Menuju Jalan Pernikahan

Menuju Jalan Pernikahan
Ruang Rahasia


__ADS_3

___________________


" Hm, emang dasar kalau mau di marahin begitu,


jugaan anak aku ya dari benih aku juga tetapi sekarang kayak gitu. " Dengan menggerutu tidak jelas dan Hajar pun menghilang dari pandangannya.


"Hai yang, kok di tinggal sih. Awas aja ya, " dengan berjalan ke arah dapur dan ternyata Hajar membuat nasi goreng dan wanginya sampai ke hidung pula.


Dengan begitu Rahmat langsung memeluk Hajar dan Hajar ada yang merasa bergerak-gerak.


"Oh, gitu ya mana ini nasi goreng ngga boleh makan pokoknya. Awas aja nanti, dasar semua laki-laki kagak ada yang berguna sama sekali. " Oceh Hajar dengan membawa piring besar dengan makanan lainnya untuk pelengkap nasi goreng.


"Yang kok gitu sih, " Rahmat pun mengikuti jalan Hajar dan Hajar risih di ikuti aja dari tadi.


"Mas sekarang kamu makan, jangan ngintilin aku terus! nih, udah aku mau panggil Rifa'i buat makan malam gantinya tadi mau makan aja kayak gitu, ya udah. " Dengan menaiki tangga dan menuju kamar Rifa'i. Sedangkan, Rahmat di bawah kesal sama Hajar karena di tinggalkan sendiri di sana. Sebenarnya ada para maid dan pengawal yang sedang menjalankan pekerjaannya masing-masing.


Rahmat pun mengambil buah untuk dia makan dan mengupasnya sendiri.


Ada handphonenya berdering dan melihat kalau di sana tertera nama "Erick" orang suruhannya untuk mengurus geng mafia nya. Mengangkatnya di ruang rahasia yang sebelumnya


*Flashback Off*


Rahmat mengangkat telepon tersebut dan sebelumnya berbicara dengan pengawalnya.

__ADS_1


"Rus kalau nanti istri saya mencari kamu bicarakan kalau saya ada urusan penting ya. Jangan sampai kamu bocorkan rahasia saya yang masih tetap menjadi Mafia! Awas ingat pesan saya " Sebelum berbicara ingat baik-baik, Jaga ucapanmu sebelum aku merobeknya sendiri. " dengan begitu Ruslan pun akhirnya mengangguk dan Rahmat menuju di ruang rahasia yang tidak tau oleh siapapun kecuali orang suruhannya dan pengawalnya yang membersihkannya di sini. Berada di bawah dan menuju ke sana butuh pintu rahasia.


Rahmat pun sampai di ruang rahasia dan pemandangannya sungguh menggelapkan semua orang makanya orang suruhannya dan pengawalnya benar-benar tidak main-main. Semua orang suruhannya dan pengawalnya itu di lengkapi dengan senjata dan semua yang menempel di badannya hitam semua.


"Silakan Tuan, " ajak pengawalnya


"baik, kamu jaga baik-baik ruangan ini. Jangan sampai semuanya tau maka saya akan membunuh kalian semua! " perintah Rahmat dengan penuh keyakinan. Rahmat duduk di kursi kebesarannya dan sambil di temani oleh gelas wine yang ada di meja samping.


*Flashback On*


" Selamat malam Tuan, "sapa di seberang sana dengan senyum smirk.


"Malam, ada kabar apa? saya tidak mau tau pokoknya kalian semua jangan lelah buat menjaga Mafia kita, satu lagi kalian sudah menggantinya dengan logonya kan. Kalau kalian belum menggantinya, saya sendiri yang akan turun langsung ke basecamp. " Rahmat tidak mau sampai telinganya benar-benar mendengar berita tentang Mafianya.


"Semua itu beres Tuan, kalau benar-benar polisi ingin mengejar kita dan kita sendiri yang akan turun langsung, Tuan. " Jelas Erick


"Hm, begini Tuan ada seseorang ketua Mafia yang menyerang di markas kita, Tuan. " karena markas ada seseorang misterius yang menyerang markas.


"Oke, nanti kamu kumpulkan berkas-berkas data pribadinya, asal-usul namanya sama semuanya pokoknya kalau ngga saya yang ke sana. " karena itu Erick langsung menjawabnya


"baik Tuan, kalau begitu saya tutup telponnya ya. " Ucap Erick dengan cepat


"ya." jawab singkat Rahmat

__ADS_1


______________________


Hajar pun ke kamar Rifa'i dan mengetuk pintunya


'tok-tok'


"Rifa'i kamu udah tidur, nak? " tanya Hajar. Sedangkan Rifa'i sudah tidur sedari tadi dan kebangun saat mamanya memanggilnya.


"Iya ma. Bentar aku bukakan, " ucap Rifa'i dengan suara khas serak bangun tidur. Sambil membukakan pintu.


"Nak kamu udah tidur, ya udah mama kalau begitu turun aja ya. Kamu udah tidur kok, ya udah. " Dengan menuruni tangga sampai Hajar tidak tau kalau Rahmat menghilang dari pandangannya.


"Mas, Rifa'i udah tidur. Ayuk, kita makan aja daripada mubadzir kalau ngga di makan sayang. " Dengan membalikkan badan dan terkejut kalau Rahmat tidak ada di meja makan.


"Hm, pak Ruslan kemana ya suami saya. Tadi di sini kok sekarang ngga ada? " tanya Hajar


"Tuan lagi ada urusan penting, Nyonya. " Jawab Ruslan dengan menundukkan kepala.


"Oh gitu ya, hm." Ucap singkat Hajar dengan mengaduk-aduk nasi goreng yang ia makan.


"Hm, pasti ada apa-apa di balik ini semua. Aku harus mengungkapnya. " Dengan penuh semangat akhirnya nasi goreng pun habis yang ia makan.


*Bersambung*

__ADS_1


Permintaan maaf dari author ya, **Author dari kemaren-maren sakit jadi maklumin ya, kalau kalian mau punya ide buat part selanjutnya boleh follow instagram aku ya


"dindafitriani0911" Oke kalau mau ya. Maaf sekali author ngga bisa nemani waktu kalian buat ini jadi kalau buat like, komen positif, dan vote. Terima kasih atas semua dukungan-dukungan para pembaca tercinta Oke 👌👌👌**


__ADS_2