Menuju Jalan Pernikahan

Menuju Jalan Pernikahan
Menyusul


__ADS_3

Rifa'i merasa ada sesuatu yang hilang karena di rumah tidak ada siapapun kecuali pengawal dan pelayan yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Rifa'i bertanya kepada Jalal


"Assalamu'alaikum mang, " dengan begitu Jalal terkejut karena ada Rifa'i.


"Waalaikumsalam den, Aden mau apa? " tanya Amang Jalal.


"Itu papa sama mama kemana ya? dari tadi Rifa'i ngga ketemu biasanya akur aja. " Karena dari pagi hingga sore Rifa'i belum bertemu dengan papa dan mamanya


"oh Tuan sama Nyonya, saya ngga tau den. Coba tanya aja sama Nyonya dan Tuannya sendiri den. " Dengan begitu Rifa'i menelpon mamanya dan papanya tetapi sama sekali tidak ada yang menjawab hanya operator yang menjawab.


Jalal masih di sana dan menunggu jawaban dari Tuan dan Nyonyanya.


"Bagaimana den? udah di jawab apa belum? "


tanya lagi


"belum mang, " jawab Rifa'i karena semakin hari sudah malam dan Rifa'i tetap saja menelpon mama dan papanya


"aduh ni pada kemana ya papa sama mama kok ngga ada yang jawab dari telepon aku. Padahal aku kan butuh penjelasan kenapa semuanya menghilang tiba-tiba. " Dengan mondar-mandir dan akhirnya Rifa'i duduk karena kelelahan mondar-mandir.


__________________________


Amsterdam, Belanda


Hajar dari kemarin sudah di Belanda dan sekarang makan bersama papa dan mamanya. Dari kemarin mamanya selalu bertanya kemana si Rifa'i kok nggak diajak?


*Flashback Off*


Hajar sampai di rumahnya yang mewah dan megah. Terbukalah pintu gerbang dan melewati beberapa tahapan terlebih dahulu. Benar-benar ketat papanya sampai rumah di jaga oleh pengawal dan bodyguard. Sampai Hajar melihat mamanya di depan pintu dan Hajar langsung lari memeluk mama Rina. Hajar menangis dalam dekapan mama Rina.


"Nak kamu kenapa? kok ke sini ngga bilang udah tau-tau di Belanda saja. " Dengan begitu mama Rina membawa Hajar masuk dan Hajar terpukau karena benar-benar megah sama mewah.


"Ma, dimana papa kok ngga ada? " tanya Hajar dengan celingak celinguk


"papa masih di kantor. Jadi, kamu tunggu saja dahulu. " Dengan duduk, Hajar langsung di sapa ramah tetapi mama Rina menjawabnya dan menyuruh pelayan buat membubarkan diri.


"Oh iya nak kemana menantu sama cucuku? " dengan begitu Hajar ingin menceritakan tetapi papanya tidak ada.


"Hm, nanti aja ya ma kalau bicara. " Hajar masih gugup dan tidak ingin mamanya shock karena ulahnya.


"Lho la emang kenapa?"

__ADS_1


"ngga papa ma, aku capek dan ngantuk. " Dengan begitu mama Rina mengangguk dan mengantarkan Hajar ke kamar yang ada di bawah.


"Ada yang berubah kayaknya? " batin Hajar dengan masuk


"ma mama mau nemenin aku tidur ya? " karena mama Rina sampai masuk


"ngga kamu tidur saja, mama mau ke restoran dulu. "


"Hah emang mama punya restoran? " karena Hajar tidak pernah namanya mama Rina di lepas begitu saja oleh papanya.


"Iya, nak. Mama dari dulu dari mama ke Indonesia dan pulang lagi ke sini karena papamu minta mama buat ke sini lagi. Amerika Serikat udah kelar masalahnya. Jadi, papa tinggal di sini kembali. "


"Ehm, gitu ya. " Dengan begitu Hajar langsung nampol ke ranjang


"ya udah mama pergi. "


"ya ma. " Hajar membereskan pakaiannya ke dalam lemari.


"Untung mama tadi ngga tau kalau aku bawa pakaian banyak. " Hajar mandi ke kamar mandi yang ada di sampingnya dan satu ruangan di kamar.


Malam


Hajar ke luar dari kamar dan menuju ke dapur. Ternyata papa sudah ada di sana dan mama yang setia menemani papa karena masih tua papa masih di kantor tetapi sekarang di batasi oleh mama.


"Eh, anak papa kenapa kok ke sini? mana suamimu sama cucuku? " dengan mengelus kepala Hajar. Hajar siap untuk cerita kepada mama dan papanya.


