My Expectations (Penantianku)

My Expectations (Penantianku)
episode 64 Ayo kita pulang


__ADS_3

Vian memacu Mobilnya membelah Jalan tol yang sangat lancar sore itu, ia berniat menjemput istrinya, sepanjang Jalan ia memikirkan apakah hatinya bisa menerima Sinta kembali setelah semua perlakuannya pada dirinya? entahlah setidaknya hari ini dia bisa berjumpa kedua anaknya, hanya Nova Dan Aldrich yang dia rindukan ketika jauhh dari keluarganya.


Setelah 2 jam memacu Mobilnya, Vian sampai di kediaman orangtua sinta, seperti biasa, ia memikirkan Mobilnya di sebuah mushola dan ber Jalan memasuki gang untuk bisa sampai di rumah mertuanya.


"Assalamualaikum " Salam Vian sambil membuka pintu yang sedikit terbuka,


"papah..... " teriak Aldrich sambil memeluk, papahnya yang sudah 2 hari tak ia lihat


"sayang, papah kangen! kamu kangen papah gak? " Tanya Vian sambil menggendong Aldrich


"masuk Vian.... " Ibu sinta mempersilahkan masuk, sinta yang berada di kamarnya, mendengar suara nama Vian, "kenapa dia datang? " gumamnya dalam hati, sinta sama sekali tak menceritakan kehamilannya pada Vian, "apa mungkin dia kesini karena memikirkanku?" fikirnya, ahhhh entahlah dia sangat begitu kesal dengan Vian, jangankan untuk bertemu mendengar suaranya saja dia sudah tak mau.


"sini pah... mamah diatas" suara Nova memanggil papahnya.


terdengar suara langkah kaki, membuat sinta menutupi tubuhnya dengan selimut, dan berpura-pura tidur.


"yah....!! mamah Bobo pah" ucap Nova saat melihat tubuh sinta terbalut selimut


"yaudah jangan di ganggu kasian mamamhnya" ucap Vian, tapi sepertinya Vian tau jika sinta berpura-pura tidur, ia hafal sekali jika sinta sudah benar-benar terlelap.


"yaudah kebawah lagi yuk! " anak Nova sambil menarik tangan papahnya.

__ADS_1


"boleh gak papah disini? temenin mamah! " pinta Vian, Sinta hanya terdiam di balik selimut, ia sadar Vian mengetahui dirinya sebenarnya tidak tertidur


"Okk, tapi nanti kita main ya pah, aku mau jalan-jalan sama papah! " rengek Nova manja


"iya sayang, yaudah kamu kebawah dulu ya....! " Novapun menuruti perintah Vian, dan meninggalkannya bersama sinta, Vian mulai mendekati tubuh sinta yang terbaring dengan posisi miring di atas kasur, dengan balutan selimut berwarna biru, rambutnya ia biarkan tergerai di atas bantal, dan membiarkan setengah kepalanya terbuka, vian dengan perlahan duduk di samping tubuh sinta, ia belai lembut rambutnya istrinya, sesekali kecupan mendarat diatas kepala sinta, dan itu membuat air Mata sinta menetes, ia begitu benci dengan laki-laki di sampingnya itu, setiap sentuhan Vian justru membuka memory kekasaran sikap Vian padanya,


"aku tau kamu gak tidur! " ucapnya lembut, namun sinta tetap tak mengeluarkan suaranya, hanya tubuhnya sedikit bergetar menahan tangisnya.


"ta.. aku tau hubungan kita kurang baik belakangan ini, jujur aku benar-benar kecewa dengan apa yang udah kamu lakuin ke aku, semua kepercayaan aku pudar saat itu juga, aku marah, aku kesal, aku benci sama kamu, tapi ketika tau kamu hamil, aku mulai merenung! memikirkan anak-anak, apa bisa anak-anak hidup hanya melihat mamah, atau papahnya saja? selama ini mereka begitu bangga dan bahagia memiliki kita, kita mencurahkan kasih sayang penuh untuk mereka, lalu seketika harus hancur gitu aja? " ucap Vian, ia terus bicara meski sinta sama sekali tak merespon,


"ta...! Ayo kita pulang, aku janji akan berusaha melupakan semua kejadian buruk ini, demi anak kita...! aku yakin kamu masih punya hati, setidaknya jangan fikirkanku, tapi anak-anak" Vian masih terus berusaha membujuk Sinta.


