
Hara yang sedang rebahan menatap Aria sambil menyangga dagunya, dan berbicara sangat tenang.
"Apa yang kamu katakan Aria."
"Kita akan menginap disini."
Handuk yang sedang di pegang Aria jatuh karena Aria kaget dengan perkataan Hara.
Aria melotot melihat Hara yang cuma memakai ta*kt*p itu.
"M,m,menginap disini?"
"Terus dimana kamarku?" tanya Aria
Hara duduk di ranjang, dan memegangi kepalanya sendiri.
"Huhhhh..." Hara menarik napasnya.
"Kamu memang sangat bodoh Aria!"
"Sudah jelas ini kamar yang kita masuki, berarti ini kamar kita." tegas Hara.
Aria menjadi panik, bagaimana Hara bisa setenang itu berduaan satu kamar dengan seorang lelaki.
"Tidak,tidak,tidak,, gue dan Hara satu kamar." gumam Aria panik.
"Terus kenapa Hara memakai pakaian begitu, apakah Hara sengaja."gumam Aria lagi.
Aria melamun tidak percaya apa yang Hara katakan,Dan hujan lebat turun dari luar, Aria dan Hara saling bertatapan.
"Apa yakin kita mau pulang?"
"Sopirku sudah pergi, sementara disini sangat jauh dari angkutan umum."
"apa kita akan hujan-hujanan mencari bis?" tanya Hara.
Aria memalingkan pandangannya ke arah luar dimana hujan sangat lebat disertai petir.
"Tidak mungkin bisa pulang." gumam Aria.
**
Hara berjalan ke sebuah lemari besar, dan mengambil sebuah baju.
"Pakai ini Aria."
"Mungkin baju Azwan cocok dengan ukuran tubuhmu." ucap Hara menyodorkan baju.
Aria memalingkan pandangan dari Hara sambil mengambil baju yang di sodorkan Hara.
"Gila besarnya." gumam Aria yang wajahnya memerah.
Hara berdiri menatap Aria sambil tersenyum di hadapan Aria.
"A,ada apa Hara?" tanya Aria yang tidak berani menatap Hara.
Hara tetap tersenyum di depan Aria, dan mendekati Aria.
"Apa kamu gugup Aria?" tanya Hara.
Wajah Aria sangat merah ketika Hara mendekati Aria.
"T,Tentu saja Hara."
"A,aku tidak terbiasa dengan semua ini." jawab Aria.
Hara membalikan badannya, dan mengatakan sesuatu kepada Aria.
"Padahal ini bisa menjadi kenangan untuk kita berdua, aku kira kamu akan senang bisa disini bersamaku." terang Hara sambil duduk kembali di ranjang.
"B,bukan begitu Hara." sahut Aria menghampiri Hara.
"Terus?" tanya Hara.
Mata Hara berkaca-kaca menatap Aria.
Aria masih tidak bisa menatap Hara yang berpakaian seperti itu.
"A,Aku cuma tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat bersamamu."
"Apalagi disini kita cuma berdua." terang Aria.
Hara menyuruh Aria duduk di sampingnya, dan Aria duduk di samping Hara sesuai permintaannya.
Sambil tersenyum Hara pun berkata kepada Aria.
"Kamu itu polos apa bodoh Aria?"
"Kita ini sudah pacaran selama satu tahun."
"Ya, meskipun kita pacaran diam-diam, tapi aku menganggap kamu sebagai pacarku."
"kamu tidak perlu canggung atau apalah, selagi aku bisa menurutinya, kamu bebas meminta apapun kepadaku." Jelas Hara.
"Bebas..." Aria mengalihkan pandangannya kepada Hara.
Hara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Iya Aria, selagi aku bisa menurutinya, aku akan memenuhi semua keinginanmu."
"Ini akan menjadi kenangan yang tidak pernah aku lupakan." imbuh Hara yang matanya semakin berkaca-kaca.
Aria pun menundukkan kepalanya, dan berpikir memang benar selama ini Hara selalu menuruti keinginan Aria, meskipun Hara sangat sibuk, tetapi dia ingin selalu berada di dekat Aria, meskipun kadang-kadang Hara suka menghilang tanpa kabar.
