
* Happy Reading *
Anin tidak bisa apapa dan melanjutkan makannya. Rifa'i tau kalau Anin risih dengan meja kecil dan cukup untuk berdua saja.
“ Iya ini kalau mau makan, ” Anin jelas melongo karena makanan yang di sajikan adalah makanan ringan dan minuman yang berwarna. Anin langsung menghindari makanan tersebut karena takut tidak halal.
“ Ah nggak ada makanan lain apa? ” Tanya Anin dengan heran, makanan juga nggak biasanya.
“ Udah ini nggak papa, aku juga anggota Kepolisian lho. Kalau ada barang yang tidak halal atau tidak ada BPOM RI juga aku tangkap. Karena makanan atau minuman kalau nggak Standar Nasional Indonesia ataupun udah dicap BPOM RI juga di percaya aman kok. Semuanya udah uji laboratorium, ” Jelas Rifa'i dan Anin masih tetap tidak percaya. Rifa'i mengerti karena semua harus satu-persatu untuk mengenalkannya. Dengan begitu Rifa'i memanggil pelayannya untuk membuatkan makanan lain. Pelayan pun mengangguk dan pergi untuk laporan ke Bi Ijah yang telah di percayakan untuk memasak di mansion ini setiap hari. Rifa'i membantu Bi Ijah di dapur dan Anin ada di meja makan.
“ Iya udah aku minta air putih aja, haus ini. ” Ucap Anin dan pelayan mengambilkan air putihnya. Anin dengan cepat meneguknya dan Anin pergi begitu saja dari pandangan Rifa'i yang masih bertengger di dapur bersama Bi Ijah.
“ Iya bi ini kok kayaknya begini ya? Aku jadi, geli-geli gimana gitu? ” Rifa'i memegang ikan yang masih hidup dan sontak saja membuat Rifa'i terkejut karena ikannya mencolot di bawah.
“ Bi ini gimana bi? Ah nggak mau lagi, ikannya mencolot. ” Bi Ijah geleng-geleng Kepala melihat tingkah Tuan Mudanya seperti itu. Namanya juga Sultan mau ngapain itu urusan dia, tapi ini apa menyentuh dapur lagi demi istrinya.
__ADS_1
“ Tuan itu ikan masih segar jadi, masih hidup ikannya kalau kata Tuan sendirikan Tuan maunya ikan yang masih segar. Jadi, bibi belikan ikan yang masih hidup. ” Rifa'i cengengesan dan kembali membersihkan sisik ikannya, Bi Ijah melanjutkan membuat bumbunya.
“ Oh iya bi ini udah selesai ikannya, ” Rifa'i mengambil wadah dan membersihkannya di kran air yang ada di dapur.
“ Iya Tuan ini bumbunya dan di goreng saja Tuan setelah siap, baru di makan sama sambel terasi. Ada lalapannya juga Tuan, ” Rifa'i mengambil bumbunya dan mencampurkan rata bumbunya ke ikan yang akan di goreng.
Penggorengan sudah di siapkan oleh bi Ijah dan kompor mulai di hidupkan. Rifa'i takut karena minyak gorengnya sungguh mengerikan baginya. Bi Ijah langsung geleng-geleng kepala dan mengambil alih menggoreng ikannya.
“ Udah Tuan, Tuan bersih-bersih dahulu nanti baru selesai bersih-bersih udah siap ini makanan. ” Rifa'i mengangguk dan berjalan ke kamar mandi. Setelah mandi Rifa'i balik ke meja makan dan Rifa'i mencari Anin dari pandangannya sudah hilang.
“ Ehm bi Anin kemana ya? ” Tanya Rifa'i kepada bi Ijah yang menata makanan,
dan kembali ke dapur. Bi Ijah sebenarnya sudah tau kalau Anin di taman,
“ Hah kemana kamu Anin? ” Rifa'i mulai mencari sampai ke belakang dan samping tidak ketemu juga. Rifa'i ke depan, ternyata Anin ada di taman sedang menikmati pemandangan taman.
__ADS_1
Rifa'i mengendap-endap seperti maling dan Rifa'i mendekati Anin,
“ Hayo mau apa kamu? ” Sontak saja Anin terkejut dan bersiap-siap pasang kuda-kuda.
“ Hah kamu ini mas, ngagetin aku aja nanti kalau aku masuk ke rumah sakit gimana? ” Rifa'i dengan begitu langsung m*****t bibir Anin dan menjilat telinga Anin. Anin bingung dengan sikap Rifa'i
“ Aduh ini kenapa ya? Kayak orang utan aja main lahap orang, ” Gerutu Anin
* *Bersambung
Jangan lupa like, vote, dan komen yang positif ya, Silakan kalau mau mampir ke GC biar rame GC, GC cuma ada orang berapa? Kita setiap hari bagi-bagi hadiah/poin untuk kalian semua,
Kalau mau follow instagram author ya
@dindafitriani0911
__ADS_1
Dijamin difollback kembali!!!
Terima kasih udah mampir dan baca novel ini 🙏💕**