
Anin tersenyum dan bahagia bisa menjadi ibu bhayangkari seperti sekarang karena kehadirannya sudah di tunggu oleh ibu bhayangkari. Sebagai istri sebagai kepala kapolres, dia menyertakan kehormatan sebagai istri dari kepala kapolres. “ Allhamdulilah ya sekarang kamu udah gabung dengan ibu-ibu di sini. Kita semua juga akan menjaga kehormatan sebagai ibu bhayangkari, walaupun berbeda-beda pangkat kita harus saling menghormati. ” Ucap Ibu Anisa, “ Iya bu, ” Ucap Anin.
Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya upacara selesai dan proses foto-foto pun selesai. Anin lelah dan letih pada akhirnya duduk termenung di taman. Anin minum dengan minuman yang telah tersedia di sana,
“ Sebuah ukiran ternama, dari awal aku belum sedikitpun tertarik dengan laki-laki. Pada awal, aku mempunyai cerita dan pada akhirnya aku menjadi istri dari seorang polisi bernama Rifa'i Wijaya Koesomo. Aku tertarik dengannya karena akibat perjodohan itu. Walaupun aku pertama kali bertemu, aku menjadikan itu sebuah alasan untuk mengetahui laki-laki yang menjadi suamiku sekarang. Indahnya duniawi ini seperti ada penerangan untuk menerimanya. Seperti jalan untuk menuju masa depan yang akan datang. Mudah-mudahan pernikahan kami abadi sampai akhir hayat nanti, amiin ya robbal alamiin. ” Ucap Anin di dalam hati sambil menangis karena bahagia.
Anin menjadikan upacara ini sebagai kenangan yang terindah untuknya. Rifa'i diam-diam termenung dan menyaksikan kisah cinta pertamanya. Rifa'i tidak memikirkan jauh-jauh dan dia mendekati Anin yang terduduk di kursi taman.
“ Assalamu'alaikum, ” Sapa Rifa'i dan duduk di samping Anin. “ Waalaikumsalam, oh iya mas kita pulang nanti ke rumah ibu dulu ya! Mas, Aku kangen sama ibu, ” Ucap Anin karena sudah satu minggu belum bertemu ibunya. “ Iya, nanti kita ke sana. Sebelum itu kita ke mall dulu buat beli oleh-oleh. Kasihan ibu jugaan, kalau nggak di bawakan oleh-oleh. ” Ucap Rifa'i mengambil makanan di sana. “ Iya, tadi nggak sempet buat ketemu ibu. Katanya mau ada acara di rumahnya Pak Abram, tetangga sebelah. ” Ucap Anin. “ Oh iya udah pada bubar jugaan, apa kita pulang aja ya mas? Jugaan udah mau sore ini. ” Rifa'i mengangguk dan merogoh kunci mobil di saku celananya. “ Yuk, kita pulang. Beres-beres dulu, baru ke mall sama ke rumah Ibu. Nanti nginap aja di rumah Ibu, ” Ucap Rifa'i menggandeng tangan Anin.
“ Iya mas, tapi emang nggak papa kamu tidur di sana. Nanti takutnya kenapa-napa? ” Ucap ragu Anin, karena selama ini dia memandang kalau anak orang kaya biasanya sombong dan tidak mau menjadi teman orang miskin. “ Kamu ini apaan, aku juga suamimu. Masa iya aku nggak mau ke rumah kamu juga, rumahmu juga rumahku. Semuanya sama, dulu juga mamah pernah bilang. Kalau harta cuma titipan semata Allah SWT untuk orang yang di uji dan tidak selalu memandang orang yang tidak punya apa-apa. Semua itu hanya sementara, orang yang selalu diatas bukan berarti kita selalu di atas. ” Ucap Rifa'i membuat hati Anin ikut merasakan hal sama. “ Ya udah yuk kita pulang! Udah gerah ini jugaan, ” Ucap Anin. Mereka pun berjalan di parkiran mobil dan Rifa'i membukakan pintu mobil untuk Anin. Menutupnya kembali, Rifa'i memutar dan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
“ Mas nanti kalau nginep 3 hari ya, aku kangen juga sama masakan ibu. ” Ucap Anin dengan menyibakkan hijabnya karena agak panas. “ Oh iya nanti, itunya biar aku siapkan bajunya. ” Rifa'i mengangguk dan fokus ke jalan dengan kecepatan sedang. Sampailah mereka di mansion dan Mang Jalal membukakan pintu untuk Rifa'i. “ Selamat datang kembali mas, udah selesai acaranya. ” Ucap Mang Jalal, “ Iya Pak. Makasih kalau begitu saya masuk dulu, Pak. ” Dengan begitu Rifa'i memakirkan mobilnya di teras rumah.
“ Selamat datang tuan, maaf mobilnya saya masukkan atau tidak tuan. “ Ucap pengawal yang ada di depan pintu, “ Nggak usah nanti Pak Romi suruh siap-siap buat ke rumah Ibu mertua saya, ” Ucap Rifa'i sambil mengasihkan kunci mobil itu ke pengawal tersebut.
