
dua bulan berlalu, sesuai janji vian dia akan membawa orangtuanya menemui orang tua sinta.
suara dering ponsel sinta terdengar sangat nyaring, sinta segera mengangkatnya
"Hallo ta " suara vian di ujung telfon
"iya yan... " Jawab sinta,
"kapan kamu libur ta? " tanya vian
"jumat kayanya, kenapa yan? sinta balik bertanya
" orang tuaku mau ketemu , orang tua kamu " jelas via, sinta diam terpaku, ada rasa khawatir di dalam hatinya
"minggu ini? " tanya sinta
"iya minggu ini, bisakan pas kamu libur? "
"Okk, yan bisa"
"Okk kalo gitu, kamu lagi ngapain? "
"lagi kerja yan,"
"ohh Okk aku juga masih kerja nih, yaudah kamu jangan lupa makan ya bye "
"Okk bye " sinta menutup telfonya, tatapannya kosong
"semoga aku gak salah ngambil keputusan" ucapnya dalam hati, Tia yang melihat sikap sahabatnya itu segera menghampiri sinta
"kenapa ta? " tanya Tia
"orang tua vian ingin bertemu, orang tuaku ka " jelas sinta
"loh bagus dong, harusnya kamu seneng, vian bener-bener serius Sama kamu " ucap Tia
"aku masih sering mikirin dhani ka, Dimana ya dia sekarang? " tanyanya
"aduh ta,.... ngapain sih kamu mikirin yang gak pasti, siapa tau dhani sudah punya pacar disana " ucap Tia yang gemas melihat tingkah sahabatnya itu
"aku mau coba hubungin nomernya ahhh" ucapnya, segera mengambil ponsel Dan menghubungi nomer dhani,
"nyambung ka " ucap sinta memberi tahu Tia
tapi ternyata tak di angkat oleh dhani,
__ADS_1
"gak diangkat ka " ucap sinta, dia merasa kecewa, dhani berjanji tidak akan lost contact dengannya tapi sudah 2 bulan berlalu dia benar-benar tidak menghubunginya
"sabar ya ta, kan aku udah bilang jangan hubungi dia " Tia mencoba menghibur sahabatnya
yah benar mungkin dhani benar-benar ingin menghapus semua kenangan bersamaku fikirnya
wajah sinta masih terlihat murung, hatinya masih belum terima, dia ingin mendengar suara dhani meski hanya sebentar tapi sepertinya dhani menolak
"ta kamu gak papakan?" tanya Tia
sinta hanya menggelengkan kepalanya, terlihat ada air menggenang di ujung matanya, Tia tau berapa besar sinta merindukan dhani
"ta, kamu udah telfon orang tuamu di bandung? " tanya Tia, berharap bisa mengalihkan fikirannya
"belum ka" jawab Tia
" yaudah kamu telfon Sana "suruh Tia, sinta mengikuti perintah Tia untuk menelfon orang tuanya
" assalamualaikum mah " salam sinta
"waalaikumsalam nak " jawab seorang perempuan separuh baya di ujung telfon
"mamah apa kabar? " tanya sinta
"alhamdulillah sehat mah "
"ohh syukurlah, gimana pekerjaanmu ta ?" tanya mamah sinta
"lancar mah heheh, mamah lagi apa? "
"lagi nonton tv aja kok "
"mah, jumat orang tua vian mau ke rumah, nanti kamis sinta pulang, " jelas sinta
"ohh alhamdulillah nak, yasudah nanti mamah kasih tau papah mu ya, biar nanti disiapkan semuanya "
"Okk mah, makasi ya sinta kerja lagi"
"iya nak jaga dirimu baik baik " pesan ibu sinta mengakhiri pembicaraan mereka
sinta terdiam sesaat, dia merasa tak bahagia seperti orang orang yang akan di Lamar kekasihnya
"gimana ta? " tanya Tia
"udah ka" jawab sinta, Tia tau ada rasa kecewa di hati sinta, ternyata sahabatnya itu belum seutuhnya mencintai vian, dia hanya merasa iba melihat vian yang terus berusaha membujuk sinta kembali padanya
__ADS_1
"ta, kalau kamu belum siap, ngomong sama vian, jangan korbankan perasaanmu lagi " ucap Tia
"entahlah ka, aku juga bingung " sinta menarik nafas cukup panjang seakan melepaskan semua beban dalam hatinya
"kamu shalat istikhoroh minta berikan yang terbaik sama Allah " nasehat Tia pada sahabatnya yang sedang galau
"iya ka, nanti aku coba " jawabnya, sinta tersenyum Dan memeluk Tia, dia beruntung memiliki partner kerja yang perduli, baginya Tia adalah sahabat sekaligus kakak
"makasi ya ka " ucap sinta
Tia menganggukan kepalanya, berharap sahabatnya itu bisa lebih baik
"ta aku istirahat duluan ya " izin Tia,
"Okk ka " jawabnya, Tia bergegas meninggalkan sinta. tak lama Tia pergi terdengar dering ponsel sinta, di lihatnya ternyata dhani, dengan cepat sinta mengangkat telfonnya
"Hallo " sapa dhani di ujung telfon
"dhanni..... " suara sinta lirih
"ta, kamu gapapa kan? " tanya dhani
"gak dhan, kamu kemana aja, kenapa telfonku gak pernah kamu angkat, wa ku juga gak kamu balas? " tanya sinta, air matanya terjatuh, kesedihannya sudah tak terbendung
"maaf ta, aku belum siap mendengar suara kamu, aku juga gak mau kamu semakin berat melepaskan aku " jelas dhani
"dhan, jumat orang tua vian mau ngelamar aku" jelas sinta, bak petir di siang bolong , ia terkejut mendengar ucapan sinta, ia hanya terdiamm,bibirnya tak mampu ber kata kata
"dhan... " panggil sinta yang tak mendengar suara dhani
"iya ta " jawabnya
"dhan bisa kita ketemu? " tanya sinta
"maaf ta aku gak siap kalo harus ketemu sama kamu " tolak dhani, sinta kecewa mendapat penolakan dari dhani, padahal dia berharap bisa bertemu dengannya, dia ingin mendekap dhani saat ini, melepaskan segala kegalauan dalam hatinya
"dhan aku mohon, seben....tar....aja " paksa sinta
"maaf ta, lebih baik kita gk ketemu,semua akan terasa lebih menyakitkan " ucapnya, sinta tau disana dhanipun merasa sakit yang sama,
" baik lah dhan, maaf in aku ya " ucap sinta kecewa
"yasudah ta, aku mau kerja lagi ya, selamat ya semoga kamu selalu bahagia " doa nya mengakhiri sambungan telfon
"aku pun berharap bisa bahagia dhan " gumam sinta,
__ADS_1