
Pagi hari ini Anin bangun dari tidurnya karena selepas subuh Anin tidur kembali. “ Hoam... Ah sekarang mau siap-siap dulu, ” Anin pun turun dari ranjang dan melirik Rifa'i yang masih mimpi indah di balik selimut. “ Udah lah, aku mau masak dulu nanti tinggal siap-siap. ” Anin membuka handle pintu dan berjalan turun ke tangga.
“ Assalamu'alaikum bu, ” sapa Anin kepada bi Ijah. “ Waalaikumsalam nona, nona mau masak ya? Ya udah kalau begitu saya permisi dulu mau ke belakang, ” Ucap bi Ijah dan Anin mengangguk. Anin memulai masak dan memotong-motong sayurannya. “ Huh capek juga ya, ” Anin mencuci sayurannya dan tiba-tiba ada yang memeluk dari belakang. “Plak, ” Suara Rifa'i yang memukul lengan Anin. “ Hahaha, istriku ini bikin menggoda setiap hari. Ikat rambut nggak usah di giniin, nanti di lihat pengawal nggak enak lihatnya. ” Rifa'i melepas ikat rambutnya dan Anin menantang Rifa'i. “ Ih mas kamu ini gimana orang namanya mau masak, ya panas lah. Gerah tau nggak, ”
“ Nggak tau, makanya itu aku suruh buat lepas ikat rambutnya. Kalau mau pakai hijab di dalam rumah, jadi nanti nggak di lihat siapapun kecuali suamimu. ” Jawab Rifa'i dan membawa Anin kedalam pangkuannya. “ Oh iya yang, kita belum itu-itunya lho. Kemarin malam aja cuma 3 ronde, ” Ucap Rifa'i dengan ungkapan sebenarnya. “ Mas kamu ini apaan? Itu gosong nanti masakan ku, ” Anin berlari ke kompor dan benar saja ucapannya tadi. “ Kan bener kan, ini gimana lagi? Bener-bener ya, ini kamu makan. Makan biar nggak mubazir, awas aja kalau nggak makan. ” Anin menuangkan lauk yang gosong itu ke dalam piring dan meletakkan di hadapan Rifa'i. “ Makan ini, aku mau buat lagi. Kamu makan ini, kalau nggak nanti itunya aku itu-itu ya. Sayang makanannya kalau di buang, ”
__ADS_1
“ Yang kamu ini beneran, aku nanti kalau sakit perut gimana? Ini juga pait lah masa iya mau di kasih aku yang, di kasih kucing aja kucingnya mabok makananmu yang. Bisa-bisa klenger nanti, apalagi aku? ” Ucap Rifa'i dengan menghindari makanan yang begitu di mulut sampai dia membayangkannya saja membuat lidah mati rasa. “ Oh gitu ya, aku suapin ya biar paitnya hilang. Ini aku nggak jadi masak buat suamiku yang paling ganteng sendiri, ” Anin mengambil sendok dan Rifa'i tetap saja tidak mau. “ Yang kamu aja yang makan, aku nggak. Nanti kalau kamu makan pertama, aku susulin buat makan ini. ” Jelas saja Anin tidak mau di dalam hatinya, “ Aku ya bisa mati klenger gara-gara makanan gosong aja, nanti bisa masuk berita trending topic lagi. ” Ucap Rifa'i di dalam hati karena Rifa'i anak dari pengusaha, masuk tv, masuk ke dunia sosmed bisa-bisa hancur reputasinya di dunia ini. “ Orang ayam aja lari di kasih makan gosong kayak gini? Apalagi aku? Hahaha bisa hancur semua. ” Rifa'i pun tidak mau lagi melihatnya, rasanya ingin kabur dari masakan tersebut.
“ Ya udah kalau begitu, mau nggak mau harus di buang ini yang. Daripada lidah nanti mati rasa, gara-gara ini. Bisa hancur nanti ke dokternya, ” Anin mengangguk dan memikirkan kembali, Anin membuang makanan tersebut ke kotak sampah. Rifa'i lega hatinya karena tidak jadi memakan makanan gosong. “ Uhh bebas dari hambatan, ” Ucap Rifa'i dan terdengar di telinga Anin. “ Apanya yang bebas dari hambatan? ” Tanya Anin dan membuat Rifa'i meninggalkan Anin. Berlari sekencang mungkin,
#Catatan kotor....
__ADS_1
* Bersambung *
Jangan lupa untuk like, komen yang positif, dan vote. Nggak usah banyak-banyak dukung author pakai like aja senengnya minta ampun.... Terima kasih udah like di akhir cerita ini ❤❤
Kalau mau mampir ke instagram, boleh follow instagram author,
__ADS_1
@dindafitriani0911
Salam buat kalian semua lope lope ❤❤❤