
Ruang pikiran
Wu Tian melayang di ruang gelap dengan sebuah pedang dengan bilah merah di atas perut nya, pedang itu memancarkan cahaya merah darah yang mengerikan. Wu Tian saat ini tidak bisa menggerakkan tubuh nya, karena pedang diatas perut nya menekan seluruh tubuh dan bahkan jiwa nya serasa disayat sayat oleh aura itu.
"Pedang apa sebenar nya ini?! aura merah darah yang sangat mengerikan dan sungguh mendominasi, aku bahkan tidak pernah melihat senjata sekuat ini dulu". Gumam lemah Wu Tian, dengan semua tenang dan semangat nya yang kuat membuat dia masih terjaga.
Dalam penderitaan itu, sebuah bayangan humanoid dengan tubuh hitam agak transparan tiba tiba muncul.
"Kie kie kie sungguh tubuh yang bagus, ini bahkan berkali lebih bagus dari tubuh milik ku sebelum nya". Bayangan itu berbicara dengan suara aneh.
Sontak Wu Tian langsung terkejut, tidak menyangka saat jiwa nya di teka oleh pedang merah itu, akan ada jiwa lain yang akan masuk.
Wu Tian menggerakkan gigi nya, menatap bayangan itu dengan tajam.
"Kau siapa? kenapa kau ada di ruang pikiran ku?!". Tanya Wu Tian dengan tatapan tajam.
"Kie kie kie... bocah, sambutlah sang dewa yang hebat ini!". Ucap bayangan dengan mengangkat kedua tangan ke atas.
"Hmp! Dewa apa nya, hanya sisa jiwa rendahan saja mengakui diri nya dewa". Ucap Wu Tian dengan sinis.
"Bocah kurang ajar! hanya semut seperti mu berani menghina dewa ini!". Teriak bayangan dengan marah.
"Omong kosong, cuma sedikit kemampuan mengakui diri sendiri seorang dewa". Bls Wu Tian.
"Sialan kau! bayar dosamu dengan menyerahkan tubuh mu untukku!". Ucap marah bayangan dengan aura hitam membesar dari tubuh nya.
"Kie kie kie... bocah, kau diam saja dan biarkan aku mengambil tubuh mu, seharus nya kau bangga karena tubuh mu akan dipakai dewa ini hahaha...". Bayangan itu tertawa dengan suara aneh, setelah itu segera terbang cepat ke tubuh Wu Tian yang melayang.
"Lancang! Berani berani nya sebuah jiwa sisa masuk ke dalam tubuh ku!". Suara Wu Tian seperti menahan kesakitan, namun suara nya masih terdengar lantang.
"S-sial... tubuh ini... sangat susah... digerakkan!". Wu Tian dengan keras melawan tekanan pada tubuh nya, sampai sampai darah memgalis dari tubuh nya dengan jiwa nya yang sangat tersakiti.
__ADS_1
Namun tetap saja Wu Tian tidak berdaya, tekanan itu sudah benar benar mengunci Wu Tian nya seutih nya.
"Kie kie kie... jadilah wadah untukku!". Teriak bayangan yang terbang ke Wu Tian.
"Aku! Wu Tian! akan melawan segala hal yang menghalangiku!!!". Teriak lantang Wu Tian, mengerahkan semua tenaga yang dia punya, jiwa Wu Tian benar benar ada di ambang kehancuran, tubuh nya sudah mengeluarkan urat urat dengan darah keluar dari pori pori.
Ngung~
Saat itu, tiba tiba saja pedang diatas perut Wu Tian berdengung dan bergetar halus, namun aura yang meledak dari tubuh pedang itu benar benar meluap kali ini, jauh lebih kuat dari sebelum nya.
"Apa in!". Bayangan yang terbang cepat tiba tiba berhenti, insting nya mengatakan kalau dia harus lari. Segera berbalik berniat untuk pergi, namun sudah terlambat karena aura merah darah sudah menyebar ke segala arah.
"Argh!".
Sedikit aura merah darah mengenai bayangan itu, membuat aura hitam ditubuh bayangan itu seperti menghapus aura di tubuh bayangan nya. Tidak sampai itu, aura merah darah sudah mengepung bayangan itu dari segala arah.
"Arghhhh!". Bayangan itu berteriak kesakitan dengan aura ditubuh nya dihilangkan oleh aura merah darah, seluruh tubuh nya dililit membuat tubuh bayangan itu yang hanya berupa jiwa mulai memudar.
