
Ibu sinta menemui sinta di Kamar, setelah obrolan dengan Dhani selesai, ia menyuruh sinta menemui Dhani, karena ada yang ingin Dhani bicarakan, sinta pun segera menghaapus air matanya, membasuh mukanya, agar tidak terlalu sembab, sang ibu terus berusaha meyakinkan sinta, untuk mengikuti kata hatinnya, berbeda dengan sang suami, ibu sinta diam-diam justru setuju dengan keputusan sinta.
Setelah sedikit berhias, sinta turun menemui Dhani, merekapun meminta izin untuk pergi keluar sebentar, untunglah anak-anak masih bersama ka ina, jadi sinta dan Dhani bisa jalan berdua.
"jangan nangis dong" ucap Dhani ketika mereka berjalan menuju parkiran, sinta hanya bisa menatap wajah Dhani, rasanya teresa begitu sesak, laki-laki ini yang bisa membahagiakannya, tapi dia teroaksa harus melupakannya, aghhh rasanya Cinta tak adil padanya, jika harus Ada oerpisahan mengapa ada cinta diantara mereka, itu yang saat ini sinta fikirkan
"kamu tunggu sini aku ambil Mobil ya" Dhani pun bergegas Mengambil mobil ya yang sebelumnya di parkir di sebuah mushola, tak lama Mobil mendekati sinta, sinta pun segera naik.
"mau kemana? "tanya sinta
" ke hotel dulu ya, kita bisa ngobrol disana, ingett......ngobrol ya... !!!"ucap Dhani tersenyum, berharap sintapun bisa kembali ceria
" hehe... iya pak.. ! " ucap sinta, Dhani sedikit lega, Kala senyum sinta kembali menghiasi bibirnya.
"gitu dong, aku senang bisa liat kamu senyum jadi jangan nangis lagi ya" Dhani mencubit dagu sinta, aghhh sinta selalu terbuai dengan sikap Dhani , hatinnya semakin berat untuk bisa melepas Dhani.
Mobil berhenti di sebuah loby hotel yang tak begitu mewah, namun memang posisinya tak jauh dari rumah orang tua sinta, Dhani terlebih dulu menurunkan sinta di pintu loby, kemudian Ia memarkirkan Mobilnya di sebuah gedung parkir yang berada di samping loby.
"yuk....!!! " ajak Dhani pada sinta yang menunggu nya di sebuah sofa samping resepsionis
Dhani mengajak sinta menuju Kamar 211, meski sederhana, namun hotel ini memiliki Interior yang didominasi oleh warna biru tua dan putih. Pada beberapa bagian ada aksen warna emas sehingga terlihat lebih mewah.
__ADS_1
Di seberang ranjang terdapat TV dan meja tv yang digantung pada dinding beton. Pencahayaan secara tidak langsung dari balik tirai membuat desain kamar hotel ini semakin nyaman.
Dhani mengajak Sinta duduk-duduk di balkon yang memiliki luas 2x2 m, dengan pemandangan Taman bermain yang tertata rapi, terdapat 2 kursi Dan meja bulat menambah kenyamanan saat menikmati udara Bandung yang masih segar.
"duduk ta,.. " suruh Dhani
"enak ya tempatnya, aku yang deket malah gak pernah kesini" ucap sinta sambil melihat design kamarnya
"yahh... kamu ngapain kesini, enakan juga di rumah" ucap Dhani sambil menuangkan air putih di sebuah gelas yang sudah tersedia
"iya sih pak..!!!! "
"minum nih, " Dhani menyodorkan segelas air putih pada sinta yang sudah duduk di kursi yang berada di balkon.
