ya, ” Anin mengangguk dan memasangkan jam tangan tersebut ke tangan Rifa'i. “ Ya udah yuk! Aku udah laper. ” Rifa'i menggandeng tangan Anin dan menarik handle pintu. Mereka berjalan ke tangga dan Anin pun kaget dengan sikap Rifa'i seperti ini. “ Oh iya mas nanti fitting bajunya dimana? ” Tanya Anin dan sampailah di meja makan.
“ Tapi mas aku itu juga bosen mau apa gitu, aku juga butuh keahlian bukannya seorang istri itu harus bisa melayani secara lahir dan batin sesuai janji pernikahan itu. Kalau aku melanggar semuanya, aku harus di cap durhaka sama suami mas. ” Anin terasa moodnya kurang baik dan Anin berdiri meninggalkan Rifa'i yang termenung dengan perkataannya.
“ Apa coba salahku? Emang aku ngomong apa ya tadi? ” Rifa'i memikirkan ulang perkataannya dan baru saja teringat. “ Aduh bisa gawat ini, pantes aja kalau Anin marah. ”
__ADS_1
Rifa'i pun menghampiri Anin yang melamun di taman dan sekarang cuacanya masih gerimis membuat Rifa'i mengambil payung. Rifa'i terduduk di rumput taman dan memayungi Anin yang sedang menangis. “ Mas apa coba salahku untuk melakukan janji sakral kita? ” Anin mencabut-cabut rumput dan menangis membuat hati Rifa'i tersakiti. “ Iya maafkan mas, tadi mas salah ngomong. Ya udah sekarang kamu berdiri dan aku minta maaf, kalau kamu mau itu. Kamu boleh lakukan, mas nggak marah lagi kok. ” Rifa'i langsung memeluk Anin dan mengecup kening Anin. “ Yuk kita ke rumah, kamu nanti sakit gimana? Besok nggak jadi upacara lagi. ” Rifa'i membantu Anin berdiri dan membawa Anin masuk ke dalam rumah. Anin tersenyum senang di lubuk hatinya karena boleh menyentuh apa-apa.
* Bersambung *
hahaha 😂😂 Anin bikin kekel sebenarnya itu Anin pura-pura buat nangis, tapi aapa jadinya. Biarlah mereka begitu... Muehehe 😅😅😅
Maafkeun author ini ya!!
**PENGUMUMAN PENTING!!!
Author butuh libur dulu man teman, author mau libur up dulu sekitar 15 Hari aja man teman.... ya nanti author kasih bonus buat kalian.... Author jarang up nanti ya, bukan hiatus selama itu.... Author akan selalu menyempatkan waktu untuk ke sini.... Butuh ketenangan dulu man teman.... Author mau hiatus dulu, author mau UAS ( ULANGAN AKHIR SEMESTER), tapi dan tapi author akan selalu menyempatkan waktu untuk belajar dan up di sini... Author akan membagi waktunya..... Huhuhu 😭😭😭
" SELAMAT TINGGAL PEMBACAKU "
__ADS_1
SALAM HALU UNTUK KALIAN.... UH MUACH**...