Menuju Jalan Pernikahan

Menuju Jalan Pernikahan
Plentos


__ADS_3

Hajar sekarang ada di dalam kamar dan Hajar ingin sekali pulang ke Indonesia karena kangen dengan Rifa'i. Hajar pun ke taman dan terkejut ada kedatangan Rahmat di ruang tamu. Berbicara dengan mamanya dan penting sekali kayaknya. Hajar tidak ingin sekali berniat untuk balikan kembali dengan Rahmat karena dia benar-benar muak sudahan. Sudah melewati beberapa hari dia sudah mulai bisa melupakan Rahmat karena Rahmat orang yang dia kenal kekejamannya.


"Awas ya kamu, emang benar-benar cari muka itu orang. Udah tau salah tetapi masih aja ingin sekali aku nempel ke dia. " Hajar ngomel-ngomel sendiri dan ingin rasanya menangis tetapi apa dayanya manusia ada salah harus di maafkan dan bagi Hajar ini sudah melanggar janji yang dahulu.


"Aku pengen rasanya ingin sekali bahagia tetapi kayak di serang begitu saja. Aku butuh ketenangan bukan butuh kesenangan. Bahagia itu selalu menyertai hati bukan kesenangan dalam menikmati hartanya dan menikmati batinnya. Apa itu semua artinya dalam pernikahan melanggar janji karena aku juga butuh kejujuran dalam pernikahan. Bukan rahasia. "Ucap Hajar yang selalu ingin menikmati ketenangan hidup dan kejujuran dalam berumah tangga.


__________________________


Anin sekarang kangen sama Rifa'i dan membawakan makanan dalam rantang untuk Rifa'i. Anin sendiri yang memasaknya dan menghantarkan ke rumah Rifa'i.


" Bu aku berangkat dulu ya, assalamu'alaikum. " Dengan menyalimi Siti


"waalaikumsalam, Hati-hati ya nak! " pesan Siti


"ya bu, " dengan berjalan


Anin menuju ke gang depan dan memberhentikan angkotan umum.


"Mang, " dengan melambaikan tangan ke udara


"ya neng masuk, belum penuh ini. " Anin masuk ke dalam angkot dan ternyata belum penuh.


"Neng mau kemana? " tanya sopir angkot

__ADS_1


"Ke jalan Jendral Soedirman nomer 16." jawab Anin


"baik neng, "


Sesampainya Anin membayar angkotnya dan berjalan ke gerbang yang menjulang tinggi.


"Assalamu'alaikum, " sapa Anin


Akhirnya ada seorang pengawal dan membuka sedikit gerbangnya.


"Cari siapa? " tanya pengawal yang berkepala botak plentos tersebut.


"Ini aku lupa tadi mau bawa kacamata, huh kena sinar matahari jadi silau begini deh. " Ucap Anin di dalam hati.


"emang bener kamu calon istrinya? " tanya pengawal tersebut


"iya pak kalau ngga percaya ini buktinya. " Dengan menunjukkan cincin pertunangannya


"Oh maaf Nona, saya tidak tau. Kalau begitu silakan masuk Nona! " dengan membuka jalan untuk Anin dan garuk-garuk kepala karena tidak tau calon istrinya Rifa'i.


"Mari Nona saya antar sampai ke depan, " ajak pengawal tersebut


"ngga usah pak, saya bisa kok. " Sampai lupa kalau Rifa'i tidak ada di rumah dan akhirnya pengawal kepala plentos tersebut mengejar Anin.

__ADS_1


"Nona... Nona... Non, " panggil pengawal tersebut


Anin tidak menggubrisnya dan paling cuma angin lewat aja karena disini udaranya sangat dingin dan sejuk.


Sampai di depan pintu, akhirnya pengawal kepala plentos tersebut sampai dan


"Nona huh hah huh, " dengan mengatur ritme nafasnya.


"Ini pak, kalau mau minum. " Anin menyodorkan air kemasan yang dia bawa tadi agar di perjalanan ke sini tidak dehidrasi.


Pengawal tersebut menerima dan meneguknya sampai habis.


"Terima kasih non, begini aduh mau jelaskan apa ya tadi? " Pengawal kepala plentos tersebut lupa karena berlari lari mengejar Anin.


"Emang bapak mau jelaskan apa? " tanya Anin


"Itu saya lupa kalau hem apa ya, eh tanya aja yang di dalam aja deh. Saya kalau lari-lari udah lupa ilmunya tadi. " Pengawal tersebut cengengesan karena lupa apa yang mau di jelaskan.


"Aduh ini orang udah kepalanya plentos tetapi kok ya lupa. Maklumlah orang berbeda-beda. " Ucap Anin di dalam hati.


"Ya udah pak, kalau begitu saya masuk dahulu. "


*Bersambung*

__ADS_1


maaf baru sekarang upnya jadi, nanti sore apa ngga malam aku up kembali. Oke, Jangan lupa like, komen, dan vote. Oh iya perkenalan author ya selanjutnya. Jangan gelisah nanti ada kelanjutannya lagi!...


__ADS_2