
Setelah proses panjang selama 6 bulan, akhirnya sinta Dan vian resmi bercerai, dengan keputusan hak asuh anak jatuh kepada Sinta, dan Vian berhak kapan saja menjenguk kedua anaknya, Sinta begitu senang dengan keputusan Hakim, akhirnya dia bisa bernafas lega, untuk harta gono gini sinta sama sekali tak mempermasalahkan, baginya anak-anak dalam asuhannya itu sudah lebih Dari cukup.
untuk pertama kalinya sinta kembali bertemu Vian di rumahnya, ia berniat mengemasi semua barang-barangnya Dan kedua anaknya, saat itu sinta datang bersama kedua anaknya, tanpa di temani Dhani, ia membawa sendiri mobil milik ayahnya.
sinta memarkirkan mobilnya di depan rumahnya, terlihat berbeda setelah hampir 7 bulan sinta meninggalkan rumah, sangat tidak terawat. ia melangkahkan kaki menuju halaman rumahnya, Dan membuka pintu yang sedikit terbuka, terlihat
Vian sedang bermain game saat itu.
"assalamualaikum... papah... " teriak kedua anak sinta sambil memeluk erat tubuh Vian, Vianpun membalas pelukanya Dan mencium kedua anaknya penuh rindu
"waalaikumsalam anak-anak papah... apa kabar? " Tanya Vian,
"aku Baik pah" jawab Nova
"aku juga... " adik tak Mau kalah
"aku kesini Mau ambil barang-barang" ucap sinta yang masih berdiri di depan pintu
"oh.. Okk!..." ucapnya, suasana sedikit kaku, tak Ada kehangatan yang dulu sempat hadir di rumah ini, semua begitu hambar, sintapun tak begitu banyank bicara, ia langsung bergegas mengemasi barang-barang yang Akan dia bawa ke bandung, rencananya sinta Akan menetap Dan bekerja di bandung.
selama sinta mengemasi barang-barangnya, Vian dan kedua anaknya Asik bercanda, melepas rindu, sedih memang, tapi ini yang terbaik menurutnya, meski terkadang Ada penyesalan yang hadir ketika Nova Dan Aldrich merasa sedih dengan perpisahan orangtuanya
"anak-anak disinikan? " Tanya Vian ketika melihat sinta mulai mengeluarkan beberapa kardus dan kopernya
"iya, mereka Mau nginep sama kamu katanya, tapi lusa aku jemput" ucap sinta
"biar aku antar aja, jadi kamu gak perlu repot-repot jemput " ucap Vian, Sinta hanya mengangguk dan kembali merapikan bawaannya, Vian membantu menaikan beberapa koper dan kardus kedalam mobil sinta, sesekali Vian menatap mata sinta, seakan tak percaya, bahwa Sekarang dia benar-benar kehilangan sinta, begitupun dengan sinta,hampir 13 tahun ia bersama, dari pacaran sampai menikah, bukan waktu sebentar, banyak kenangan manis yang sudah mereka ciptakan,
__ADS_1
"kamu hati-hati ya! " ucap Vian
" iya, kamu jaga diri baik-baik, jangan telat makan... jangan bergadang terus, kurangin game nya, " tangis sinta pecah saat begitu banyak pesan yang ia sampaikan untuk mantan suaminya itu
"sudah jangan nangis,kamu gak usah khawatir, aku nanti tinggal sama mamah kok, jadi tetap Ada yang Rawat. " ucap Vian sambil mengusap rambut sinta,
"kamu suka Lupa waktu kalau main game, tolong di kurangin, jaga diri kamu baik-baik," ucap sinta dengan dada yang begitu sesak
"hmm... kamu juga, " ucap Vian
"yaudah aku pulang ya.... " pamit sinta
"anak-anak, mamah Mau pulang" panggil Vian, anak-anak masih Asik bermain game favoritenya yang sudah Lama tak mereka mainkan Karna harus tinggal di rumah kakek Dan neneknya
"mamah hati-hati ya" peluk Nova Dan Aldrich
"Okk Mah! " jawab Nova Dan Aldrich bersamaan
Mobil sintapun Melaju dengan lambaian tangan kedua anaknya, dadanya tiba-tiba begitu sesak, air matanya terus mengalir sepanjang Jalan, kesedihan yang terus ia rasakan, ketika mengingat kembali hari-hari bersama Vian Dan kedua anaknya.
