
Sinta memilih tidak ingin membicarakan masalah nya, setelah pertemuan tadi. saat ini dirinya butuh sendiri, untuk memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil? meski hatinya sudah kuat untuk berpisah, namun jika ia melihat anak-anak, ia teringat kembali hari-hari yang mereka lalui bersama, anak-anak butuh sosok ayah, yang tak mungkin ia pisahkan, entahlah setiap ia berfikir untuk memperbaiki hubungnnya dengan Vian, hatinya seakan menolak, sungguh sulit baginya untuk kembali bersama Vian.
Sinta memutuskan untuk ke kamarnya, disana dia bisa sedikit beristirahat tanpa harus memikirkan kedua anaknya, karena Aldrich dan Nova jika sudah ke rumah kakek dan neneknya, dia akan memilih tinggal di rumah kakak sinta yang jaraknya tak jauh dari rumah orangtuanya.
Sinta kembali memikirkan Dhani, iapun segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Dhani,
dengan sigap Dhani segera mengangkat telfon dari sinta, karena sebenarnya dia sudah lama ingin menghubungi sinta, namun takut mengganggu.
"hai.... " suara Dhani selalu bisa membuat sinta sedikit lebih tenang
"hai...lagi apa? " Tanya sinta
"lagi mikirin kamu ta, "
"ihhh apaan sih pak, masih gombal aja" ucap sinta tersipu malu
"gak gombal, beneran tadi lagi mikirin kamu, kamu gak papakan?gimana anak-anak? " Tanya Dhani, ia masih merasa khawatir dengan keadaan sinta
"gak kok pak, anak-anak biasa mereka, didirumah ka ina, kalau disini anak-anak gak pernah sama aku pak! di rumah ka ina banyak temennya, kayanya mereka udah jauh lebih baik" jelas sinta
"ohh syukur deh...kamu udah makan? "
"belum pak, lagi males, ohhh ya... tadi vian kesini, kita sempet berdebat lagi, dia sepertinya benar-benar gak bisa maafin aku, " jelas sinta, sebenarnya hal itu tidak terlalu difikirkan oleh sinta,
"kamu kecewa? apa perlu aku datang nemuin keluarga kamu untuk menjelaskan semuanya?" Tanya Dhani
__ADS_1
"gak perlu pak, percuma udah terlanjur jelek di Mata mereka, aku juga udah gak perduli, saat ini aku mau focus menata hati dan merawat anak-anak" ucap sinta,
Merekapun asik berbincang melalui sambungan telfon hingga tak sadar ayah sinta sedari tadi menguping pembicaraan mereka,
"sinta.... " panggil ayah sinta mengaggetkan sinta,
"telfon siapa? " Tanya ayah sinta
"hmm i-tu pah, ... " sinta tak mungkin menjawab jika itu telfon dari Dhani,
"bisa papah ngomong sama kamu sebentar?" Tanya papah, sinta yang masih duduk di kasur dengan memegang ponselnya hanya mengangguk
"ya udah, papah tunggu di bawah" ayah sinta pun segera meninggalkan sinta, ia memberi kesempatan sinta untuk melanjutkan telfonnya
"pak... udah dulu ya, nanti aku telfon lagi" ucap sinta, dan langsung mengakhiri percakapan mereka. Sinta segera bergegas menemui ayahnya yang sudah lebih dulu berada di ruang tamu bersama istrinya.
"ta.. tadi kamu telfonan sama Dhani? gak sengaja papah tadi denger, " Tanya ayah sinta membuat sinta kikuk tak bisa berkata apa-apa, ia hanya mengangguk membenanarkan ucapan ayah nya
"ta, apapun yang kamu lakukan bersama Dhani itu Salah, inget ta, kamu sudah punya vian dan anak-anak, kalaupun kamu bercerai saat ini, vian bisa saja mengambil hak asuh anak-anak, karena perceraian kalian ini kesalahan kamu, kamu rela kehilangan anak-anak?, " nasehat ayah sinta, sinta hanya menunduk bingung
"kalau Saran mamah, kamu minta maaf sama vian, lupain siapa itu?"
"Dhani.... " jawab sinta
"iya Dhani, atuh kamu mah aneh, udah tau suka sama Dhani kenapa pilih Vian, sekarang kamu sendiri yang repot, namanya rumah tangga mah kalau bisa sekali seumur hidup, jangan ada perceraian, karena dampaknya ke anak-anak, kasiankan mereka, " ucap ibu sinta menambahkan nasehat suaminya
__ADS_1
"tapi mah, vian kasar.... sinta gak kuat" rengek sinta, teringat kembali bagaimana perlakuan Vian yang menampar sinta tanpa ampun
"mungkin saat itu karena dia emosi ta, wajar namanya suami, liat istrinya selingkuh, mungkin kalap...!" ucap ayah sinta
"gak tau pah, mah, sinta rasanya gak bisa, kalau harus liat vian, sinta masih takut! "
"kamu mau biarin anak-anak di bawa vian? " Tanya ayah sinta
"ya gaklah pah..!!!!!, emangnya kalau hak asuh anak, gak bisa nanya anaknya mau ama siapa? mungkin itu bisa jadi pertimbangan!!!! "
"kalaupun bisa apa tega?! kamu pisahin anak-anak sama papahnya?" Tanya ibu, membuat sinta kembali berfikir, rasanya otak sinta saat ini sudah mau pecah, memikirkan semua kebimbangan yang ada.
"kamu Cinta banget sama laki-laki itu? " Tanya ayah sinta, rupanya perasaan sinta memang sudah tak berpihak pada Vian, memang sulit memaksakan kehendak hati, Sinta hanya bisa mengangguk, mungkin orang akan melihat ia terlalu egois, tapi perasaanya seakan sudah tak terbendung, dalam status pernikahan ia masih selalu memikirkan Dhani, menanti bisa bertemu denganya, belum lagi jika rasa rindu itu muncul tanpa bisa dia cegah, jika dia memaksa kembali pada Vian sampai Japan perasaan itu akan muncul, saat ini Dhanilah yang bisa menghiburnya, menguatkannya, mengingatkan anak-anak adalah prioritasnya,
"bisa papah ketemu? " Tanya papah, Sinta sedikit terkejut dengan pertanyaan ayah nya, apa yang akan ayah katakan pada Dhani?
"hmm-mmm untuk apa pah?
" kalau kamu memang sudah benar-benar mau berpisah sama Vian, papah harus tau laki-laki apa yang nanti nya akan menggantikan Vian, apa dia bisa lebih baik dari Vian?, apa dia bisa menerimamu dan anak-anakmu?,papah harus liat ketulusan laki-laki itu, jangan sampai dia sayang dan berperan sebagai pahlawan hanya untuk mendapatkan kamu, setelah itu.... dia bersikap semena-mena pada kamu. " jelas ayah sinta,
"coba sinta Tanyakan orangnya dulu pah, mungkin dia masih di bandung besok, jadi dia bisa kesini" jawab sinta, ibu sinta hanya menggelengkan kepala melihat sikap anaknya, sungguh di sayangkan, jika harus ada perceraian, meski memang keluarga sinta agak sedikit kecewa dengan sikap Vian yang terkadang arogan, tapi mereka tidak membenarkan adanya perselingkuhan apa lagi perceraian.
*********
Happy reading, di bikin agak panjang sedikit biar enak bacanya, terimakasih yang masih setia baca novelku.......
__ADS_1
aku sayang kalian❤❤❤❤❤