
Oke semangat untuk berkarya 😘😘😘
Saat pagi hari Rifa'i langsung bangun karena jam yang ada di meja sampingnya berbunyi dan sekarang telah pukul 04.40, dia langsung mandi dan untuk bersiap-siap untuk wisuda. Dia langsung keluar dari kamarnya dan menuruni tangga. Rifa'i langsung ke meja makan.
"oh iya bi mana mama? " tanya Rifa'i kepada bi sum sambil mendaratkan bokongnya di kursi
"ehm... ngga tau den... kayaknya Nyonya masih di kamar... " jawab bi sum
Dengan begitu Rifa'i berjalan menuju kamar mamanya
"ma, yuk kita berangkat nanti aku telat lho ma... " ajak Rifa'i sambil mengetuk pintu mamanya
Dengan begitu yang di dalam mereka masih melakukan pergulatan yang panas dan kamar mereka kedap suara jadi tidak akan kedengeran jika di luar
"mas udah ah.. tu anak kamu manggil... " ucap Hajar dengan menyelesaikan pergulatan mereka.
"iya, oke aku mau mandi dulu kamu beresin itu... " ucap Rahmat menunjuk benda yang di bawah yaitu baju mereka dan mencium leher dengan pipi dan kening Hajar
"iya, udah sana ah... " ucap Hajar sambil memberesi baju Rifa'i dan memakai bajunya kembali
Dengan begitu cepat Hajar langsung membuka pintunya dan Rifa'i langsung masuk begitu saja. Sungguh mengejutkan di sangka-sangka karena kenapa ranjang nya begitu berantakan.
"Ma, kenapa ranjang mama berantakan sih dan mama juga belum mandi... " Tanya Rifa'i
"ehm... oh iya Rifa'i kamu duluan aja sarapan nya dan ke kampusnya nanti mama nyusul deh... " dengan cepat Hajar langsung mengalihkan pembicaraannya
"ehm... ya udah deh kalau gitu... mama ngga jadi bareng sama aku... " tanya Rifa'i
"engga deh... mama nanti sama mang deni nanti... " ucap Hajar dengan mengusir Rifa'i
__ADS_1
"oke, da mama... muach... " ucap Rifa'i sambil melambaikan tangannya dan mengecup pipi Hajar
"aneh mama... itu ya... udah ah aku mau makan dan ke kampus... " gumam Rifa'i sambil mengeleng-geleng kepalanya
Dengan cepat Rifa'i langsung menuju ke meja dan memakan sarapannya. Rifa'i langsung menuju mobilnya
"mang, mana kunci mobilnya... " ucap Rifa'i kepada mang Darso
"ini den... Aden mau berangkat sendiri... " tanya mang Darso
"iya mang... " ucap Rifa'i sambil membuka pintu mobil nya
"bro bukain gerbangnya ya... " ucap mang Darso
"iya... " ucap bambang
Dengan selanjutnya Hajar dan Rahmat menuju meja makan untuk makan bersama.
"sebenarnya mas ngga nge restuin sih, tapi mau gimana lagi... aku mau kamu menjadi senyuman aku setiap hari jadi sebagai penggantinya... " ucap Rahmat
"hem ya udah... " dengan senyuman yang indah makan Rahmat langsung mengecup bibir Hajar karena baginya senyuman istrinya adalah menggoda Rahmat yang ingin menyerang langsung istrinya, tetapi dia masih menjaga dirinya untuk tidak menyerang istrinya disana.
sampai saat itu, akhirnya mereka berangkat ke kampus untuk menghadiri undangan para orang tua untuk melihat anaknya wisuda yang telah menjadi AKPOL (Akademi polisi) .
Sesampainya mereka disambut dengan baik oleh dosen, dekan, rektor, dan yang bersangkutan dengan kampus karena mereka tau jika Rahmat dan istrinya adalah orang terlalu berharga di negara ini.
"Terima kasih... atas kehadirannya Pak... bu telah menghadiri acara kami... " ucap (Prof. Dr. Irjen pol. Johnny Natsir, S.H)
Dengan begitu acara selesai dan pada akhirnya Rifa'i langsung mendapatkan gelar sarjana (S.Tr.K)
__ADS_1
Rifa'i langsung menuju ke ibunya Hajar dan dia jelas saja bertemu dengan Rahmat
"kenapa dia ada di sini, aku ngga butuh kehadiran mu... " ucap Rifa'i langsung begitu meninggalkan mereka dan mereka sambil mengejar Rifa'i
Rifa'i langsung mengendarai mobilnya dan menuju ke rumah nya dengan kecepatan tinggi untuk mengambil Barang-barangnya.
Justru sebaliknya mamanya khawatir karena anaknya menuju ke rumah pasti dia akan selalu kabur untuk menyelesaikan masalah nya sendiri sampai benar benar reda masalahnya.
Sesampainya dirumah mereka
"Rifa'i kamu jangan pergi... kalau kamu pergi kamu kembalikan fasilitas yang papa berikan ke kamu... " ucap Rahmat dengan marah
"oke aku akan kembalikan fasilitas yang kamu punya dan satu lagi kamu ngga pantas di panggil papa yang sedari kecil ngga pernah ada namanya kamu memberi aku kasih sayang secara batin cuma secara lahir, aku butuh keduanya bukan satu aja .... ngerti kamu.... " ucap Rifa'i dengan menangis karena emang dia begitu sayang kepada papanya dan Rifa'i jika sakit pasti dia menyebut nama papanya.
"oke silahkan aja... kalau kamu betah jadi gelandangan di luar saya ngga akan bertanggung jawab... " ucap Rahmat, sebenarnya dia sedih karena harus kehilangan anaknya.
"jangan mas... aku ngga rela kalau Rifa'i jadi gelandangan diluar mas... " ucap Hajar dengan menangis sambil memeluk Rifa'i agar Rahmat ingin membalikkan omongan nya tadi
"maafkan aku ya ma... aku ngga bisa... " ucap Rifa'i
"Jangan nak! kamu mau kemana nantinya?" Hajar pun ngga rela dan mencegah Rifa'i untuk tidak pergi meninggalkan dia karena nantinya siapa yang setiap saat Hajar membutuhkannya.
"Udah ma, aku mau di dekat kampus aja karena di sana banyak teman-teman. Dan aku akan belajar lagi di sana untuk mendapatkan ilmu sama memperluas ilmu." Dengan berangkat dan ber siap-siap dan di bantu oleh Mang Darso.
*Flashback On*
*BERSAMBUNG*
oh iya jangan lupa LIKE, KOMEN, DAN VOTE sesuai hati kalian masing-masing ya... jangan lupa tambahkan ke favorit... maaf nanti akan di sambung lagi ceritanya.
__ADS_1
SALAM HANGAT DARI AUTHOR 😘😘😘