Aria pun menatap Hara yang sedang melamun.
"Apa ini akan menjadi kenangan yang berharga bagimu Hara?" tanya Aria.
__ADS_1
Hara menyandarkan kepalanya di bahu Aria, Hara tersenyum sambil memandangi Aria.
"Semua yang aku lewati bersama Aria akan menjadi kenangan yang paling berharga dalam hidupku." jawab Hara.
"aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu kita berdua." imbuhnya.
Aria merasakan tubuhnya bergetar, tangannya pun ikut bergetar.
"Sial, gue selalu payah kalau bersama Hara." gumam Aria.
"Gue harus melakukan sesuatu.."
"Gue harus melakukan sesuatu..." gumam Aria lagi.
Aria terpikir saat dia bersama Yasmin, bagaiman Yasmin yang tanpa ragu men*ium Aria.
"Gue harus memberanikan diri untuk menci*m Hara."
"Gue Harus berani." gumam Aria
Pandangan Aria menuju Hara yang sedang bersandar di bahunya.
"Uhhhh, sial,,, itunya kelihatan jelas." gumam Aria sambil memalingkan pandangannya lagi.
"Kenapa Hara memakai pakaian terbuka begitu?" pikir Aria.
Kemudian, Aria membalikan badan Hara menghadap Aria, supaya Aria tidak tertuju pada bel*ahan da*a Hara.
"Kenapa Aria?" tanya Hara heran menatap Aria.
Aria menggaruk pipinya, dan tidak bisa memandang Hara.
"A,aku hanya ingin!" ucap Aria pelan.
"Hmmmm.." Hara semakin memandang mata Aria.
Sambil terus mengumpulkan keberaniannya, Aria memegang kedua bahu Hara.
"Hara." panggil Aria.
Hara tetap memandangi wajah Aria.
"G,gue harus melakukannya." gumam Aria lagi.
Aria mendekatkan wajahnya ke wajah Hara yang sangat tersipu malu.
Tangan Aria sangat gemetaran, dan Aria mencoba memegang wajah Hara yang memerah itu.
"Aria..." ucap Hara.
Aria mengangkat tangannya dan berusaha memegang kedua pipi Hara.
Saking gemetaran tangan Aria tiba-tiba..
Clakk, Tangan Aria nyolok mata Hara.
"Aku mau tidur..." ucap Hara yang ngambek karena matanya kecolok Aria.
Hara tiduran di ranjang dan marah kepada Aria.
Sementara itu Aria yang melakukan kesalahan lagi kepada Hara hanya bisa memegangi kepalanya menyesal.
"Sial, gue melakukan Hal bodoh lagi." gumam Aria yang panik.
Aria melihat Hara yang tiduran sambil membelakanginya.
"Hara benar-benar marah." gumam Aria sedih.
**
Waktu sudah menunjukan jam 11 malam, di luar hujan turun sangat lebat disertai petir yang sangat kencang.
"Gue tidur dimana?" gumam Aria.
Aria celingukan mencari tempat tidur yang nyaman.
"Ahh, disini aja." ucap Aria pelan.
"Tidak mungkin gue harus satu ranjang sama Hara." gumam Aria yang melihat Hara sudah tertidur pulas.
Clekkk, Aria mematikan lampu kamarnya, dan bersiap-siap untuk tidur.
Aria merebahkan badannya dan memejamkan matanya.
**
"Uhh, gue tidak bisa tidur." gumam Aria
Aria melihat jam dinding, waktu sudah menunjukan jam 1 malam.
"Dinginnya.." gumam Aria yang kedinginan karena tidur di atas lantai.
Krett,, suara ranjang terdengar oleh Aria.
"Aria, apa kamu sudah tidur?" tanya Hara.
"Hara.." ucap Aria.
"Kamu belum tidur?" tanya Aria.
Hara menganggukkan kepalanya, dan menggeser kan badannya ke sisi kasur yang lain.
"Aria.." panggil Hara menepuk-nepuk kasur yang kosong di sampingnya.
"Kamu pasti kedinginan kan?" tanya Hara.
