My Expectations (Penantianku)

My Expectations (Penantianku)
episode 66 kuhabisi kau!


__ADS_3

Semalaman Dhani tak bisa tidur memikirkan Sinta, ia bisa membayangkan bagaimana sinta sangat terpukul ketika harus jauh dari orangtuanya, otaknya mulai berputar bagaimana ia bisa mengambil anaknya sinta dari Vian, Diana mereka sekarang?.


"Tok... Tok.... Tok" terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan kerja nya.


"masuk....!!! " teriak Dhani, tak lama masuk lah Ara sekertaris Dhani.


"permisi pak! maaf cuman mau nyerahin berkas aja " ucap Ara sambil memasuki ruangan Dhani, Ara melihat Dhani sangat kacau, rambutnya ia biarkan tak beraturan, sepertinya banyak hal yang sedang ia fikirkan, wajahnya pun tak berseri seperti biasanya


"ohhh Okk! Ara setelah ini, tolong kamu panggil Bastian, Saya Ada Perlu" ucap Dhani sambil mengambil berkas yang dia berikan Ara


"baik pak! Saya permisi dulu" Ara pun segera meninggalkan ruangan Dhani, dan segera mencari Bastian yang biasanya kalau pagi-pagi dia sedang sarapan di pantry.


"pak Bastian.! " panggil Ara


"apa Ara cantik....! pagi-pagi udah manggil Saya" ledek Bastian


"ihhh si bapak ! di panggil pak Dhani! "


"yahhhhh.... ngapain sih dia pagi-pagi! gak bisa liat orang nongkrong dikit! " keluh Bastian yang sedang menikmati secangkir kopi Dan gorengan


"sepertinya side job pak! " bisik Ara sambil tertawa


"aghhhh susah emang kalau bos galau, bawahan kena imbasnya" tawa Bastian, sambil menaruh kopi Dan bergegas menemui Dhani


"Tok.... Tok... Tok... " Bastian mengetuk pintu ruangan Dhani


"kreaaakkk" suara gagang pintu terbuka


"kenapa Dhan...? lo manggil gue?" Tanya Bastian sambil menghampiri Dhani di kursi kerjanya

__ADS_1


"iya.... gue lagi pusing banget" keluh Dhani


"sinta lagi? terus vira dan anak lo gak lo Fikirin? " Tanya Bastian


"fikirinlah, makanya gue puyeng, semua gue fikirin..... cuman emang fokus gue sama sinta, vian bawa anak-anak ke jakarta, gue gak bisa bayangin sinta sekarang lagi sedih banget, dan gue gak bisa apa-apa! " suara Dhani terdengar parau karena menahan tangis.


"lo gak bisa bayangin perasaan sinta?, lalu vira? bukannya diapun jadi orang yang tersakiti saat ini? " Bastian mencoba mengingatkan bahwa Virapun sedang merasakan kesedihan yang sama dengan sinta.


"basss! bukan maksud gue nyampingin Vira, ini perasaan gue Bas....! gue harus apa? gue gak bisa lawan rasa khawatir gue buat sinta! "


"brooo..... setiap hati yang terluka, akan Ada karma di kemudian hari, kalau lo Mang cinta sama sinta, selesaikan hubungan lo sama Vira, dia pergi ninggalin lo, bukan semata-mata pergi, dia pasti berharap lo bakal kangen sama dia, berharap lo kehilangan dia....dan sekarang! apa yang lo lakuin kedia? lo justru malah semakin cuekin dia? kapan lo terakhir hubungin dia? " cecar Bastian,


"iya bro, gue janji setelah ini, gue bakal ke bandung temuin Vira, tapi gue butuh bantuan lo, please kerjain kerjaan gue, gue Mau kerumah sinta, gue Mau liat apa vian bawa anak-anaknya kesana? " ucap Dhani sambil bangun dari kursinya dan mengambil kunci Mobil yang Ada di laci meja kerja


"kan...! kan...! kan...! ujung-ujungnya gak enak nih.. " keluh Bastian sambil matanya terus mengawasi Dhani yang mulai berjalan menuju pintu


"Ara tolong kamu pesan, 3 loyang pizza dan 2 lusin donut ya...! nanti kasih Bastian 2 pizza dan 1 lusin donut, sisanya buat kamu, Saya Ada Perlu, kalau Ada yang cari Saya, semua di handle Bastian okkk?! "


"siapp pak...! " Ara langsung memesan semua pesanan Dhani dan Dhani bergegas meninggalkan Ara menuju parkiran Mobil.


