
Hajar sekarang ada di dapur dan membuat kue.
Hajar memecah telur dan mengaduknya hingga tercampur.
Di luar ada suara klakson mobil dan ada yang mengetuk pintu. Hajar pun membuka pintunya dan ternyata kedatangan yang tidak dia inginkan.
"Good morning my sweety, " sapa Rahmat dengan tersenyum bahagia
"hm, " dengan menutup pintunya kembali dan Rahmat tersenyum
"oh main begituan ya, siapa takut aku akan dobrak ini pintu kalau kamu ngga keluar karena orang tuamu sudah mendukung aku, " karena sekarang Hajar tinggal di kontrakan kecil di Belanda. Semua bisnis papanya akan hancur jika Hajar tidak mau balikan lagi sama Rahmat.
Hajar tidak mau dia terikat dengan siapapun sekarang dan dia ingin menikmati udara segar.
Hajar pun membuka pintunya dan Rahmat main cium saja. Rahmat pun memeluk istrinya dan membawanya masuk.
"Tuan saya sudah bilang beberapa kali, jangan sentuh kembali saya karena saya tidak mau mempunyai suami mafia. Semua itu perbuatan keji dalam dunia ini, saya saja tidak terlalu mendalami ilmu agama tetapi saya semua tau tentang agama. "Nasehat Hajar dengan penekanan.
" Iya aku juga tau tetapi apa dayanya seorang manusia dalam dunia ini yang penuh kekejaman dan semua itu hanyalah beberapa saat, aku minta maaf kalau itu semua. Aku janji akan meninggalkan geng mafia ku dan bisnis ku. Kita sama-sama memulai hidup dari nol kembali biar semua itu aku juga merasakan bagaimana caranya mendapatkan uang dari usaha kecil-kecilan. "Jujur Rahmat karena dia ingin sekali bahagianya orang di bawah dengan hidup sederhana.
" Alah itu semua cuma akal belang bulus Tuan saja, karena Tuan sudah mengingkari janji Tuan kepada saya pada saat itu. "Ucap Hajar karena dia tidak percaya dengan yang di bicarakan Rahmat sekarang.
__ADS_1
" Yang jangan begitu dong, aku udah minta maaf kenapa? nasi sudah menjadi bubur, yang berlalu sudah kita jadikan hikmahnya saja dan kita hidup baru kembali ya. "Rahmat menggenggam tangan Hajar dan membawanya di hati.
" Jika kamu tidak percaya, kita sudah tua. Apakah semua harus menjadikan dendam di hati? tidak yang, karena kita harus di jadikan motivasi buat anak, menantu, dan cucu sampai cicit kita nanti. "
"Ya, sebenarnya saya sudah menjadikan ini untuk hikmah tetapi saya orangnya tidak suka yang namanya mengingkari janji itu seperti orang penghianat dalam keluarga. " Karena Hajar tidak sanggup akhirnya menangislah di pelukan Rahmat.
"Saya tidak mau dalam rumah tangga itu ada rahasia yang selalu dijaga selama bertahun-tahun... Hiks... Hiks... Sruuup, " dengan mengelapkan air matanya dan ingusnya di jas Rahmat yang harganya jutaan lebih.
Rahmat pun tidak marah sama sekali karena sepertinya Rahmat kangen bersanding dengan Hajar. Di masa sederhana yang dia lihat orang sederhana pastilah hidupnya bahagia dan membawa ladang keberkahan.
"Sudah yang jangan terlalu di pikirkan karena sekarang kita fokus ke pernikahan anak kita. Selanjutnya semua hartaku sebagian akan ku sedekahkan ke panti asuhan, pondok pesantren, masjid, dan orang-orang yang berhak menerima uang. Sebagian lagi aku akan wariskan ke cucuku nanti dan cicitku nanti. Kita sama-sama menikmati hidup yang sederhana dan penuh kebahagiaan. " Ucap Rahmat
Rahmat dan Hajar membuat kue. Rahmat yang menakar terigu dari centong plastik dengan tangannya sendiri dan menaruhkan terigu ke dalam baskom. Di aduk dengan kocokan telur yang di buat oleh Hajar tadi.
Rahmat mulai iseng dan menampolkan terigu ke wajah Hajar karena Hajar ingin mengambil wadah dan sendok.
"Mas jangan iseng deh, ini mau buat kue apa mau mainan... "
"Hahaha cantik banget ini istriku, wuiih kaya bidadari surga jatuh dari surga ke bumi buat jemput pangeran tampan.... "
"Alah mulai pujiannya, la wong wes ngerti iki putih kabeh kok dadi bidadari surga anehh banget we ki mas-mas. "
__ADS_1
"Apa artinya aku aja ngga maksud? " tanya Rahmat karena dia tidak bisa bahasa Jawa.
"Ya artinya pikir aja sendiri... Da dadah aku mau ambil cetakan adonannya di lemari belakang. " Rahmat cuma menggeleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.
"Kebahagiaan bukanlah dari kemewahan tetapi hidup sederhana yang membuat barang itu berarti dan ketenangan hidup akan lah datang dengan sendirinya. " Pesan Rahmat
**Bersambung
Deng deng bunyi alarm.... Huh capek juga akhirnya selesai dan aku singkat aja kagak perlu lama-lama. Oh iya author mau nanya nih sequel orang tuanya Rifa'i mau sampai di sini, atau lanjut di sini, dan apa lapak sebelah yang aku dah hapus profilnya sama udah aku tamatkan. Kalau di lapak sebelah maunya teman-teman bagaimana?
A. Masa lalu,
B. Masa yang selanjutnya setelah ini.
Kasih jawaban di komentar ya dan jangan lupa like dan vote kagak maksa. Author minta pendapat ke kalian karena author pengen dapat karya/ide baru dari kalian.
Terima kasih atas semua dukungan para teman-teman yang sudah mengikuti alur novel ini. Novel ini alurnya kemana ya? kok setiap saat di potong terus... Hehehe maaf author kalau ngikutin alur bakalan lama kagak kelar-kelar ceritanya. Maklum masih sekolah jadi, pemikirannya agak ngga jauh-jauh dari ilmu yang di dapatkan di sekolah.
Oh iya jangan lupa balas tu pertanyaan dari author ββΌ Suarakan komentarnya πππ
biar author baca nanti.... Jangan yang pedas-pedas ya nanti author kasih cabe 100 kilo buat habiskan dalam waktu 1 detik..... Hehehe candaπππ**
__ADS_1