Mobil terus Melaju memecah kepadatan Kota Jakarta, Hari ini ia berjanji Akan menemui Dhani sebelum kembali ke bandung, karena kebetulan Dhani sedang libur bekerja, mereka bertemu di apartment Dhani, setelah bercerai Dhani meninggalkan rumahnya, Dan menyewa apartment yang tak jauh Dari kantornya.
Mobil sinta terparkir di basement apartment, ia segera menghubungi Dhani untuk menjemputnya di loby.
"sinta...! " panggil Dhani Dari dalam loby, sedang sinta masih berada di luar loby
sinta segera menghampiri Dhani,matanya begitu sembab, sepanjang perjalanan ia menangis mengingat kembali kebersamaannya dengan Vian
__ADS_1
"kamu abis nangis? Vian ngapain kamu lagi?, kemarinkan aku bilang, aku yang antar.... anak-anak gimana? " pertanyaan terus keluar dari mulut Dhani, ia begitu khawatir melihat Mata kekasihnya itu sembab,
"aku gak papa kok, Vian gak ngapa-ngapain aku, aku cuman sedih aja, anak-anak sama papahnya, lusa Vian Akan antar ke bandung" jawab sinta
"yaudah yuk ke kamarku" ajak Dhani merangkul Sinta melewati receptionist menuju lift, Kamar Dhani berada di lantai 8 , memang tidak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk dia yang hanya tinggal sendiri.
"Ayo masuk...! " Dhani membuka pintu Kamarnya, terlihat sangat rapih, ruangan berukuran 25 m yang memiliki 1 Kamar tidur, dapur minimalist yang sudah tertata beserta meja makannya, ruangan tamu Dan ruangan tv yang hanya di pisahkan oleh sebuah meja panjang.
"kamu kenapa sih sayang, masih nangis aja? " Tanya Dhani sambil menggenggam tangan sinta yang duduk di sofa ruang tamu
"Dhan... gak tau kenapa, tadi liat anak -anak kayanya kangen banget sama papahnya, aku jadi merasa bersalah " jelas Sinta
"itu wajar kok, kamu terbawa suasana, tapi Vian gak kasarin kamu kan? " Tanya Dhani
"gak kok, justru dia malah bersikap manis, dia Bantuin aku masukin barang-barang ke Mobil, ternyata perceraian itu gak semudah yang aku fikirkan, melihat anak-anak yang menjadi korban rasanya hatiku sakit banget" jelas sinta, Dhani kemudian merangkul wanita yang sangat ia sayangi itu.
"udah... kamu jangan selalu menyesali semua yang terjadi, anak-anak jauh Akan lebih bahagia melihatmu seperti ini, tak Ada pertengkaran yang mereka saksikan, kamu dan vianpun memberikan kasih sayang yang utuh untuk mereka, aku yakin mereka Akan baik-baik saja" ucap Dhani terus menenangkan sinta dalam dekapannya.
"kamu sekarang harus bahagia, jangan Ada air Mata yang terus mrnerus jatuh di pipimu" lanjutnya sambil mengusap air Mata sinta
"aku sayang banget sama kamu, aku gak Mau kehilangan kamu lagi" sinta kembali mendekap Dhani,
"iya sayang, aku gak Akan pernah tinggalin kamu lagi, " jawabnya sambil terus membelai kepala sinta yang berada dalam dekapannya.
bagi Dhani meninggalkan sinta Adalah sebuah penyesalan yang teramat, untunglah Tuhan kembali mempertemukan sinta denganya, dan kesempatan ini tidak akan pernah ia sia-siakan.
perpisahan dulu menjadi pelajaran baginya, jika Cinta itu tak akan pudar meski terpisah oleh jarak maupun waktu. Dan merelakan orang yang kita cintai, dengan orang lain belum tentu Akan membuat dia bahagia.
__ADS_1