My Love Is My Friend ( Terjebak Dua Belenggu )

My Love Is My Friend ( Terjebak Dua Belenggu )
Malam Terakhir 3.


__ADS_3

"Hara rela mengorbankan pekerjaannya demi gue."


"Hara kesini karena ingin bersama gue, gue harus hibur Hara."


"Bagaimana pun, gue harus membuatnya ceria seperti tadi siang." gumam Aria memandangi Hara.


Aria bergeser dan duduk sambil menatap Hara yang sedang berbaring itu.


"Hara, bisakah kamu bangun sebentar?" Aria menarik tangan Hara.


Hara pun bangun di tarik oleh Aria, tetapi Hara terlihat sedih dan tertunduk tidak memandangi Aria.


"A,apa yang harus gue lakukan?" gumam Aria celingukan menatap Hara yang berada di depannya.


Aria menghentak-hentakan tangan ke pahanya, sambil bergeser ke dekat Hara.


"S,Sial, g,gue enggak bisa melakukannya." gumam Aria gugup melirik kesana-kemari.


Plakkk,, Aria mendekap tubuh Hara yang sedang melamun itu, wajah Aria begitu malu saat memeluk badan Hara.


Aria memeluk Hara dari belakang, lubang hidung Aria kembung-kempes seakan ia tak percaya dapat memeluk Hara.


Namun, Hara masih saja melamun tidak menghiraukan Aria yang memeluknya, malahan Hara terlihat semakin tidak berdaya.


"Ehh, apa Hara tidak senang dengan seperti ini?"


"Apa mood Hara tidak berubah saat gue mencoba ingin menenangkannya?" gumam Aria.


Saat di peluk Aria, terasa badan Hara yang tadinya sedikit tegang menjadi lemas seketika dan menyenderkan punggungnya di dada Aria.


"Heh,, ada apa dengan Hara, apa dia tidak suka dengan cara gue ini?" gumam Aria lagi.


Aria mencoba melepaskan pelukannya di tubuh Hara, tapi dengan cepat Hara langsung memegang tangan Aria dan mempererat pelukan Aria di perut Hara.


"Jangan lepaskan dulu Aria."


"Entah kenapa rasa cemas ku sedikit hilang." ucap Hara lirih.


Hara memegang tangan Aria yang berada di perutnya.


Sambil memejamkan matanya, Hara bersandar di badan Aria.


"Entah kenapa ini membuatku sedikit tenang."


"Aku belum pernah merasakan perubahan cepat dari perasaanku ini." tambah Hara.


Aria yang memeluk Hara mencium aroma wangi sampo dari rambut Hara, yang membuat Aria nyium-nyium bau harum aroma rambut Hara.


"W,wanginya.." gumam Aria dengan mata terbelalak.


"Pacar gue memang sempurna, Hara cantik, baik, kaya, yaaaa, meskipun dia masih payah dalam memasak, tapi Hara belajar sangat cepat saat mempunyai suatu keinginan." tutup Hara.


Dalam keadaan yang sedang memeluk Hara, Aria melotot kaget ternyata ada sesuatu yang bergerak dalam tubuhnya.


Syuuuuu,syuuuuu nafas panik Aria kembali muncul.


"Sialll, sialll, gue harus segera menjauh dari Hara.." gumam Aria panik.


Aria mencoba menjauhkan tubuhnya dan melepaskan pegangannya dari perut Hara, tetapi Hara yang sedang terdiam itu kembali mengunci pergelangan tangan Aria supaya tidak melepaskan pelukannya.


"Wahhh, sial, jangan sampai Hara merasakannya..." gumam Aria panik.


Hara sedikit mengedepankan badannya, dan sepertinya dia merasakan keberadaan sesuatu.


"Aria,, ada sesuatu yang menyentuh punggungku." terang Hara mencoba meraba-raba.


Aria menjadi panik ketika Hara mencoba menyentuhnya.

__ADS_1


"Ehhh, Aria semakin lama semakin keras." ucap Hara.


Dalam keadaan tertekan Aria langsung menahan tangan Hara, dan itu semakin membuat Aria tambah Panik.


"Jangan di sentuh Hara..." pinta Aria.


Hara melotot dengan wajah yang kelihatan kaget, sambil melamun menatap Arah depan.


"Aria, jangan-jangan?" tanya Hara kaget.


Aria tertunduk malu, dan mencoba berterus terang kepada Hara.


"Maafkan aku Hara, dia berdiri sendiri." terang Aria.


"Waaaaaaaa,,,Apa...." Hara berteriak sambil menyungkurkan kepala Aria ke belakang.


Brukkkk, Aria terpelanting karena kepalanya di dorong Hara.


"K,K,Kau benar-benar jorok Aria,."


"K,kamu membiarkan itu mu menyentuh punggungku." teriak Hara panik wajahnya memerah.


"K,Kau sendiri yang menahan ku di posisi itu Hara." jawab Aria.


"A,aku sangka itu kaki mu, jadi aku membiarkannya." ucap Hara yang tidak ingin kalah debat dengan Aria.


