Menuju Jalan Pernikahan

Menuju Jalan Pernikahan
Terkunci


__ADS_3

Rifa'i pun membawa Pak Romi ke taman dan Rifa'i duduk di kursi taman. Pak Romi di dampingi pelayan dan pelayan membawakan minuman sama makanan.


“ Ini Tuan, kalau begitu saya permisi. Tuan, ” Ucap pelayan dengan menyodorkan minuman dan makanannya.


“ Ya, bagaimana Pak, pembangunan di sebelah udah selesai apa belum? ” Tanya Rifa'i dengan meminum jus jeruknya dan Pak Romi gugup karena tidak pernah bertemu dengan Rifa'i. Pak Romi di utus untuk menjadi Asisten pribadi Rifa'i.


“ Ya Tuan, pembangunan semuanya hampir selesai. Tidak ada kendala apapun Tuan, ” Jawab Pak Romi dengan mengusap-usap telapak tangannya.


*********


Anin tersadar dan terbangun, Anin langsung terkejut karena kamar yang bernuansa mewah dan megah.


“ Kamar siapa ini? Aduh aku dimana ya? Coba inget dulu nin, kamu kumpulin nyawa kamu. ” Dengan memikir-mikir dan pada akhirnya ketemu ‘ Mansion ’


“ Hah tapi mas Rifa'i mana ya? Aduh kamar ini luasnya minta ampun dari kamarnya mas Rifa'i di rumah papa. ” Anin berjalan menuju ke pintu dan pintunya pun tidak bisa di buka,


“ Aduh ini kenapa lagi? Tolong-tolong, ” Anin mulai panik dan kamarnya pun kedap suara. Jadi, tidak terdengar oleh siapapun.


“ Tolong ini gimana lagi, aduh? ” Dengan panik, akhirnya Anin menemukan jalannya yaitu jendela. Anin berjalan menuju ke jendela dan ternyata sudah ada pagarnya.

__ADS_1


“ Aduh gimana ini? Bisa mati lemes kalau begini, ” Anin panik setengah mati dan menangis karena panik


*******


Rifa'i baru teringat kalau Anin ada di kamar utama. Dia masih mengecek rumah sebelah dan hampir jadi.


“ Pak kalau begitu saya pulang dulu, istri saya takutnya bangun nanti. ” Rifa'i pamit dengan pekerja di sana dan mereka mengangguk.


Pak Romi menghantarkan Rifa'i ke rumah dan Rifa'i berjalan ke kamar utama. Rifa'i membuka dengan sidik jari dan pintunya terbuka secara otomatis.


“ Assalamu'alaikum neng, astagfirullahalazim neg kamu kenapa? ” Dengan begitu Anin memeluk Rifa'i dan Rifa'i bingung,


“ Ya maafin mas, tadi mas tinggal nggak lama. Kamunya udah bangun, udah kamu nggak usah nangis. ” Dengan mengelap air mata Anin dengan jarinya.


“ Ya mas, ” Anin melepaskan pelukannya dan Rifa'i melepas sandalnya. Rifa'i dengan begitu masuk ke kamar mandi dan membersihkan tangannya.


“ Oh iya mas ini rumah siapa? ” Anin bertanya kepada Rifa'i yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“ Iya ini rumah kita berdua nanti, sebenarnya ini rumahku. Tetapi bila aku nikah nanti aku akan tinggal bersama istri dan anak-anakku nanti. ” Rifa'i mengambil tisu dan mengelapnya di kening karena panas-panasan tadi. Rifa'i melepas jam tangannya dan meletakkan di meja.

__ADS_1


“ Wah ini beneran mas, kamu yang punya. Waduh kok jiwa misquen ku bergetar ya mas, ” Rifa'i tersenyum karena melihat gemas istrinya,


“ Iya, nanti juga kelamaan nggak. Ini udah siang lho neng, kita makan dulu yuk. Mas udah laper, nanti jangan malu sama gelas suami. ” Anin mengikuti Rifa'i dan sampailah di meja makan.


“ Kok kecil sekali ini meja, cukup emang mas buat berdua? ” Rifa'i menarik bangku untuk Anin dan Anin mendaratkan bokongnya di kursi.


“ Iya di cukupin aja, timbang nggak cukup. ”


* Bersambung *


wkwkwk aduh ini gimana? Author bikin drama terus, kapan konfliknya? Hayuk kepoin terus, ya... Jangan lupa like, komen, dan vote


jangan lupa juga buat mampir ke instagram aku ya... follow balik nanti,


@dindafitriani0911


Terima kasih atas semua dukungan para teman-teman yang berbahagia di novel ini....


Lope-lope buat kalian, salam halu.... Bye bye

__ADS_1


__ADS_2