
" Hara..."
mata Aria berbinar-binar melihat Hara yang tersenyum manis di depannya.
" hello."
Hara tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya.
" j,j,jadi yang pindah kesini adalah kamu Hara?" tanya Aria kaget di barengi bahagia.
" yaa, begitulah." Hara melewati Aria yang sedang duduk di lawang pintunya.
" ada apa?" Syifa nongol di pintu.
Syifa melihat Hara berjalan masuk ke kamar samping.
Aria senyam-senyum sembari menggoyangkan badannya kegirangan.
Trakk, Syifa memukul kepala Aria memakai gagang sapu.
" uwaaa," Aria berteriak kesakitan.
" jangan berfikir yang macam-macam." celetuk Syifa meninggalkan Aria.
Aria masih kegirangan dengan pindahnya Hara ke samping kamar Aria.
*
Siang Hari...
Aria terus mengintip Hara yang baru pindah ke samping kamarnya.
Aria sedang mengintip di balik pintunya.
Kreekkkk, Syifa menarik pintu tesebut, dan menjepit kepala Aria dengan pintu.
" Ay,ay,ay,, Syifa apa yang kamu lakukan.?"
Aria melepaskan kepalanya di sela-sela pintu itu.
" seharusnya aku yang bertanya begitu, kenapa Kakak terlihat seperti seseorang yang mengintip begitu?" tanya balik Syifa.
Aria menundukkan kepalanya dengan hawa sedih.
" A,aku hanya ingin melihatnya saja tidak lebih." bibir Aria menyeng-menyeng.
Huhhhhh, Syifa menghela nafasnya.
" kakak kan pacarnya, kenapa tidak langsung hubungi dia saja, kenapa tidak langsung datang ke kamarnya?" jelas Syifa.
Aria melotot ternyata benar juga ucapan Adiknya itu, tapi Aria tertunduk sedih kembali.
" a,aku takut mengganggu waktunya." jawab Aria yang masih tertunduk sedih.
" Kakak ini bodoh sekali..." ucap Syifa memegang keningnya sendiri.
" mau sesibuk apapun Hara kalau dia benar-benar menyukai kakak, pasti Hara akan senang dengan kedatangan kakak."
" b,benarkah begitu?" tanya Aria kepada Syifa.
" hahhhh" Syifa menghela nafasnya.
" coba saja dulu." ucap Syifa meninggalkan Aria
Aria melamun dan mencoba mendengarkan pepatah dari adiknya itu.
Aria memberanikan diri untuk menghampiri Hara di kamarnya.
Aria berada di depan pintu kamar Hara dengan wajah gugup.
" s,selama ini gue berani nyamperin Hara karena ada janji dulu, sekarang gue harus berani menghampiri Hara tanpa janjian dulu." gumam Aria
Aria mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kamar Hara.
Seekkkkk, Hara membuka pintu kamarnya.
" Hahh, capeknya." keluh Hara.
Tangan Aria masih terangkat, dan wajahnya memerah.
Hara menatap tajam Aria.
" Ada apa Aria?" tanya Hara ketus.
" ahh,t,t,tidak..." Aria menggaruk punggung kepalanya.
Hara membuang plastik sampah, dan kembali memasuki kamarnya melewati Aria tanpa sepatah kata pun.
" hehh, a,a,apa yang terjadi?" Aria melotot heran.
" k,kenapa Hara mengabaikan gue?" gumam Aria.
Hara masih membersihkan kamarnya yang masih berantakan, dan dia melihat Aria dengan tatapan marah.
" kalau kamu tidak ingin melakukan sesuatu, jangan berdiri di depan pintu, aku sedang bersih-bersih." ucap Hara.
" ehhhhh..." Aria semakin bingung dengan sikap Hara.
Aria melamun kenapa Hara marah kepadanya, padahal Aria dan Hara baru saja bertemu.
" Ad,ada apa Hara?"
" k,kamu kenapa tiba-tiba marah kepadaku?" tanya Aria kepada Hara.
Hara tidak menghiraukan pertanyaan Aria, dan dia sibuk membereskan kamarnya.