"Sudahlah, aku pergi,, kau mesum Aria." ucap Hara ngambek.


"Hehhhh,,,"


Aria melamun Hara memalingkan badannya membelakangi Aria, tapi Hara berhenti sejenak dan menoleh ke arah Aria.


"Tapi, terimakasih juga Aria."


"Berkatmu sekarang perasaan ku sudah membaik." terang Hara tersenyum sambil berjalan meninggalkannya.


"Hara..." mata Aria berkaca-kaca haru.


Pagi hari di ruangan bawah.


"Segarnya..." ucap Syifa baru selesai mandi.


Syifa memandang ke arah Aria yang sedang tiduran di Sofa.


"Kakak ini jorok sekali, tiga Hari disini tidak mandi-mandi." ledek Syifa.


Aria langsung melotot ke arah Syifa yang sedang tersenyum jahat.


"A,Aku mandi Syifa..." jawab Aria.


"Tapi, baju mu kok itu-itu aja." ledek Syifa kembali.


Aria langsung melotot ke arah Syifa yang berdiri di depannya.


"K,kamu yang menyebabkan ini semua." jawab Aria panik.


Syifa hanya tertawa kecil, karena puas meledek kakaknya ini.


Syifa berjalan kembali ke atas meninggalkan Aria.


Aria melihat ke arah sekitar, selain Syifa, teman-temannya masih tidur.


"Huhhhh, bosannya..." gumam Aria kembali rebahan.


Tidak lama, Syifa kembali lagi menghampiri Aria.


"Bolak-balik mulu." ucap Aria kepada Syifa.

__ADS_1


Syifa tersenyum sambil menyodorkan sebuah baju dan celana kepada Aria.


"Pakai ini.." ucap Syifa.


Aria melotot menatap Syifa yang sedang berdiri di hadapannya itu.


"Tidak,tidak,tidak, ini pasti jebakan lagi."


"Pasti ini baju pungutan." pikir Aria.


Syifa memandang heran Aria karena hanya melamun.


"Ini.." tekan Syifa menyodorkan baju itu ke wajah Aria.


"Ini baju siapa, apa ini punya orang lain?" tanya Aria.


Sambil meminum minumannya, Syifa duduk santai sambil menyilang kan kakinya.


"Aku membelinya kemarin, saat aku jalan-jalan, aku melihat tukang pakaian, jadi aku membelinya."


"Aku ingat sama kakak yang enggak membawa salinan baju." terang Syifa.


Aria akhirnya mau memakai baju pemberian dari adiknya itu, Aria pun langsung pergi ke kamar mandi.


"Brrrrrr,, dinginnya.." ucap Aria menggigil kedinginan.


Ternyata Syifa masih berada di sofa, dia terlihat kebingungan, dan kelihatannya ada sesuatu yang ingin di sampaikan kepada Aria.


"Kenapa, mau jalan-jalan lagi?" tanya Aria.


Syifa yang memandang ke arah luar mengalihkan pandangannya kepada Aria, dan Syifa menatap tajam mata Aria.


"Apa kakak benar-benar akan melanjutkan hubungan kakak dengan Hara?" tanya Syifa.


Aria menarik napas panjangnya, dengan santai Aria menjawab pertanyaan dari adiknya itu.


"Huhhh, kau ini Syifa."


"kamu tahu kan jawabanku, aku pasti akan bertahan dengan Hara."


Syifa menyandarkan badannya di Sofa, dia menatap tajam Arah luar dan mengepalkan tangannya.


"Aku tidak tahu dengan pikiran kakak yang bodoh ini."


"Yang jelas kakak hanya di permainkan oleh Hara." ucap Syifa.


Aria tetap bersikukuh bahwa Hara benar-benar tulus kepada Aria, dan Aria tetap membela Hara.


"Apa yang kamu katakan Syifa, Kamu telah salah menilai Hara." jawab Aria.


"Semalam aku lihat Hara tidur di kamar Raiga." Bentak Syifa melotot.


"Meskipun mereka adalah teman dari kecil, tidak logis mereka juga tidur di kamar berduaan."


"apa kakak tidak merasa aneh dengan sikap mereka berdua?"


"Apa kakak tidak curiga kepada mereka?"


"Aku yakin, ada suatu hubungan antara mereka berdua, dan itu bukan tentang hubungan teman masa kecil, ada yang lebih dari perasaan itu." pungkas Syifa.


"Aku harap kakak menyadarinya, aku tidak ingin kakak terluka karena Hara." ucap Syifa tertunduk sedih sambil meninggalkan Aria.


Aria hanya melamun mendengar perkataan adiknya itu, dan dalam benaknya pun berkata-kata.


"Ehh, bukannya semalam Hara tidur di atap penginapan ini?"


"Semalam gue menemani Hara sampai dia tertidur."

__ADS_1


"Apa Hara langsung pindah ke kamar Raiga setelah gue pergi?"


"Tidak, tidak, gue yakin,, pasti mereka tidak tidur bareng, pasti ada sesuatu yang ingin Hara ambil di kamar Raiga." pungkas Aria.


__ADS_2