Anin masuk terlebih dahulu dan Anin berjalan ke arah dapur untuk menghilangkan dahaganya karena memakan waktu yang cukup panjang. Anin duduk dengan gaun yang masih menempel dari upacara pagi tadi. Anin sebenarnya gerah dengan baju ini, tetapi mau nggak mau dia harus memakainya. Anin masuk ke dalam kamar dan melihat ranjang, akhirnya Anin tidur di ranjang.
*********
Rifa'i berjalan ke anak tangga dan menuju ke kamar. “ Assalamu'alaikum yang, ” dengan membuka handle pintu dan Rifa'i melihat Anin yang sudah mimpinya kemana? “ Astagfirullahalazim yang, kamu ini ya belum juga mandi udah main tidur aja. Tapi kasihan juga kalau di bangunkan, ” Rifa'i tidak mau ambil pusing dan dia berdiri menuju ke kamar mandi untuk menghilangkan panas. Beberapa menit kemudian, Anin tersadar kalau dia tidur. “ Astagfirullahalazim, aku ketiduran ini. Ya Allah aku lewat Bates lagi udahan, ” Karena itu Anin main masuk ke kamar mandi dan sesempatnya itu, Anin melihat pemandangan yang begitu menakjubkan baginya. “ Aduh ini gimana? Nanti kalau mas Rifa'i tau bisa kacau. Nggak bisa di penuhkan hasratnya, bisa aku yang jadi umpan nanti. Weh, ” Anin mengendap-endap seperti maling dan benar saja, “ Ehm, ” Rifa'i sekarang ada di hadapannya.
“ Eh mas Rifa'i, ” Anin melihat ujung dari ujung. Ternyata Rifa'i t******g dada dan membuat hati Anin bergetar. “ Wuih, gimana ini? ” Ucap di dalam hatinya. Rifa'i langsung menggendong Anin dan membuka semuanya.
__ADS_1
*********
Setelah mandi pun, akhirnya mereka menyudahi permainan mereka dan Anin sedang menyisir rambutnya. Rifa'i tiduran di ranjang, menunggu waktu adzan maghrib kumandang. Anin mendekat di ranjang dan Rifa'i memegang handphonenya. Mengecek grup, untuk melihat informasi tentang pekerjaannya. “ Oh iya mas, aku mau tanya boleh? ” Ucap Anin dan membuat Rifa'i meletakkan handphonenya di nakas. “ Iya mau tanya apa emang? ” Ucap Rifa'i dengan membalikkan tubuhnya dan Rifa'i menepuk pahanya biar Anin bisa tidur diatas pahanya. “ Ehm, iya. ” Anin mengerti itu dan langsung meletakkan kepalanya di paha Rifa'i. “ Mas selama kamu ini, aku boleh ikut campur dengan barang pribadi kamu itu. Boleh apa nggak? ” Tanya Anin dan Rifa'i mengelus rambut Anin. “ Iya boleh lah, ini aku mau kamu pake ini ya. Tapi, harus menyisihkan uang dari ini buat di sedekahkan untuk orang fakir miskin. ” Rifa'i merogoh dompet di celananya dan mengeluarkan kartu ATM. “ Ini ya, jaga baik-baik. Gunakan seperlunya, ” Ucap Rifa'i dengan mengelus rambut Anin dan Anin pun mengangguk.
Adzan berkumandang, Anin dan Rifa'i berdiri. Mereka melakukan sholat maghrib berjama'ah di mushola mansion ini.
TAMAT
Maafkan author ini, sebelumnya nanti author akan beritahukan kepada kalian semua tentang lanjutan novel ini ya!! **Selamat Tinggal Pembaca Setia Novel ini..... Mudah-mudahan kalian semua bisa ambil inti sarinya, maaf author tidak bisa seperti yang di bayangkan. Author berbeda dengan orang lain, author butuh informasi detail. Butuh yang itulah dan butuh semuanya. Terima kasih udah membaca novel ini, walaupun sebelumnya ini novel alurnya tidak jelas dan bahasanya kurang memaknai untuk kalian semua. Mudah-mudahan selalu di maafkan, author emang butuh kedapatan untuk melakukan sebuah awalan. Awalan biasanya banyak kedapatan untuk melakukan kesalahan, sebenarnya juga author melihat komentar pedas bagi author sendiri. Tetapi, author berikan apresiasi untuk orang yang berkomentar tersebut!! Janganlah menilai untuk sesungguhnya, tetapi butuh kemajuan juga untuk karyanya!! Sungguh mulia hatinya untuk melakukan komentar, karena komentar akan selalu ku dapatkan untuk menuju jalan menegakkan semangat. Maafkan author ini ya 🙏🙏🙏
Jangan baca!! Skip aja nggak papa, ini juga curhatan author kepada kalian semua**.....
__ADS_1