"ta... maaf ya aku harus ajak kamu kesini, karena kita perlu bicara berdua, antara aku sama kamu, dan satu !!!! tolong jangan panggil aku pak, kamukan bukan bawahan aku lagi, masa kamu masih panggil aku pak,...? ucap Dhani
"i-ya pak.....maaf,... ehhhh... Dhan" senyum sinta, Dhani pandangi wajah sinta dengan penuh sayang, Ia bahkann rela berlutut di hadapan sinta untuk bisa memandangin wajah sinta Dari dekat, Tangan lembutnya terus mengusap wajah sinta,
"aku suka liat senyum kamu ta, aku sayang banget sama kamu " ucap Dhani kini Ia menggenggam tangan sinta yang berada di pangkuan sinta
"aku bakal terus tersenyum kalo sama kamu dhan, tolong jangan berfikir untuk pergi lagi, aku tau aku egois, orang akan berfikir aku Salah, aku jahat, atau apa, aku gak perduli dhan, sudah cukup aku hanya bisa mengaggumi dari jauh, mencintai dalam bayangan,.!!! orang tak pernah tau perasaan aku, Kala aku harus melepaskan kamu, terpaksa menikah dengan laki-laki yang tidak terlalu aku cintai, !!!! jadi aku mohon jangan perdulikan ucapan ayah ku, " ucap sinta penuh emosi, untuk Kali ini dia tidak akan melepaskan Dhani lagi, meski dia harus di pandang buruk oleh semesta,
__ADS_1
"ta.... sabar dulu, aku pun memiliki perasaan yang sama, tapi apa yang papah kamu bilang, Ada benanarnya, ingat ta.... !!! bukan hanya perasaan kita yang harus di fikirkan, anak-anak orangtua, dan yang paling penting nama baik kamu, aku gak mau Vian justru memandang rendah kamu, ... " Dhani berusaha memberi pengertian pada sinta, namun sepertinya sinta tetap tidak terima
"sudah cukup kamu ngelepasin aku ya dhan, kamu janji akan perjuangin aku kalau aku gak bahagia sama Vian, Mana? ;!!! Mana!!!!! itu janji yang selalu aku pegang sampai saat ini, kamu fikirin semua orang, anak-anak, bahkan nama baik, tapi kamu gak fikirin perasaan kamu dan perasaan aku" Sinta semakin emosi, sampai berteriak Dan berdiri di hadapan Dhani
"ta... aku ngerti,.... tapi emang perasaan ini udah Salah Dari awalnya"
"apa yang Salah?, gak Ada Cinta yang Salah dhan, yang Salah cuman kita yang pengecut, terlalu banyak memikirkan perasaan orang, tanpa pernah memikirkan diri kita sendiri....!!!!!! "
"aku minta maaf ta, aku terlalu Lemah,,,,aku memang pengecut" Dhani memeluk sinta, Ia begitu sakit melihat sinta menangis.
"iya....kamu pengecut..... aku benci sama kamu,,,, aku benci.... kamu hanya memberi harapan yang sebenernya tak Ada, aku benci dhan sama kamu,,,,, " teriak sinta sambil memukuk Dhani, rasanya sakit sekali, hatinya begitu sesak tangisnya semakin pecah, difikirannya hanya harus mempertahankan Dhani tak perduli apa resiko yang akan dia terima,
"ta... aku mohon kamu sabar dulu, " pelukan Dhani semakin erat, Ia mencoba menenangkan sinta yang semakin meluap-luap emosinya, Dhani mengecup Kepala sinta, berharap sinta lebih tenang
"aku sudah terlalu sabar memendam rasa ini, aku gak mau kehilangan kamu, aku mohon jangan pergi!!!!! jangan tinggalin aku, aku gak mau dhan... " suara sinta mulai melemah, rasanya 3 Hari belakangan ini menjadi hari terberat untuknya, air mata dan energinya sudah terkuras habis, Dhani masih memeluk sinta yang mulai melemah, hingga Ia terpaksa membopong tubuh sinta menuju atas kasur,
"aku mohon Dhan, aku mohon jangan tinggalin aku" kata-kata itu terus terucap dari mulut sinta, meski tubuhnya sudah lemah, air matanya tak henti-hentinya menangis, Dhani sungguh Sangat mengkhawatirkan keadaan sinta, tanpa sadar Dhanipun meneteskan air mata, hatinya tersayat melihat orang yang dia Cinta harus merasakan kesakitan yang ljar biasa, karena kelemahannya.
"sinta... aku mohon jangan kaya gini... " Dhani terus mengusap Air mata sinta , sinta enggan membuka matanya, namun bibirnya terus berkata "aku mohon jangan tinggalin aku dhan"
"Dhani berusaha menenangkan sinta, namun hasilnya nihil, sinta justru malah tak sadarkan diri, Ia mulai Panik, apa yang harus Ia lakukan,
__ADS_1
" ta... sinta... ta.. sayanggg.... bangunnn aku minta maaf, aku mohon jangan begini, sayang.... bangunnn..... ta...!!!!!!!" Dhani terus berusaha membangunkan sinta, namun mata sinta tetap tak terbuka, iapun segera bergegas menghubungi resepsionis untuk meminta pertolongan, Tak lama 2 orang pelayan datang membawa beberapa minyak aromaterapi untuk membantu membangunkan sinta, namun tetap tak berhasil, hingga Dhani memutuskan untuk membawa sinta ke klinik terdekat, dia begitu khawatir dengan keadaan sinta, sepanjang Jalan Dhani menangis Dan berusaha membangunkan sinta yang duduk di samping kursinya.