Menuju Jalan Pernikahan

Menuju Jalan Pernikahan
Perkara


__ADS_3

balik lagi ke sini


Happy Reading


__________________


Hajar pun menangis histeris dan memikirkan bagaimana caranya bisa keluar dalam keadaan begini dengan begitu Hajar pun berlari tanpa arah. Tetapi, Rahmat mencegahnya.


"Apa maumu mas? setiap kali aku bilang jangan pernah kayak begini tetapi, apa? semuanya hancur dan berantakan. Nanti bagaimana caranya kalau kita harus jujur kepada Rifa'i, ha? pikirkan baik-baik itu mas! aku mau pulang ke rumah orang tuaku, kamu balikkan aku ataupun aku mau ngomong sama orang tua kamu? " dengan menunjuk kepala Rahmat dan Rahmat pun tidak terima.


Rahmat membawa Hajar keluar dari ruangan rahasia ini dan terbebas dari pengawal Rahmat. Sampai menarik tangan Hajar dan membawa Hajar ke kamar mereka.


"Aku mau pulang mas, lepaskan aku ngga. hiks-hiks " Sampai pelayan dan pengawal di mansion bingung apa yang terjadi? pertanyaan yang di benak mereka. Karena Hajar menangis dengan keras


Sampai pintu kamar di buka dengan keras dan berbunyi sampai ke bawah 'brakkk'


Dengan melempar tubuh Hajar ke ranjang dan Hajar pun berdiri karena dia tidak kuat untuk berdiri dan pada akhirnya Hajar bisa berdiri. Sedangkan, Rahmat mencegahnya dengan cara menindih tubuh Hajar tetapi kalah telak dengan Hajar yang sedari tadi ingin berdiri.


Hajar pun membawa pakaian dan di masukkan ke koper, karena sedari tadi Rahmat tidak mau ngomong sama sekali.


"Mas kamu harus urus perceraian kita, aku tunggu dalam satu minggu ini. Jika, kamu tidak mengurusnya biar aku yang mengurus dan satu lagi Rifa'i kamu bawa saja. Hak asuh anak aku berikan ke kamu. Urus Rifa'i dengan baik-baik sampai ke tangan Anin nantinya, kalau kamu tidak mengurusnya maka dari itu aku bongkar rahasia kamu, sampai benar-benar tuntas semua kepada media maupun sampai ke telinga Rifa'i. Titik, hiks-hiks " dengan menangis dan nada yang tegas karena dia tidak mau kalau semua orang tau tentang masalah keluarganya.


Rahmat handphonenya berbunyi dan mengangkatnya. Sedangkan, Hajar membereskan pakaiannya ke dalam koper


"Ini kesempatan aku buat keluar dan aku udah pesan taksi. Pasti mas Rahmat kalau ada orang yang penting pasti lama nelpon nya. Hiks-hiks. " Dengan berjalan dan untung saja para pelayan sama pengawal di suruh pada ke luar tadi.

__ADS_1


"Hm, gimana cara ngadepin tu pengawal ya di gerbang. " Karena Hajar sampai ke pintu depan dan berjalan


"Nyonya mau kemana? " tanya pengawal tersebut


"hm, saya mau keluar dan saya mau memberikan baju saya ke orang-orang yang membutuhkan. " Dengan begitu pengawal tersebut percaya saja kepada Hajar dan membukakan gerbang untuk Hajar.


"Huh, akhirnya keluar juga. Kenapa bodoh sekali tu orang. Ngga tanya naik apa kek? hadeh, " dengan berjalan menemui taksi


"Pak jalan ke bandara ya pak! " dengan masuk ke taksi


"ya bu, " jawab sopir taksi tersebut


"untung aja nih sopir nurut aja, eh tapi dia butuh makan jugaan. " batin Hajar


Sampai di bandara soekarno-hatta dan Hajar pun membayar ke sopir taksi. Berjalan ke bandara dan mendaftar. Pada akhirnya ada perjalanan sekitar 5 menit lagi untuk ke Belanda.


____________________________


Rahmat pun selesai teleponan nya sama client penting dan menyadari bahwa Hajar hilang dari pandangannya. Rahmat pun tersadar


Dengan begitu Rahmat keluar dan membuka pintu dengan keras.


"Bara, kamu tau kemana istri saya? " tanya Rahmat dengan tatapan yang begitu mengerikan


"saya dari tadi di sini aja Tuan. Tetapi, saya tidak melihat kemana Nyonya Tuan. " Jawab santai Bara.

__ADS_1


"Astaga, kamu cepet periksa CCTV sekarang dan kumpulkan semua pengawal sama pelayan! Jika, kamu tidak cepat. " Dengan begitu Bara pun ke ruangan CCTV


__________________________


Rifa'i sekarang sudah selesai makan dan Anin sama ibunya pun berkumpul lagi di ruang tamu.


"Hm, bu boleh saya ajak Anin jalan bareng sama saya? " dengan tersenyum


"silakan siapa larang sih, udah bawa aja dari pada di rumah kayak kebo aja tidur mulu. "


"ih bu kok gitu, aku ngga pernah ya kayak kebo. Ayuk pak kalau mau jalan. " Telak Anin karena ibunya mengada-ngada


"kalau begitu kita permisi dulu, assalamu'alaikum. " Dengan bersalaman kepada Siti


"Bu gimana nanti jualannya? ibu bisa sendirian? kalau ngga bisa biar nanti aku ngga jadi, pergi deh. " Dengan begitu Anin pun di tarik oleh ibunya untuk keluar


*Bersambung*


Hm, maaf ya author ngga up lagi nanti! Author masih sakit pilek sama pusing jadi, ya maafin author ya?? Jangan lupa jaga kesehatan ya kalian‼ Jempol kalian buat like, komen, dan vote ya.... Terima kasih atas semua dukungan dan semua pembaca untuk tetap membaca novel ini ya.


Salam Author


TTD


________________

__ADS_1


Dinda Fitriani


__ADS_2