Menuju Jalan Pernikahan

Menuju Jalan Pernikahan
Mansion


__ADS_3

Sopir yang telah di perintahkan Rahmat untuk menjemput Rifa'i dan Anin. Sopir membawakan tas yang berisi pakaian dan Anin bersama Rifa'i berjalan lebih duluan. Anin dan Rifa'i menongkrong di taman rumah sakit.


“ Oh iya neng kita lusa nikah ke kantor, biar mas nanti mengurusnya di sana. Prosesnya agak sedikit rumit, besok kita pilih baju di butik. ” Rifa'i duduk di kursi taman dan Anin jalan-jalan memutari taman.


“ Iya mas, oh iya mas. Kita pulang yuk, kasihan lho mama kalau mencari mas. ” Rifa'i bersiap berdiri dan menghampiri Anin.


Anin dan Rifa'i sampai di parkiran, Pak Karno sedang menunggu Rifa'i dan Anin.


“ Maaf ya pak, kalau lama menunggu. ” Ucap Rifa'i dan membukakan pintu mobil untuk Anin.


“ Iya aden nggak papa, jugaan saya di perintahkan Tuan untuk menjemput aden dan Nona. ” Pak karno menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Anin di mobil diam dan sama sekali tidak ada omongan.


“ Oh iya Pak, kita mampir dulu ke mansion ya pak. Saya mau ke sana, beberapa bulan jarang kesana. ” Anin melongo,


“ Coba apa tadi, mansion. Emang mansionnya siapa? ” Ucap Anin di dalam hati,


Anin tidak jauh memikirkannya dan Anin menahan rasa dingin di mobil. Anin tidak mampu menahan dinginnya di mobil karena tidak biasanya dia begini.

__ADS_1


“ Neng kamu kenapa? Kok pucet sekali, kamu tadi makan kan? ” Anin mengangguk lemah dan Rifa'i mengecek kening Anin. Ternyata dingin,


“ Kamu kedinginan ya, ini pakai aja jaket mas. Pak buka aja jendelanya, biar kena angin. ” Rifa'i memakaikan jaketnya dan Anin tidak terasa menahan kantuk yang menyerangnya.


Anin tidur di pundak Rifa'i dan Rifa'i menyadari kalau Anin tidur. Rifa'i memindahkan kepala Anin di pangkuannya, Rifa'i mengelus-elus kepala Anin.


“ Aduh ini kenapa jadi obat nyamuk di antara mereka? Tahan karno istrimu juga kerja di rumah Tuan jugaan. ” Pak karno fokus di perjalanan dan sampailah di depan mansion Rifa'i. Satpam pun membukakan gerbangnya dan mobil melaju cepat di teras Mansion Rifa'i.


“ Silakan aden udah sampe! ” Rifa'i menggendong tubuh Anin dan membawanya masuk ke dalam mansion. Ternyata sudah di sambut oleh pelayan dan pengawal,


Rifa'i berjalan ke kamar utama biar lebih nyaman di sana, daripada naik lift. Rifa'i di ikuti satu pengawal dan untuk membukakan pintu kamar.


Rifa'i meletakkan tubuh Anin di ranjang size king dan Rifa'i mencium kening Anin.


“ Aku tinggal dulu bentar ya, ” Rifa'i membetulkan posisi Anin dan menyelimuti Anin.


Rifa'i menutup kembali kamarnya dan pasti kalau sudah tertutup oleh pemilik rumah maka pintu tidak bisa di buka. Karena pintu di mansion Rifa'i semuanya otomatis,

__ADS_1


Anin belum mendaftar sidik jarinya untuk membuka semua pintu. Anin tidur nyenyak sampai tidak terbangun sama sekali.


Rifa'i mengecek ada yang janggal atau tidak di mansionnya,


“ Iya Pak, apakah ada masalah? ” Tanya Rifa'i kepada Pak Romi


“ Tidak Tuan, dari Tuan pergi pun semuanya aman terkendali. ” Jawab Pak Romi


“ Kalau begitu semuanya boleh kerja kembali, oh iya Pak Romi saya mau bicara dengan anda. Jadi, anda ikuti saya ke taman sekarang ya,


pak. ”


* Bersambung *


Jangan lupa like, komen, dan vote. Bagi yang mau masuk ke grup silakan! Saya terima semua bila ingin ikut giveaway undian poin seperti yang author sampaikan di episode **64. Masih lama... Terima kasih atas semua dukungan para teman-teman.....


Lope-lope salam halu buat kalian**

__ADS_1


__ADS_2