Ia memacu mobilnya menuju kediaman Vian dan sinta yang jaraknya sekitar 20km Dari kantor, untunglah jalanan lancar, jadi tak butuh waktu Lama Dhani sampai di depan rumah sinta, terlihat Mobil Vian terparkir, dan pintu tak tertutup rapat, Dhani mendengar sedikit teriakan dan tangisan dari dalam rumah Vian, Dhani Keluar dari Mobil, Ia melihat beberapa ibu-ibu menatap tajam kearah Dhani, sepertinya mereka mulai membicarakan kedatangan Dhani namun Dhani mengacuhkan semuanya, ia terus melangkah masuk Kedalam, Ia melihat Aldrich sedang menangis, dan Nova berusaha menenangkan.


"om Dhani...! " Aldrich dan Nova berlari bersamaan memeluk Dhani, mereka menangis dalam pelukan Dhani, Vian yang berada di Kamar segera Keluar,


"lancang lo ya, berani kesini? " teriak Vian


"Vian gue bener gak Mau ribut! tapi Cara lo ngambil anak-anak dari sinta itu Salah,tolong lo jangan egois, fikirin perasaan anak-anak, mereka gak bisa Mau dari sinta" Dhani berusaha untuk mengatur emosinya


"lo gak bisa ikut campur urusan gue! " tangan Vian mencengkram kerah Dhani, dan mendorongnya hingga terjatuh ke sofa

__ADS_1


"kalau menyangkut sinta, berarti jadi urusan gue...!! " Dhani berusaha melepaskan cengkraman Vian, kedua anak sinta terus menjerit, hingga membuat beberapa warga sekitar datang


"boakkkk" bogem mentah mendarat di pipi Dhani, dua orang warga yang menyaksikan perkelahian mereka mencoba memisahkan


"udah mas, Ada anak Kecil" ucap Salah satu warga yang menarik tangan Dhani


"dasar brengs*k, gak tau malu, udah puas lo ambil sinta dari gue, sekarang lo Mau ambil anak-anak gue, gak bakal! anj*ng " umpat Vian sambil terus berusaha meraih tubuh Dhani.


"udah pak Vian, udah... kasian anak-anak" ucap Salah seorang warga yang berusaha menenangkan Vian


"lo yang breng*ek! belum puas lo nyakitin sinta....? kalau bukan di rumah lo gue habisin lo... " Teriak Dhani


"lepasin pak, Saya Mau pulang! " ucap Dhani sambil sedikit menarik tangannya yang berada dalam cengkraman Salah satu warga yang mencoba memisahkan perkelahian mereka.


"ayo anak-anak Naik, kita kerumah nenek" ajak Dhani, anak-anakpun berlari menuju Mobil Dhani


"Mau kemana? jangan ambil anak-anak gue, Dhani berhenti gak, gue bisa laporin lo kepolisi" teriak Vian, iapun berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman pak Sofyan tetangga Vian yang memisahkan perkelahian Vian dan Dhani


"pak lepasin..... dia Mau ambil anak saya! " teriak Vian,


"pak Vian sabar dulu, kasian anak-anak, mereka begitu takut liat pak Vian, biar mereka dengan mas itu, " ucap pak Sofyan.


"pak Sofyan jangan ikut campur urusan Keluarga Saya, gara-gara bapak, anak Saya di ambil" Vian begitu geram melihat Mobil Dhani berlalu pergi membawa anak-anaknya.


"anj*ng, bapak gak liat, Saya kehilangan anak Saya?, bukannya Saya tuan rumahnya, mereka anak-anak Saya, lalu kenapa kalian membiarkan si brengs*k itu bawa anak Saya? " amarah Vian berapi-api,


"maaf pak Vian, dari kemarin Saya Denger anak-anak nangis, memanggil mamahnya, Saya gak tega, " ucap pak Sofyan


"aghhhh.....!!! Keluar semua dari rumah Saya, heran!!! kenapa pada ikut campur masalah gue sih " teriak Vian, wajahnya memerah, amarahnya semakin tak terkendali, melihat Vian yang semakin memanas oak Sofyan dan Salah satu wargapun pergi meninggalkan rumah Vian.

__ADS_1


__ADS_2