Aria melotot tidak percaya Hara menyuruhnya tidur di sampingnya.
__ADS_1
**
"Gue semakin tidak bisa tidur." gumam Aria yang telah pindah di samping Hara.
"Gue benar-benar tidak bisa percaya." Aria melirik Hara yang kelihatannya sudah tidur.
Duarrrrrrrrr, suara petir yang sangat besar.
Slekkk, Hara berpindah dan badannya nemplok di Aria.
"Huahhh, sial,sial,sial."
"Apa ini?"
Badan Aria terasa sangat panas ketika badan Hara menempel ke badannya, Aria sangat panik.
"Aria." panggil Hara lirih.
Aria memandang wajah Hara, tiba-tiba tangan Hara memeluk Aria.
"Aria, apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Hara.
Aria yang semakin panik menjawab pertanyaan Hara dengan gagap.
"A,A,aku sangat mencintaimu Hara." jawab Aria.
Hara tersenyum mendengar jawaban Aria, dan menyentuh pipi Aria.
"Aria, ada yang ingin aku berikan kepadamu."
"Anggap saja ini permintaan maaf ku, karena tidak bisa menemanimu jalan-jalan saat hari ulang tahunmu."
"Dan juga telah mengabaikan mu seminggu ini." terang Hara.
Aria tidak bisa berbuat apa-apa dengan keadaan saat ini, Aria hanya bisa mendengarkan perkataan Hara.
Plokk,, bibir Hara nempel di bibir Aria.
Hara melepaskan ciu*annya, dan menatap mata Aria.
Plok,, sekarang giliran Aria yang menempelkan bibirnya di bibir Hara.
Napas Hara dan Aria saling meniup kencang, terasa Hangat hembusan napas Hara di bibir Aria.
Wajah Hara semakin memerah, matanya berkaca-kaca, Hara tersenyum menatap mata Aria.
"Aria.." ucap Hara lirih.
Sambil memegang pipi Aria, Hara menganggukkan kepalanya tanda dia mengajak melakukan sesuatu kepada Aria.
"Aria, aku ingin membuat kenangan bersamamu." pinta Hara.
Aria yang pikirannya sudah tidak karuan mengiyakan permintaan Hara.
***
Pagi telah tiba.
Aria membuka matanya perlahan, dan menatap Hara yang tidur di sampingnya.
"Hara, kamu tidak perlu melakukan ini." gumam Aria.
Aria mengelus-elus kepala Hara yang tertidur di bahunya.
Hara membuka perlahan matanya sambil menatap mata Aria.
"hmmmm, hada hapa Aria?"
"Apa mau nambah lagi?" tanya Hara menggoda Aria.
Panik Aria pun muncul lagi dan langsung menjawab pertanyaan Hara.
"Ahhh, tidak,tidak."
"A,aku rasa, aku semakin menyayangimu Hara." jawab Aria.
Hara tersenyum dan memeluk Aria.
Aria membalas memeluk Hara sangat erat, tetapi Hara melepaskannya dan memalingkan pandangannya.
"Aria..." panggil Hara yang wajahnya sangat merah.
Aria langsung merespon panggilan Hara, dan mulai panik kembali.
"iya Hara, apa?"
"kamu tidak apa-apa?"
"Apa kamu merasakan sesuatu?" Pikir Aria yang panik dengan kejadian semalam antara Aria dan Hara.
Hara menggelengkan kepalanya, dan terlihat malu untuk mengatakannya.
"Ada apa Hara?" tanya Aria kembali.
Hara menatap malu Aria, lalu menatap mata Aria.
"Aria ketiak mu bau." ucap Hara.
Wajah Aria memucat, pipinya mengerut seperti pipi Zombie, ternyata Hara melepaskan pelukan Aria karena ketiak Aria bau.
"Huaaaaaa, benarkah?"
Aria meloncat dari ranjang dan mencoba mencium kedua ketiaknya sendiri.
"Sialll, gue mengacaukannya lagiiii." teriak Aria berlari ke kamar mandi.
Hara tersenyum bahagia melihat kelakuan Aria yang oon itu.
__ADS_1