
Cinta yang vian rasa kan dulu sepertinya sudah hilang bersama rasa sakit hatinya, ia seolah sudah tak perduli semua yang di lakukan istrinya itu, namun karena ibu mertuanya menyuruh menemuinya, terpaksa ia pergi ke Bandung menyusul Sinta.
Perjalanan Jakarta - Bandung ia tempuh hanya dalam waktu 3 jam, sesampainya di depan rumah sinta, Vian memarkirkan mobilnya, di sebuah pekarangan Mushola, karena memang rumah sinta tak bisa di masuki Mobil.
"assalamualaikum " Salam Vian saat memasuki rumah orangtua Sinta, di lihat semua sedang berkumpul, ayah, ibu, dan kakak sinta, Jadi ternyata sinta sudah menceritakan semua masalah pada ibu, dan ayahnya, dan orangtua sinta menceritakan kembali pada kakak-kakaknya, mereka berharap dengan pertemuan ini, sinta dan vian bisa saling memaafkan dan mempertahankan rumah tangga mereka.
"waalaikumsalam.." jawab semua yang ada di ruang tamu dengan serentak
"masuk nak vian" ajak ibu sambil menarik tangan vian untuk duduk di samping sinta
__ADS_1
"mana anak-anak? " tanya vian, nadanya mulai ketus dan merasa tak nyaman
"anak-anak lagi sama Novi, kasian mereka dari kemarin melihat kalian bertengkar bukan,? gak bagus untuk perkembangan mentalnya" jelas ibu sinta
"jadi untuk apa Saya di panggil kesini? sepertinya sinta sudah menceritakan semua masalahnya, terserah ya kalian mau mandang Saya apa, tapi disini sintalah yang sudah menghianati Saya"
"iya nak, justru Karna itu papah mau minta maaf, atas nama Sinta, Kita pun sudah menasehati sinta, kalau yang sudah dia lakukan itu Salah, dan sinta sudah menyadari kesalahanya, iyakan ta? " Sinta hanya bisa menunduk tanpa sanggup memandang wajah vian, ada rasa takut yang sulit hilang saat bayangan vian sedang menamparnya kembali hadir, belum lagi fikiran tentang Dhani, ia merasa keputusan terbaik hanyalah bercerai.
"maaf pah, Vian udah terlanjur sakit hati, Ini perselingkuhan kedua yang sinta lakukan dengan orang yang sama, dan itu membuat Saya sadar, Saya gak bisa memaksakan hati sinta, dan sayapun akan sulit untuk memaafkan sinta, sepertinya akan lebih baik saya dan sinta untuk tidak bersama dulu" ucap vian, matanya menatap tajam kearah sinta,
__ADS_1
"nak vian, coba difikirkan lagi, kasian anak-anak, mereka akan kehilangan kasih sayang kalian berdua, coba turunkan ego nak vian ya" tambah ibu sinta
"Saya bisa rawat anak-anak Saya sendiri, mereka akan bahagia bersama Saya.... " perkataan vian membuat sinta terpaksa harus bicara karena ini menyangkut kedua anaknya
"apa?!! kamu bisa bahagiain anak-anak? dari mana? mereka aja takut sama kamu!!!!!, gimana bisa kamu ngebahagiain anak-anak, kamu tuh egois, tempramen, aku udah cukup sabar ngadepin sikap kamu yang dikit-dikit Marah, Salah sedikit Marah, " ucap sinta dengan Nada tinggi, hingga membuat vian terpancing emosi
"Kamu sendiri,apa kamu bisa bahagiain anak-anak, mau kamu ajarin selingkuh mereka, hey...!!!!! disini kamu yang Salah, mau gak mau anak-anak harus ikut aku" balas Vian,
"aku gak akan biarin kamu paksa anak-anak, kalau kamu mau pisah aku Okk kita pisah, tapi anak-anak tetap sama aku"
__ADS_1
"udah-udah, kalian disini bukan untuk ngomongin perpisahan, kalian tuh orangtua sekarang, kalian gak bisa egois, anak-anak butuh kalian berdua, bukan hanya Satu dari kalian, apa yang sebenernya ada dalam otak kalian? kalian sadar, apa yang sudah anak-anak lihat, akan terekam jelas dalam fikirannya," ayah sinta terlihat begitu emosi, suasana mulai memanas, ternyata keputusan vian dan sinta hanyalah bercerai, tak ada kita damai ataupun saling memaafkan, dan itu membuat ayah sinta mengbil keputusan untuk menghubungi keluarga Vian, karena ini sudah menjadi masalah besar dalam keluarga sinta