
Sudah 1 jam Sinta tak sadarkan diri, ayah, IBU, kak ina dan kedua anak Sinta tetap setia menjaga Sinta, berharap Sinta segeral siuman.
Akhirnya sintapun mulai membuka matanya secara perlahan, kepalanya begitu berat, ia tak tau apa yang terjadi, yang dia ingat saat itu ia sedang berada di pelukan Dhani. "Dhani" yah... fikirannya teringat akan laki-laki yang sangat ia cintai,
"Dhani...!!!! pah, mah Dhani Mana? " seketika Sinta terbangun sambil menyebut nama Dhani, bahkan ia tak menghiraukan panggilan kedua anaknya.
"ta... ta... sabar dulu... " ayah Sinta menahan tubuh sinta, yang memaksa untuk bangun mencari Dhani
"mamah.... mamah.... mamah.... " tangis Aldrich dan Nova pecah kala melihat ibunya sangat kacau
"kemana Dhani, pasti papah suruh dia pergi....!!!! mahh Dhani Mana? " suara sinta mulai meninggi, hingga memaksa beberapa perawat memasuki ruang rawat sinta.
"mbak tolong tenang dulu ya,,,, tarikkk nafas" perintah suster sambil memegang lengan sinta
"kak ina Dhani mana?" sinta tetap menanyakan keberadaan Dhani, ia begitu takut kehilangan orang yang dia cintai untuk kedua kalinya.
"mbak tenang dulu, kasian bayi yang di kandungan mbak, kalau mbak stress akan berakibat buruk untuk janinnya " penjelasan Salah satu perawat membuat sinta terkejut, seketika ia terdiam, tangannya memegang perutnya, ia tak menyangka ia bisa hamil, selama ini ia sudah KB untuk menunda kehamilannya, bagaimana bisa ia hamil,
"hamil? bagaimana bisa saya hamil sus? " Tanya sinta terkejut
"ia ....mbak sinta saat ini sedang hamil", " jelas seorang suster
tubuhnya seketika lemas, ia kembali mengingat kapan terakhir ia datang bulan, dia baru ingat jika dia memang sudah telat, ia bahkan tak begitu memikirkan skilus bulananya, fikirannya hanya tertuju pada Dhani dan masalahnya.
__ADS_1
"mah... pah...!!!!! Dhani....???? " dia memikirkan pasti Dhani tau tenang kehamilannya,
"ia Dhani sudah tau," jawab ayah sinta, air mata sinta kembali menetes, tuhan kenapa Engkau takdirkan Cinta yang seperti ini, sampai kapan ia harus terus merasakan cinta yang harus terpendam, bahkan ketika semua sudah di depan mata, ia harus kembali kehilangan Dhani
"ya sudah, mbak sinta istirahat dulu, kami siapkan beberapa obat yang harus mbak sinta minum" ucap seorang suster
"baik sus, Makasi ya... " balas ibu, Suster itupun meninggalkan sinta dan keluarganya, sinta hanya bisa termenung meratapi nasibnya, kedua anak sinta berusaha menguatkan ibunya, Nova beberapa Kali memeluk sinta, begitupun Aldrich, setidaknya Ada kedua anaknya yang menjadi Alasan dia untuk tetap kuat.
Tak butuh waktu lama, sinta sudah di perbolehkan pulang, dokter meresepkan beberapa obat untuk depresinya, dokter menyarankan untuk sinta mengecek kehamilannya pada dokter OBGYN atau bidan. setelah semua administrasi selesai, sinta dan keluarganya pulang menggunakan taxi online, tubuh sinta masih lemas, terpaksa ayah sinta harus membopong sinta Dari gang sampai rumah.
"aku Mau istirahat, " ucap sinta, ayah membawa sinta kekamarnya, Karna jika kekamar sinta harus menaiki anak tangga yang tak mungkin bisa sinta lakukan dengan tubuhnya yang tak bertenaga
"mamah... aku disini ya... " ucap Nova yang duduk disamping sinta
******************
Dhani memacu mobilnya dengan membawa Luka yang teramat, ia kembali teringat bagaimana kondisi sinta, ia lihat ponselnya belum Ada persan Dari ayah maupun kak ina,
"Aghhhh" teriak Dhani, sambil memukul stir
"bodoh... bodoh .... bodoh.... " ucapnya terus menyalahkan dirinya sendiri
hatinya benar-benar sesak, ia bahkan tak mengerti perasaan apa yang dia rasa sekarang, kekecewaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, apa yang harus ia lakukan aghhhhh hatinya berteriak seakan ingin menolak semua takdir yang digariskan untuknya, sesulit itu menyatukan cintanya dan sinta.
__ADS_1
Dhani berusaha menarik nafasnya, menenangkan dirinya, fokusnya kembali pada Jalan yang agak sedikit padat, terdengar suara ponsel berdering dia lihat tak ada nama, ia berharap ini Dari keluarga sinta, ia several mengangkat telfonnya, karena sedang menyetir Dhani memakai handsfree agar lebih nyaman
"Hallo Dhani...! " suara kak ina di balik telfonnya
"ini kak ina? " Tanya Dhani untuk memastikan
"iya, ini kak ina, Sinta sudah pulang kerumah, dia lagi di Kamar papah, sama anak-anaknya, dia benar-benar terpukul saat tau ia sedang hamil, dhan tolong kamu jangan benar-benar pergi Dari sinta, kak ina gak tega liat sinta se-depresi itu, " ucap kak ina dengan Nada sedih,
"tapi.. kak....gimana caranya, sinta hamil ka, tak mungkin mereka bercerai"
"kakak tau, tapi kakak benar-benar tak tega liat kondisi sinta Dhan, diatuh anak yang kuat tapi Sekarang dia rapuh, cuman kamu yang jadi sumber kekuatan sinta, tolong jangan pernah tinggalin sinta, vian bukan laki-laki yang tepat untuknya. "
"baik ka, tetap Jaga sinta dan tolong kabarin aku" ucap Dhani mengakhiri pembicaraannya dengan kak ina.
fikiran Dhani semakin kacau, lalu apa yang harus ia lakukan, ayah sinta meminta Dhani menjauhi sinta, tapi kak ini minta dia untuk tidak menjauhi sinta, permasalahan cinta memang rumit, tak serumit ia mengerjakan semua tugas pekerjaannya yang setumpuk.
sesampainya di Jakarta, Dhani segera menghubungi Bastian untuk menemuinya di rumah,namun Bastian masih mengerjakan beberapa pekerjaan yang menumpuk akibat di tinggalin olen Dhani, dan Bastian berjanji akan menemuinya setelah pulang kerja, meski Bastian sudah berumah tangga, namun dia selalu meluangkan waktu untuk sahabatnya itu.
***********
happy reading
makin seru gak?
__ADS_1
semoga kalian suka ya...... ☺☺☺☺☺