
Aria melamun menatap ke arah luar dari dalam bis, dengan memakai pakaian kerjanya.
"Huhhh, kalau saja Syifa masih satu kamar sama gue."
"Tentu gue enggak bakal kerepotan kayak gini." gumam Aria.
Ternyata Aria sedang dalam perjalanan ke restoran Hara untuk menjenguk Syifa yang sedang sakit.
"Sudah 2 minggu ya, gue tidak bertemu Hara." gumam Aria melamun.
Aria merasa sedikit senang dengan perjalanannya untuk menjenguk Adiknya, lantaran Aria juga bisa bertemu dengan pujaan Hatinya Hara.
**
Aria sudah sampai di tempat kerja Syifa.
Aria berjalan dan menanyakan kepada pegawai lain tentang Syifa, kemudian pegawai tersebut membawa Aria ke kamar milik Syifa.
Aria pun masuk kedalam kamar Syifa, ternyata Syifa sedang tidur.
"Demam mu masih tinggi Syifa." ucap Aria pelan sambil memegangi jidat Adiknya itu.
Aria pun sedikit melamun memandangi Syifa yang sedang tertidur itu.
"Ini alasan gue tidak berani melepas Syifa, bukan tentang kelakuan atau apapun.."
"Ketebalan imun dalam tubuh Syifa sangat lemah sehingga dia sering sakit." gumam Aria.
Ya, Aria sangat khawatir dengan Syifa yang sering terserang penyakit, bahkan jika keadaan Syifa sehat sekalipun, jika Syifa berlebihan dalam bekerja Syifa akan jatuh sakit.
"Ternyata kamu sangat perhatian Aria." ucap seseorang yang suaranya tidak asing bagi Aria.
Aria menengok ke belakang kepada orang itu.
Ternyata Hara masuk sambil membawakan mangkuk sup untuk Syifa.
"Dari semalam dia belum makan nasi, jadi aku memanggilmu kesini."
"Siapa tahu jika kamu disini, dia mau makan." ujar Hara.
"B,begitu ya.." jawab Aria.
Aria langsung menatap Hara yang sedang menaruh makanan di meja.
"T,terus siapa yang menjaga Syifa dari semalam?" tanya Aria.
Hara memalingkan pandangannya, dan membelakangi Aria.
"K,kalau itu, kamu tidak perlu tahu." jawab Hara.
"Ehhh..." Aria hanya melamun mendengar jawaban dari Hara.
"Kakak..." panggil Syifa sedikit membuka matanya.
Aria pun langsung berpaling kepada Syifa yang memanggilnya, dan sedikit berjalan untuk menghampiri Syifa.
"Iya Syifa.." jawab Aria.
Hara pun berjalan di belakang Aria, sambil memegang lembut punggung Aria.
"Aku pergi dulu Aria."
"Aku masih banyak kerjaan." ucap Hara sambil meninggalkan Aria.
Aria hanya menganggukkan kepalanya sambil menatap Hara yang berjalan pergi dari kamar Syifa.
"Hara sedikit tenang.." gumam Aria.
__ADS_1
**
"Kamu harus makan Syifa,, terus minum obat." ucap Aria yang duduk di samping Syifa yang sedang tiduran.
Syifa tidak menjawab pertanyaan Aria, dan hanya menggelengkan kepalanya.
"Kau ini,, bagaimana kamu bisa sembuh dengan cepat."
"Makan saja enggak mau." gerutu Aria.
Aria mengambil sendok makan, lalu berusaha untuk menyuapi Adiknya itu.
"Ini, makanlah..." ucap Aria lagi.
Syifa tetap merapatkan bibirnya, dan menggelengkan kepalanya.
"Kau ini keras kepala sekali..." tegur Aria sambil menaruh sendok di piring itu lagi.
"Terserah kamu saja Syifa." tambah Aria melihat Syifa sedikit kesal.
Sekitar sepuluh menit Aria memaksa Syifa untuk makan, tetapi Syifa tetap saja tidak mau makan.
Ini membuat Aria frustasi dengan Adiknya, sekaligus khawatir.
"Kakak..." panggil Syifa lagi.
Aria hanya menggerakkan bola matanya untuk melihat Syifa yang memanggilnya itu.
"Kakak nginep disini ya.." pinta Syifa.
Aria sedikit kesal dengan Syifa yang tidak bisa di atur itu, Aria hanya menatap wajah Syifa.
"Dari semalam Hara menemaniku disini, sepertinya dia tidak tidur sama sekali."
"Aku tidak ingin di temani oleh Hara, meskipun Hara berusaha baik kepadaku, tapi aku tidak nyaman berada di dekatnya." ujar Syifa.
"Kenapa kamu sangat tidak suka dengan Hara?"