"Arggghhh...! aku tidak terima, aku tidak terima mati seperti ini, aku tidak ingin mati!". Teriak bayangan itu dengn tubuh nya mulai menurut karena aura merah darah, sampai teriakan tidak terdengar dan sosok bayangan itu kini hanya tersisa setitik bayangan hitam. Bayangan hitam seperti tersedot, langsung melesat ke pedang dan terserap ke pedang.
Pedang itu berdengung sedikit keras, tapi tak lama setelah nya kembali berdengung dengan lembut, beserta aura ganas nya sedikit tenang. Namun, saat itu juga pedang di atas perut Wu Tian tiba tiba jatuh dengan memberikan gesekan tajam di udara.
"Gawat!". Ucap Wu Tian lemah, namun kini dia hanya bisa menggerakkan mata nya, itupun masih dengan susah payah.
Jleb!
Bilah pedang merah darah menembus perut Wu Tian.
"Khuk!". Seteguk darah tumpah dari mulut Wu Tian, rasa dingin dan tajam bisa dengan jelas ia rasakan di perut nya. Tidak berhenti sampai disana saja, aura pedang kembali meledak dengan gila gilaan, bersamaan dengan itu darah di dalam tubuh Wu Tian terasa tersedot.
"AAaarrrrggggghhhhh". Wu Tian berteriak dengan suara keras, rasa sakit itu membuat diri nya tidak bisa menahan teriakan nya, darah seluruh tubuh bergerak dan tersedot ke pedang seluruh nya. Walaupun begitu, Wu Tian tetap mempertahankan kesadaran nya, ia takut jika dia tidak sadar, maka itu adalah akhir bagi nya.
__ADS_1
"Wu Tian". Sebuah suara lembut, diikuti sesosok cantik muncul, dia adalah Guang Yun.
"Kakak". Sosok lain muncul, yaitu adik nya.
"Bos". Lalu lima bersaudara muncul.
"Kau kenapa". Ketiga sahabat nya muncul, Liu Bai, Zhou Yun dan Qian Ba.
"Tian'er, seorang laki laki jangan pernah menyerah". Sesosok laki laki muncul, sosok itu muncul bersama seorang wanita, wajah kedua nya agak samar.
"An'er, saat kamu ada di situasi akan menyerah, maka selalu yakin kamu bisa, dan ingat kami akan selalu mendukung mu". Ucap sosok wanita. Tanpa terasa air mata jatuh di sudut mata Wu Tian, walupun kedua wajah itu agak samar dalam ingatan nya, tapi suara itu sangat ia ingat dengan jelas, suara dari kedua orang yang sangat ia rindukan, ibu dan ayah nya.
"Tidak akan! aku tidak akan mati secepat ini! masih ada orang yang menungguku!". Wu Tian langsung kembali dengan semangat nya, hati nya kembali menguat dan tak tergoyahkan.
"Aku, takkan berhenti hanya karena rasa sakit ini, dan aku tidak akan pernah menyerah!". Teriak Wu Tian lantang.
Di dunia nyata, Guang Yun yang menangis memeluk Wu Tian dengan erat dari samping, karena saat ini Wu Tian berlutut satu kaki, Namum aneh nya lutut nya tidak menyentuh permukaan. Sebelum nya Guang Yun memaksakan diri menghampiri Wu Tian, serta ia sudah berusaha dengan keras memisahkan pedang dari tangan Wu Tian, namun sekeras apapun mencoba, dia tidak berhasil memisahkan pedang itu.
Tiba tiba terjadi sesuatu yang aneh, tangan kanan Wu Tian yang memegang pedang seperti ada yang bergerak disana, bersamaan dengan itu aura pedang menjadi semakin ganas, perasaan nya semakin melonjak, nafas nya naik turun karena ketidak berdayaan.
Air mata darah nya yang masih tersangkut di dagunya terjatuh, air mata darah itu jatuh tepat di tengah antara dia dan Wu Tian. Air mata darah meresap langsung, beberapa sat tiba tiba ada getaran, secara perlahan muncul sinar merah dati bawah tempat aair mata darah Guang Yun meresap, cahaya itu langsung bergerak ke permukaan, melesat dan melayang di udara, tepat di atas kepala Guang Yun dan Wu Tian.
Wujud cahaya itu jelas, yang merupakan sebuah bunga.
...****************...
Hai semua, kemarin saya benar benar kesal. Padahal udah jadi setengah karangan nya, eh tetangga malah karoken dangdut, ganggu banget asli, dan saya tidak bisa kalau lagi karang novel, sering buyar ide.
Ilustrasi pedang
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, share, vote, dan kalau bisa tips nya hehehe 😁😁😁
SEMOGA TERHIBUR