" Hara,, Jawab aku!" Aria memegang pundak Hara.
Hara menyingkirkan sentuhan dari Aria, dan berdiri di depan Aria.
__ADS_1
" Aria, sudah aku bilang kan!"
" jika tidak ingin melakukan sesuatu mendingan kamu pulang saja, aku sedang sibuk Aria." ucap Hara sambil terengah-engah.
Aria melamun dengan perkataan Hara, dan berjalan menuju pintu keluar kamar Hara dengan ekspresi kecewa.
Hara menatap Aria yang berjalan keluar kamarnya.
" huhhh, bodohnya "
" kamu sangat tidak peka Aria!" gumam Hara dengan wajah kecewa.
**
Aria balik lagi ke kamarnya.
Clekk, menutup pintu kamarnya, dan berjalan ke arah Syifa.
Syifa menatap kaget Aria yang wajahnya penuh dengan Aura kekecewaan.
" apa yang terjadi denganmu kak?" tanya Syifa.
Aria melamun.
" Hara," ucap Aria pelan.
" Hara, mengusirku!"
Aria berubah seperti anak kecil yang merengek lagi.
" apa?"
" keterlaluan." Syifa terbawa emosi.
" apa yang Hara katakan kepadamu kakak?" tanya Syifa melotot.
Aria menundukkan kepalanya.
" Hara bilang..."
" jika tidak ingin melakukan sesuatu mendingan kamu pulang saja, aku sedang sibuk Aria."
" Hara bilang begitu kepadaku Syifa." jelas Aria yang matanya berlinang Air mata.
Syifa melotot ke arah Aria.
" t,terus apa tang di lakukan kakak di kamar Hara?" tanya Syifa penasaran.
" a,aku hanya melihat Hara bersih-bersih." Aria tertunduk kecewa.
" DASAR BODOH!" Syifa menjitak kepala Aria.
" waaa, kenapa kamu menjitak kepalaku Syifa, tidak sopan." teriak Aria.
Syifa menggelengkan kepalanya tidak tahan dengan kelakuan kakaknya yang kelihatan oon itu.
Syifa mencoba memikirkan sesuatu.
**
" apakah ini akan berhasil?"
Aria mengangkat sebuah makanan.
" coba saja." ucap Syifa.
Aria kembali berjalan keluar kamarnya
Aria sangat gugup berdiri di pintu kamar Hara, dan mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kamar Hara.
Tok,tok,tok,,, Aria mengetuk pintu kamar Hara.
Kepala Hara nongol di sela-sela pintu.
" Ada apa lagi Aria?" tanya Hara.
Aria malah cengengesan gugup tidak bisa menjawab pertanyaan Hara.
" kalau tidak ada keperluan tidak usah kesini Aria, aku sedang sibuk." tegas Hara menutup pintunya.
" eh,t,t,tunggu dulu Hara!"
Aria menahan gagang pintu kamar Hara.
" ada apa lagi?" kepala Hara nongol lagi.
" a,a,aku hanya mau mengantarkan ini!" ucap Aria gugup.
Wajah Hara memelas, dan menarik nafas panjangnya.
" masuk." tegas Hara membuka pintunya kembali.
Aria berjalan mengikuti Hara, dan melihat isi ruangan kamar Hara yang telah rapi.
Hara duduk bersandar di lemarinya.
Huhhhh, Hara menarik nafas panjangnya, dan terlihat perut dan dada Hara yang menyembul kencang terlihat kecapean.
" k,kamu membereskan ini semua Hara?" tanya Aria.
Hara menatap Aria dengan tatapan kesal.
Aria gugup celingukan ketika Hara menatap marah kepadanya.
"H,Hara, a,aku bawakan makanan." Aria gugup sambil mengangkat wadah makanan tersebut.
Hara menghampiri Aria, dan membuka wadah tersebut.
Mata Hara melotot senang ketika melihat isi dari wadah makanan itu.
__ADS_1
" wahhh, ini soto buatan mu Aria?" tanya Hara tersenyum senang.