"Maaf sekali aku ke sini buat mencari ketenanganku saja ma pa. Aku ingin cerai sama suamiku dan Hak Asuh Anak jatuh ke tangan mas Rahmat pa. Aku tidak betah karena selama ini mas Rahmat melupakan janjinya sebagai seorang suami ma pa. " Dengan menangis dan papa mamanya shock.


"Nak kamu jangan pernah begitu karena suatu saat suamimu akan berubah. Perceraian bukanlah sesuatu yang buat untuk barang mainan nak. Perceraian bukan untuk menyelesaikan masalah tetapi membuat masalah semakin rumit. Jika kamu bersedia untuk bercerai kepada suamimu maka papa dan mama akan meridhoi. Tetapi bagi Tuhan itu semua tidak adil karena di dalam agama menjelaskan kita di suruh untuk menikah, mencari kebahagiaan bukan mencari suatu masalah. " Nasehat Papa Syaiful


"Ya pa. Aku ingin memikirkannya lagi. "


"Ya sudah ayo kita makan! " dengan begitu Hajar menarik kursi dan mendaratkan bokongnya di kursi.


Hajar kangen banget sama orang tercintanya yang melahirkan dan membesarkan anak sampai sekarang cucunya mau menikah. Inilah suatu kehangatan untuk keluarga. Ibu yang telah beharga untuk segala-galanya dan Ayah yang setiap hari banting tulang untuk membahagiakan keluarga.


*Flashback On*


__________________


Rahmat telah sampai di Belanda sekitar 14 jam lebih dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta sampai Bandara udara Internasional Schiphol. Rahmat keluar dari pesawat pribadinya dan menuju mobil yang telah di siapkan untuk Rahmat ke hotel Waldorf Astoria Amsterdam. Rahmat sampai di hotelnya sekarang dan yang mengurus semua di serahkan ke Bara.

__ADS_1


Rahmat berjalan ke kamarnya dan melepas semua aksesorisnya. Rahmat duduk di sofa dan melihat foto Hajar yang sedang bersanding dengannya.


"Sayang kamu tunggu pembalasanku, aku akan menjemputmu baik-baik dan membawamu ke Amerika dengan syarat yang aku inginkan. " Dengan senyum smirk yang begitu mengerikan.


____________________________


Anin sekarang di kampus dan Anin rasanya ingin meledak karena dosennya. Dosen yang galaknya super-super on the spot. Karena masih muda jadi, galaknya di tutupi oleh ganteng dan mudanya tersebut.


*Dosen sudah datang dan mengucapkan salam, sedangkan Anin bengong. Dosen tersebut namanya pak Riko dan menggebrak meja Anin.


"Nama kamu siapa? " tanya dengan galak dan menatap Anin dengan tajam.


"Saya namanya Anin Fitri Ani pak. " jawab Anin dengan santai


"oh namanya Anin, sekarang kamu ke ruangan saya dan kamu tunggu saya di sana. " Anin bingung dan masih tetap duduk


"Ehm, saya sudah menjelaskannya kan sekarang kamu ke ruangan saya. " Dengan marah-marah dan Anin berjalan ke ruangan dosen yang galaknya minta ampun deh. Kata teman-teman Anin.


"Sekarang kalian lanjutkan ke halaman berikutnya dan kerjakan itu semua! saya mau ke ruangan saya dahulu mengurus teman-teman kalian. "


"Baik Pak. " Jawab serempak mereka


Dosen tersebut datang dan Anin duduk di kursi dan membaca buku yang ada di sana.


"Ehm, " suara deheman yang membuat Anin kaget dan meletakkan buku tersebut


"saya akan kasih hukuman buat kamu sekarang tulis nama kamu dalam buku ini full tanpa ada titik dan koma! " dengan begitu Anin melongo dan mulutnya terbuka membentuk huruf O


"Hah ini dosen benar-benar mengerjai mahasiswinya saja. Awas aja nanti aku balaskan dendamku pak. Lihat aja nanti! " Ucap Anin di dalam hati.


"Kamu jangan coba-coba untuk mengerjai saya ya. "


"Eh kok dosen ini tau pasti ada ini jimatnya ini. "


Dengan kesal akhirnya Anin menulis di buku yang tebalnya sekitar 200 halaman. Bisa patah ini tangan*.


**Bersambung


Jangan kasih kendor tambahin ke favorit ya teman-teman. Maaf aku dari kemarin-kemarin sakit dan aku udah sembuh gantian bapakku yang sakit. Jadi, di maklumi ya teman-teman.


Jangan lupa like, komen, dan vote ya teman-teman.

__ADS_1


Terima kasih atas semua dukungan dan pemasukan teman-teman**.


__ADS_2