"Padahal Hara sudah baik kepadamu." ucap Aria.
Syifa memalingkan pandanganya, dan berbicara kepada Aria.
"Sudah jelas Hara menyembunyikan sesuatu dari kita,, bukan maksudnya kakak."
"itu yang membuat aku tidak suka." tegas Syifa.
Aria tidak peduli apa yang di katakan oleh Syifa, yang hanya Aria inginkan adalah Syifa menuruti perkataan Aria.
"Terserah kamu saja Syifa, sekarang kamu lebih baik urusi saja dirimu sendiri supaya kamu sehat kembali."
"jangan berfikir macam-macam." tegas Aria.
Syifa yang terus di bujuk Aria pun akhirnya bisa makan walaupun sedikit, dan Syifa terlihat sangat lelah dengan keadaannya itu.
"Aku ngantuk sekali, dari semalam aku tidak tidur dengan pulas." ucap Syifa.
Syifa pun akhirnya tiduran kembali, dan akhirnya tidur beneran.
Heuhhhh,heuhhh,, terlihat nafas Syifa yang berat itu, dia sepertinya sedang mengalami flu dan demam.
"Akhirnya Syifa tidur juga." gumam Aria.
Aria celingukan mencari kamar mandi, Aria sama sekali belum ganti baju, karena Aria langsung pergi menjenguk Syifa.
"Ahhh, dimana kamar mandinya?" gumam Aria bertanya-tanya.
"Mana udah jam 9 lagi.." imbuh Aria.
__ADS_1
"Sebaiknya gue mandi juga." tutur Aria.
Aria akhirnya membersihkan badannya sendiri.
Saat Aria keluar dari kamar mandi, terlihat Hara sedang mengatur tumpukan kardus yang berada di ruangan penyimpanan.
Hara sepertinya kesulitan mengangkat barang-barang itu, sehingga saat Hara akan menaruh barang yang paling atas Hara tidak bisa mengontrol pijakannya.
Suttttt,,, Hara terjatuh, dan barang yang di pegang nya akan menimpanya.
Aria pun reflex dan langsung berlari untuk membantu Hara.
Aria melindungi badan Hara dari barang yang terjatuh itu dengan badannya.
Blukkk,, barang yang terjatuh itu menimpa punggung Aria yang sedang melindungi Hara.
"Ghuhhhhh..." nafas Aria tersentak dengan barang yang jatuh menimpanya tersebut.
Badan Aria memeluk Hara yang tepat di bawahnya, dan kepala Aria berada di dada Hara.
"K,kamu tidak apa-apa pacarku?" tanya Aria tersenyum kesakitan.
Wajah Hara sangat memerah ketika kepala Aria berada di dadanya, dan merespon pertanyaan Aria dengan menjitak kepala Aria.
Trakk, Hara menjitak kepala Aria.
"M,Mau sampai kapan kamu tiduran di dadaku Aria?" tanya Hara yang pipinya sangat merah.
Aria pun celingukan karena menyadari bahwa dagunya sedang berada di bel*han dada Hara.
"Haaaaaaaa..." teriak Aria panik sambil bangkit dari badan Hara.
"M,Maafkan aku Hara, aku tidak sengaja."
"Badanku bergerak dengan sendirinya saat kamu dalam bahaya tadi.."
"Maaf,, ini bukan kesengajaan." ucap Aria panik.
Hara yang tadinya sedikit marah kepada Aria, membalas kepanikan Aria dengan senyuman yang sangat manisnya.
"T,tidak apa-apa Aria."
"T,terimakasih telah menyelamatkanku lagi." ucap Hara tersipu malu.
Akhirnya Aria membantu Hara membereskan barangnya hingga selesai.
Aria menatap Hara dengan tatapan penuh keheranan.
"Kenapa, apa ada yang salah?" tanya Hara.
Aria menggelengkan kepalanya, sambil menatap kagum Hara.
"T,tidak ada apa-apa Hara."
"A,Aku hanya heran saja, kamu ini manusia seperti apa?"
"Kamu bekerja sangat giat, kamu mengurus kantor Raiga, dan tentunya restoran ini juga." ucap Aria yang sedikit malu itu.
Hara hanya tersenyum, dan membalikan badannya membelakangi Aria.
"Kalau aku tidak bekerja dengan giat, tentunya aku tidak akan mempunyai uang Aria." ucap Hara tersenyum.
Aria pun mengepalkan tangannya, dan berusaha untuk mengatakan sesuatu kepada Hara.
"H,H,Hara." panggil Aria.
Hara tetap membelakangi Aria, saat Aria memanggilnya.
__ADS_1
"A,A,Aku,,, s,sangat merindukanmu." terang Aria.