Aria yang masih gugup menganggukkan kepalanya.
" ini pas sekali Aria, kebetulan aku sedang lapar." Hara tersenyum lebar ke arah Aria.
Aria pun ikut tersenyum, karena Hara yang marah telah normal kembali.
Ham,ham,ham,, Hara menyantap makanan dengan lahap.
" hewerti hiwasaha, mwhakanhu hewak Hawia." Hara berbicara sambil makan.
" telan dulu makananmu Hara." ucap Aria tersenyum.
Hara tersenyum gembira sambil memakan pasakan Aria.
" huahhh, kenyang nya." Hara menepuk-nepuk perutnya.
" syukurlah, Hara tidak marah lagi padaku." gumam Aria.
Aria tersenyum melihat Hara yang kembali normal.
" H,Hara, kenapa tadi kamu marah padaku?" celetuk Aria.
Hara menatap tajam Aria lagi.
" pikirkan saja sendiri." Ucap Hara yang cemberut dan membelakangi Aria.
Aria yang berfikir Hara sudah tidak marah kepadanya pun merasa heran.
" ehh, ternyata Hara masih marah kepadaku." gumam Aria panik.
***
Sudah hampir 2 jam mereka bersama, tetapi mereka saling mendiamkan satu sama lain.
Hara menoleh ke arah Aria dengan wajahnya yang memerah.
" A,Aria, aku mau mandi dulu."
Aria terperanjat mendengar Hara berbicara.
" eh, m,m,mau mandi ya,!"
" k,kalau begitu, aku pulang dulu."
Hara menganggukkan kepalanya, dan mengantar Aria berjalan menuju pintunya.
" aku pulang dulu Hara." ucap Aria
Aria membalikan badannya.
" Aria." Hara memanggil Aria.
Aria menoleh ke arah Hara.
" terimakasih atas makanannya." ucap Hara yang tersenyum hangat.
Aria menganggukkan kepalanya dengan gugup.
Aria balik ke kamarnya, dan di sama sudah ada Syifa yang menunggunya.
" bagaimana?" tanya Syifa penasaran.
" Hara masih marah padaku Syifa." Aria berjalan lemas.
" lalu, makanannya?" tanya Syifa lagi.
" sudah habis di makan Hara." jawab Aria.
Syifa memandang kakaknya yang melamun itu.
Huhhh,, Syifa menghela nafasnya kembali.
" memang benar ini salahmu." celetuk Syifa
" hehh, kenapa kamu juga menyalahkan ku Syifa?" tanya Aria penasaran.
Syifa menatap tajam Aria.
" dengarkan aku kakakku yang bodoh."
" semandiri apapun seorang perempuan, dia tidak bisa melakukannya seorang diri, Hara memang kelihatan mandiri, tapi dia butuh seseorang untuk membantunya."
" dan itu tugasmu sebagai pacarnya, apalagi kamarnya bersebelahan, dari tadi kakak kemana saja ketika Hara sedang merapikan kamarnya sendirian?" tanya Syifa
Aria melamun mendengar ucapan Syifa, dia menyadari bahwa dia telah mengabaikan Hara dan membuatnya bekerja sendirian di kamar barunya itu.
" Kau benar Syifa." ucap Aria menyadari kesalahannya.
Aria terperanjat, dan menyadari sesuatu yang di lakukan oleh Syifa.
" Syifa, apa kamu merestui hubungan Aku dan Hara?" tanya Aria.
Syifa menatap tajam ke arah Aria.
" aku tetap tidak merestui hubungan kalian." tegas Syifa.
" yang aku lakukan ini demi kakakku yang selalu murung oleh Hara."
" memang kakakku ini agak bodoh."
" tapi aku juga tidak ingin melihat kakakku galau." tutup Syifa.
" makannya aku melakukan semua ini, hanya untuk kebahagiaan kakakku."
" bukan untuk hubungan kalian." Syifa pergi meninggalkan Aria.
Aria memandang Adiknya yang telah tumbuh dewasa itu.
__ADS_1
" terimakasih Syifa." gumam Aria dengan tatapan haru.