Sinta masih tak ingin menatap Vian, kebenciannya begitu mendalam, ingat sekali bagaimana dia menamparnya, mencaci makinya, ahhhh Vianpun bukan laki-laki yang mudah memaafkan kesalahan pasangannya,dia akan kembali mengungkit kesalahan sinta, jika terjadi sedikit gesekan dalam hubungan mereka,


"yasudah aku tunggu di bawah, kalau kamu gak Turun, anak-anak aku bawa pulang! " ancamnya, "Kenapa harus bawa anak-anak", fikir sinta, karena memang itu menjadi kelemahan sinta.


" sebenernya mau kamu apa? "sinta membalikan tubuhnya, matanya menatap tajam wajah suaminya, tak Ada Cinta yang tersisa lagi dalam hatinya, hanya Ada kebencian.


" aku cuman mau kamu pulang!. " ucap Vian,


"buat apa? bukan kamu sudah menceraikanku?, bukannya aku wanita murahan? lalu buat apa kamu menemui wanita murahan ini? " suaranya sendu tangisnya pecah, hatinya hancur sehancur-hancurnya. sikap baik Vian justru semakin membuat sinta membencinya.

__ADS_1


"kenapa kamu harus mengungkit apa yang sudah aku ucapkan?aku berniat baik untuk menjemputmu, memperbaiki pernikahan kita, demi anak-anak! " Vian mulai terpancing emosi


"aku sudah tak mau memperbaiki pernikahan kita! " ucap sinta semakin membuat Vian geram.


"Okk! baik...! akupun tak akan memaksa kamu untuk pulang, tapi aku akan bawa anak-anak pulang sama aku. " Vian ber lalu pergi meninggalkan Sinta, dengan tenaga yang tersisa Sinta segera menyusul Vian, ia harus mempertahankan anak-anaknya


"Vian.....! " teriak sinta sampil sedikit berlari mengejar Vian


"Kakak, Adik Ayo pulang! " suara Vian menggelegar memecah tawa anak-anak yang sedang bercanda dengan kakek dan neneknya.


"Vian....! jangan berani-beraninya kamu bawa anak-anak! " teriak sinta, tubuhnya masih Teresa Lemah, namun ia berusaha mengejar Vian


"papah....! jangan sampe anak-anak di ambil Vian! " sinta berusaha meminta tolong pada ayah nya


"Vian, Vian tunggu dulu Ada apa ini? " Tanya ayah mertuanya, sambil menahan tubuhnya yang hendak menarik kedua anaknya


"papah gak usah ikut campur,! Ayo kakak, adik ikut papah! " Vian menggendong Aldrich dan menuntun Nova, kedua anak sinta menangis berusaha berontak dari genggaman tangan papahnya,


"jangan... anak-anak gak mau! " sinta berusaha menarik Aldrich dan Nova di bantu sang ibu.


"lepas.....! " Vian justru malah mendorong sinta hingga terjatuh, ia berhasil membawa kedua anaknya pergi dari rumah mertuanya. Sinta menangis hingga dadanya terasa sesak, ia membayangkan anak-anak menangis dan di perlakukan kasar oleh ayahny.

__ADS_1


"mah.... pah.....! tolong bawa anak-anak. " tangis sinta, tubuhnya Lemah di atas pangkuan ibunya, Ayah sinta menjadi merasa bersalah, karena dia yang menyuruh Vian datang kerumahnya.


"iya... nak... sabar ya! " ibu sinta tak kuat melihat anaknya.. sinta terus menangis tanpa henti, ayah membantu sinta bangun dan memapahnya hingga ke ruang tamu, ia segera menghubungi kakak sinta untuk datang.


__ADS_2