Menuju Jalan Pernikahan

Menuju Jalan Pernikahan
Keadaan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian


Rifa'i bangun tidur dan mandi sekarang untuk dinas pagi-pagi. Rifa'i berjalan menuju kamar mandi karena sempoyongan jadilah Rifa'i pingsan di kamarnya. Mang Jalal lagi mengecek kamar di atas siapa tau ada penyusup di ruang atas dan melihat kamar Rifa'i sedikit terbuka. Mang Jalal masuk ke kamar Rifa'i.


"Assalamu'alaikum den," dengan berjalan dan sontak saja terkejut


"astaghfirullahalazim aden, " dengan menghampiri Rifa'i dan memanggil pengawal yang lain.


"Mang Darso, Ruslan, Aldo, semua cepet ke sini. Cepat, " suara mang Jalal yang menggelegar di telepon.


"Ada apa, Astagfirullahalazim aden. " Teriak mang Darso


"Kamu cepet ambil mobil dan semuanya bawa aden biar saya yang mengurus semua yang di rumah sakit. Bi isah kamu tolong siapkan baju untuk aden di rumah sakit! " dengan begitu mereka mengantarkan Rifa'i ke rumah sakit.


Sampai di rumah sakit


"Suster cepat tolong Tuan saya, " teriak mang Darso


Akhirnya suster berlarian menuju ke Rifa'i membawa brankar, mang Darso dan 1 pengawal mengangkat tubuh Rifa'i untuk di pindahkan ke brankar.


"Bagaimana ini kita ngga bisa menghubungi Tuan dan Nyonya, apa kita hubungi aja Tuan Bara saja? " tanya mang Darso karena disaat begini pasti Rifa'i butuh penjelasan dan stres karena orang tuanya tidak memberikan kabar apapun.


"Ya udah mang tinggal hubungi aja Tuan Bara, mang. " Ucap pengawal lainnya

__ADS_1


Pengawal yang menemani Rifa'i di sini sekitar 5 orang dan 2 orang. Dengan mang Darso dan mang Jalal yang Rahmat percayakan untuk menjaga Rifa'i.


"Saya minta tolong untuk di perketat penjagaannya, saya mau hubungi Tuan Bara dahulu. " Izin mang Darso dan menjauh dari ruang Rifa'i menuju ke taman.


mang Darso menghubungi Bara ternyata nyambung


"selamat pagi Tuan Bara, " sapa mang Darso


"pagi, ada apa? " tanya Bara di seberang


"itu Tuan anu itu saya itu, " dengan gugup karena tidak bisa menjelaskan


"saya tanya apa? jawabnya apa? cepat ada apa? saya ngga mau buang-buang waktu cuma gara-gara telponan aja sama mamang, "jelas Bara dengan kesal karena sudah di panggil oleh Tuan Rahmat.


"ya elah ni mulut kenapa ya? mulai lagi, " dengan kesal akhirnya mang Darso kembali lagi di depan ruangan Rifa'i.


"Eh mang Darso kenapa? udah telpon Tuan Bara? " tanya pengawal


"itu Rudy saya mau jelaskan keburu Tuan udah manggil Tuan Bara. Jadi, ngga keburu jelaskan. Nasib tak di pungkiri kasihan sekali hidupnya aden Rifa'i, " ucap mang Darso sambil merosot ke lantai dengan frustasi,


mang Jalal kembali ke ruangan Rifa'i dan menghampiri pengawal.


"Bagaimana kang udah di telpon Tuan Baranya. Pasti gagal ya kang, emang kalau pagi-pagi begini Tuan butuh sesuatu. " Dengan tertawa karena melihat temannya yang sejak tadi cuma berkata "kasihan" tetapi Jalal pun sama. Mau nikah tetapi keluarga orang tuanya yang hancur berantakan tidak tau arah masalahnya.

__ADS_1


"Aduh kang, mumet aku koyok ngeneki wes jelas-jelas iki enek masalah keluarga ora di selesaikke baik-baik opo pie, ora ngilang ngeneki! " mang Jalal sama dan dokter pun keluar dari ruangan Rifa'i yang di tempatkan di ruang VIP. ("aduh mas, pusing aku kayak begini udah jelas-jelas ini ada masalah keluarga tidak di selesaikan baik-baik apa gimana, tidak menghilang begini! ")


"Apa bapak dari keluarga pasien? " tanya dokter muda tersebut dan mang Darso pun tersenyum karena dokternya tampan dan tinggi. Mang Darso melihat sampai atas ke bawah. Benar-benar tampan seperti Adennya.


"Eh kang di tanyain tu lho, jawab! " ucap mang Darso menghentikan lamunannya.


"Bukan dok, tetapi saya yang di percayakan untuk menjaga aden Rifa'i dok. " Jawab mang Jalal


"tetapi saya butuh keluarga karena pasien ingin sekali bertemu dengan ayah dan ibunya. " Ucap dokter muda tersebut.


"Ehm, udah percaya saja sama saya. " Ucap mang Jalal dengan menggandeng dokter untuk menjauh dari ruangan yang Rifa'i tempati.


"Begini pak, saya mau menjelaskan bahwa pasien mengalami Acute Stress Disorder (ASD) atau gangguan stres akut adalah suatu gangguan mental yang dipicu oleh peristiwa-peristiwa traumatis yang pernah dihadapkan, dialami atau disaksikan. Jadi, pasien pernah mengalami seperti itu karena ada kejadian yang di luar dugaan. Semua itu harus di konsultasikan dengan psikiater atau psikolog. Bisa juga terapi." Jelas dokter


"tetapi tadi saya lihat, kenapa pingsan dok. Bukannya mengalami trauma itu tidak bisa di kendalikan oleh siapapun dok. Kecuali dirinya sendiri. "Jelas mang Jalal


" ada juga ahli psikolog menyatakan bahwa di kendalikan oleh siapapun bisa tetapi ada syaratnya tertentu untuk mengendalikannya, nah yang pingsan tadi pasien cuma mengalami kelelahan yang cukup luar biasa. Keajaiban benar-benar tidak ada yang mengetahui. "Ucap dokter


" kalau ada pertanyaan lagi, saya mohon maaf. Saya harus mengurus pasien lain. Saya izin, " dengan begitu mang Jalal memberikan izin kepada dokter muda tersebut.


*Bersambung*


InsyaAllah author akan up 2 kali setiap hari di hari berikutnya dan akan di lanjut besok pagi ya teman-teman. Terima kasih atas semua dukungan para teman-teman. Jangan lupa like, komen, dan vote.

__ADS_1


__ADS_2