Menuju Jalan Pernikahan

Menuju Jalan Pernikahan
Salah Tingkah


__ADS_3

Anin masuk ke dalam rumah Rifa'i dan pengawal di dalam rumah bertanya kepada Anin.


"Maaf Nona, Nona ke sini mau apa? " tanya pengawal mudah tersebut.


"Iya saya mau cari pak Rifa'inya ada? " dengan begitu pengawal tersebut menjawabnya


"pak Rifa'inya ada di rumah sakit Nona, " jawab pengawal tersebut.


"Apa yang benar pak, kalau begitu saya ke rumah sakit dahulu ya pak. " Dengan begitu Anin cepat-cepat ke rumah sakit dan pengawal tersebut ingin mengantarkan Anin tetapi keburu Anin sudah keluar.


Ternyata di luar sudah ada yang menyiapkan mobil untuk Anin ke rumah sakit.


"Non mari saya antarkan ke rumah sakit! " tawar pengawal yang ganteng tersebut yang sudah mempunyai istri yaitu pelayan di rumah ini. Ternyata kebanyakan pengawal di jodohkan dengan pelayan di sini.


"Ya pak, makasih tawarannya. " Pengawal tersebut membukakan pintu mobil untuk Anin.


Mobil pun berjalan dengan kecepatan maksimal dan pengawal sama Anin cuma diam saja tidak ada pembicaraan sama sekali.


15 menit kemudian sampailah di rumah sakit dan Anin turun dari mobil. Anin berjalan ke arah ruang VIP yang ditempati Rifa'i.


"Eh ada Non Anin cari den Rifa'i ya, Non? " tanya mang Jalal

__ADS_1


"iya Pak, ada?"


"ada, tapi masih membutuhkan ketenangan dulu Non, kalau Non masuk nanti ada apa-apa lagi. " Jelas Mang Jalal karena tidak mau terjadi apa-apa nantinya.


"Emang masalahnya kenapa ya pak? " dengan begitu mang Jalal membawa Anin ke taman dan menjelaskannya.


"Begini Non, ada musibah yang menimpa den Rifa'i karena trauma yang dialaminya tidaklah biasa. Ada masalah di dalam keluarga kita Non. Masalahnya Nyonya dan Tuan sekarang tidaklah bersama dan semua itu haruslah di jelaskan lebih detail karena aden Rifa'i mempunyai masalah dulu yang sungguh merumitkan. Dahulu pernah Nyonya dan Tuan ingin sekali bercerai karena masalah yang merumitkan. Sebab itulah Nyonya butuh ketenangan dan kejujuran dalam berumah tangga bukan seperti itu. Setiap saat Nyonya menanyakan kabar aden Rifa'i tetapi di hari ini Nyonya belum menanyakan dan Nyonya setiap saat pasti bercerita sedikit kepada mamang karena mamang dipercayai untuk tidak membocorkan rahasia ini. Mamang itu sudah bekerja puluhan tahun bersama Tuan dan Nyonya sampai berumah tangga dan membina rumah tangga beliau. " Jelas Mang Jalal dengan keyakinan.


"Apa kenapa semua mempunyai masalah yang begitu merumitkan? " batin Anin


"iya Pak, kalau begitu saya ke ruangannya pak Rifa'i dulu ya. Saya permisi, " dengan memikirkan dan akhirnya Anin tidak memikirkan jauh-jauh untuk itu semua.


Sampai di depan ruangan Rifa'i di rawat dan Anin masuk.


"Ternyata orangnya tidur dan rantang ini taruh mana. Sini aja kali ya, " lirih Anin karena tidak mau mengganggu tidurnya Rifa'i.


Anin duduk di kursi sofa yang disediakan di sana dan ingin sekali rasanya mendekat ke Rifa'i. Anin pun mendekat ke Rifa'i dan mengelus pelan kepala Rifa'i.


"Assalamu'alaikum pak, bangun jangan tidur aja! emang bapak betah ya tidur melulu? " dan pada akhirnya Rifa'i bangun.


"Eh ada bidadari surga yang jatuh dari bumi ke sini ternyata. " Ucap lemas Rifa'i

__ADS_1


"Jawab salamnya, dosa kalau ngga jawab salam. " Dengan kesal karena Rifa'i memujinya bukan menjawab salamnya.


"Waalaikumsalam neng, neng ke sini? " dengan begitu Anin menampol dengan bantal ke arah Rifa'i.


"Sakit tau neng, ini lagi badan kayak pegel semua. " Kode Rifa'i dan Anin mencubit lengan Rifa'i.


"Eh kita belum sah ya pak, ngga boleh nanti takut ada setan lewat jadi, keblabasan. " Dengan wajah merah merona kayak tomat


"Oh iya lupa, pengen cepet-cepet nikah pokoknya. " Dengan begitu mata Rifa'i nyelonong masuk aja ke samping.


"Wih ada makanan tu di dalam rantang, siapa yang bawa neng? " Rifa'i pun berbinar karena beberapa hari kurusan dikit.


"Iya ini pak. Saya sendiri yang bawa dan masak. Jangan lupa di makan biar nggak kurus kayak permen. " Anin mengambil rantang dan membukanya rantang tersebut. Makanan di dalam rantang pun di kasih ke Rifa'i dan Rifa'i melahapnya.


"Wih enak bener masakan kamu, benar-benar enak. Apa jadinya nanti jadi suaminya bakalan gemuk ni perut setiap hari di manjakan dengan neng. " Puji Rifa'i


"Alah biasalah ya, maunya itu ini semua kudu harus diturutin. " Ucap Anin dengan mengambil rantang yang sudah habis makanannya dan di susun kembali. Rifa'i dan Anin berbincang-bincang dan sambil tertawa.


*Bersambung*


Cerita selanjutnya bakalan bagaimana? Hajar dan Rahmat apakah balikan atau tidak? Yuhuu lanjut besok. Jangan lupa like, komen, dan vote.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan para teman-teman yang aku sayangi.


__ADS_2