
* Happy Reading *
Rifa'i merasa ada yang janggal di bibirnya dan ternyata Anin menggigit bibirnya. Anin terdiam kikuk pada saat Rifa'i melepaskan ciumannya. Anin lari ke dapur untuk menghindari bagaimana rasanya pertama kali dicium dan di ***** bibirnya oleh sang suami. Rifa'i pun berjalan ke dapur.
“ Oh iya neng itu makanannya udah mateng, kamu kalau makan nggak papa. Mas mau ke depan dulu ya, ” Rifa'i berjalan ke teras dan Anin mengambil piring. Anin mengambil nasi dan lauknya.
“ Aduh jantung kenapa ya? Ini juga makan pengennya begini, ” Anin mengoceh-oceh tidak jelas dan tetap melanjutkan makannya.
Selesai makan, Anin membereskan piringnya dan sisa makanan masih banyak. Anin menyimpannya di lemari, selepas itu Anin mencuci piring.
“ Kenapa ya aku di jodohkan, jadi begini ujungnya. Kaget dan terkejut, eh sama aja ya katanya. Aduh aku kok lupa ya, ya udah lah ini udah selesai tinggal bersihkan meja makan. ” Anin kembali ke meja makan dan membersihkan meja makan.
“ Eh non kenapa non bersihkan? Biar bibi aja, pelayan emang pada kemana? ” Bi Ijah langsung mengambil lap dari tangan Anin,
“ Nggak usah bu, udah biarin saya aja. Jugaan selepas makan saya kok bukan ibu, saya nggak mau merepotkan ibu. ” Anin mengambil lagi lapnya dan melanjutkan menyapu.
“ Oh iya bu kemana sapunya ya? ” Tanya Anin
“ Emang non mau apa kok cari sapu? Jangan-jangan non mau menyapu lantai ya! ” Benar saja dugaan Bi Ijah dan Anin mengangguk,
__ADS_1
“ Nggak usah non, nanti pelayan pada di marahin sama Tuan nanti non. Apalagi bibi sebagai kepala pelayan di sini, bibi bisa di marahin sampe semua di pecat sama tuan. Tuan itu kejamnya minta ampun non, nggak bisa memaafkan yang namanya orang yang makan gaji buta dari dulu aja pasti satu tahun ganti kepala pelayan non. Tuan emang orangnya begitu, sampai sekarang aja beliau suskes dengan caranya sendiri non. ” Ucap bi Ijah
“ Tapi bu, aku nggak mau merepotkan ibu sama orang lain. Aku pengennya sendiri, ” Ucap Anin dan bi Ijah mau nggak mau harus mengizinkannya dengan syarat tidak ketauan dengan Rifa'i.
“ Ya udah yuk, bibi antarkan ke gudang belakang disana tempatnya sapu sama alat pembersih, ” Bi Ijah mengantarkan Anin ke belakang dan Anin menyapu lantai di sekitar dapur.
“ Iya non emang non dari dulu udah di ajarkan begitu ya non, sampai non nggak pengen merepotkan orang lain. ” Bi Ijah mengelap tempat mencuci piring dan Anin yang menyapu.
“ Iya bu, jugaan aku nggak ingin namanya merepotkan orang lain. Kecuali aku tidak bisa apa-apa, ” Anin selesai menyapu nya dan menaruh sapu ke gudang kembali.
Rifa'i sudah selesai dan menuju ke dapur. Rifa'i membuka kulkas dan mengambil minuman,
“ Aduh bu, bagaimana itu mas Rifa'i ada di meja makan lagi? ” Tanya Anin dan bi Ijah memikirkan sesuatu yang bisa membuat Rifa'i keluar dari meja makan.
“ Iya kalau begitu non di sini dulu ya, biar bibi ke Tuan dulu. Nanti tuan juga pergi bila bibi yang butuh, ” Bi Ijah sudah memikirkan sesuatu dan akhirnya ketemu juga.
Bi Ijah ke meja makan dan Rifa'i menaruh curiga kepada bi Ijah,
“ Iya bi, kemana ya Anin? Saya mau pergi dulu ke kantor, soalnya saya mau urus pernikahan di kantor. ” Ucap Rifa'i dengan menghabiskan minumannya.
__ADS_1
“ Iya Tuan, nanti saya sampaikan. ” Rifa'i pergi dan Anin keluar dari gudang.
“ Allhamdulilah akhirnya keluar juga, ” Anin bernafas lega dan bi Ijah pun sama. Anin duduk di kursi dan mengambil gelas yang di pakai Rifa'i minum tadi,
'glek-glek’
“ Aduh sampai mau lompat ini jantung bu, untung nggak ketauan lagi. ” Anin mengatur ritme nafasnya
“ Iya non, kalau begitu bibi mau lanjutkan pekerjaan bibi ya. ” Bi Ijah melanjutkan pekerjaannya dan Anin termenung sendiri di meja makan karena tidak ada teman yang dia ajak mengobrol.
* *Bersambung
Nanti author bakal up lagi nih!! Yaaya, Author mau patahkan semangat author sendiri.... Hehehe, salam hangat buat kalian,
Lope-lope buat kalian semua, jangan lupa mampir ke instagram author ya!!
@dindafitriani0911
Terima kasih, woke 👌👌👌**
__ADS_1