
Aria sedang tertidur pulas di kamar, Aria menggelisikkan badannya, dan Aria menyentuh sesuatu yang empuk.
"mmmhhhhhhh"
"Apa ini." Aria meraba-raba sesuatu yang empuk tersebut.
"Guling nya terasa besar dan panjang."gumam Aria.
Sambil tertidur kembali, Kemudian Aria memeluknya.
Csssssssss,, Seperti gas meniup muka Aria.
Hidung Aria kembung kempes mencium bau yang tidak sedap, Aria membuka perlahan matanya, Aria melihat Pan*at seseorang di wajahnya.
"Waaaaa.." Aria mengeplak Pan*at itu.
Aria bangun dari tidurnya dan melihat orang yang meman*tinya itu.
Yasmin menggelisikan badannya sambil mengusap Pan*at miliknya.
"Sakit." ucap Yasmin yang terbangun.
Aria dan Yasmin saling bertatap muka.
"Apa yang kamu lakukan disini Yasmin." teriak Aria panik.
"Kamu kan tidur di kamar sebelah." imbuh Aria.
Sambil menggesek mata dengan tangannya, Yasmin sangat tenang menjawab pertanyaan Aria.
"Euhhhmmmmm"
"Semalam petir nya benar-benar besar."
"Yasmin jadi takut, dan pindah ke kamar Aria."ucap Yasmin yang menatap Aria.
Aria melamun kaget melotot ke arah Yasmin.
"Jadi yang gue raba-raba tadi adalah Pan*at Yasmin." gumam Aria melotot.
Yasmin mengelus-elus kembali pan*atnya.
"Kenapa Aria menabok pan*at Yasmin?" tanya balik Yasmin.
Huhhhh, Aria menghela napas, dan berucap pada Yasmin.
"Tadi kamu ken*ut di depan wajahku Yasmin." Aria memegangi keningnya sendiri.
"Benarkah?" teriak Yasmin kaget.
"Rupanya kamu benar-benar tidak mengingatnya." keluh Aria.
"Mana mungkin Yasmin sadar, orang Yasmin lagi tidur Aria." sahut Yasmin.
Aria menatap Yasmin dengan senyuman jahat.
"Kent*t mu bau sekali Yasmin." ucap Aria.
"Jangan di teruskan Aria bodoh." teriak Yasmin.
Dakk,, Yasmin memukul jidat Aria dengan tangannya.
Waaaaaa, Aria meringis kesakitan, sambil memegangi kepalanya.
"Kenapa kamu memukul kepalaku Yasmin?"
"Kepalaku bisa bocor lagi." teriak Aria.
Yasmin cemberut kepada Aria, dan memalingkan pandangannya.
"Itu karena Aria yang bodoh, ucapan mu tidak bisa di jaga." tegas Yasmin.
Aria menatap Yasmin yang sedang cemberut.
"Huhhhhh, mulai lagi." gumam Aria.
Aria menghela napasnya, dan berkata kepada Yasmin.
"Dulu kamu membanting ku dengan galon."
"Di kolam renang Kamu mengen*ingiku Yasmin."
"Setelah ken*ut di wajahku, dan memukul wajahku,"
"Apalagi yang akan kamu perbuat kepadaku Yasmin?" keluh Aria.
__ADS_1
Yasmin mendekatkan tubuhnya kepada Aria.
Sreeettttttt.
Brukkkkk, Yasmin menyeret Aria ke dekatnya, Aria yang tertidur menatap Yasmin yang sedang melihat ke arahnya.
Badan Yasmin mendekat, dan menindih badan Aria yang sedang tertidur akibat seretan Yasmin.
"Yang akan Yasmin lakukan selanjutnya adalah..."
Yasmin mendekatkan wajahnya ke wajah Aria, dan sepertinya Yasmin siap-siap untuk menerkam Aria.
"Yasmin sangat rindu dengan Aria."
"Sekarang kita akan menghabiskan waktu bersama." ucap Yasmin.
Aria merasakan sesak yang luar biasa saat Yasmin menindih tubuhnya.
"Sial, 3 kali." gumam Aria.
***
Yasmin telah pergi dari kamar yang di tempati Aria, sambil merapikan tempat tidurnya Aria terpikirkan Yasmin yang agresif.
"Sial, gue lengah lagi." gumam Aria.
Aria terpikirkan Hara, dan memikirkan Hara bagaimana kalau dia tahu apa yang telah terjadi antara Aria dan Yasmin.
Aria dan Yasmin berjalan menuruni tangga yang berada di lantai 3 restoran Hara.
Terlihat wanita yang sangat mungil sedang berdiri di hadapan Aria dan Yasmin.
Wanita itu adalah Hara di temani Raiga di sampingnya.
Hara berjalan menghampiri Aria, dan memegang kepala Aria yang masih di balut perban.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Hara.
Mata Hara terlihat ingin menangis melihat luka di kepala Aria.
Lagi-lagi Yasmin mencoba memisahkan Hara dari Aria dengan memegang tangan Hara.
"Jangan sentuh Ar-"
Tiba-tiba seseorang menari tangan Yasmin duluan.
"Aku ingin menunjukan suatu tempat yang bagus kepadamu Yasmin." sela Raiga yang menarik Yasmin menjauhi Aria dan Hara.
Raiga membawa Yasmin pergi, sekarang tinggal Aria dan Hara yang berada di tempat itu.
Aria tidak menghiraukan Yasmin yang telah menghilang dari pandangannya, Aria fokus menatap Hara yang berada di depannya.
"Apa masih sakit?" tanya Hara lagi.
Brukkk, Aria memeluk erat Hara, Aria sangat terlihat bahagia.
"Syukurlah kamu tidak apa-apa Hara." ucap Aria yang memeluk Hara.
Hara terbenam di pelukan Aria, tapi Hara mencoba melepaskan pelukannya.
"Aria, disini banyak CCTV." ucap Hara.
Aria segera melepaskan pelukannya, dan melihat ke arah sekelilingnya.
Aria menepuk jidatnya sendiri.
"Benar, maafkan aku Hara." ucap Aria.
Hara tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, dan memegang tangan Aria.
"ada yang ingin aku katakan kepadamu Aria." jelas Hara.
Hara mengajak Aria masuk ke dalam mobil yang berada di depan restoran milik Hara, dan mereka berangkat dengan sopir pribadi.
Aria menatap heran Hara yang duduk bersamanya di kursi belakang.
"B,bukannya kamu bisa mengendarai mobil Hara?" tanya Aria.
Hara tersenyum dan menjelaskan kepada Aria bahwa dia tidak berencana untuk memakai mobil, makanya dia di antar sopir pribadi.
"Terus kita mau kemana?" tanya Aria lagi.
"Ikuti saja aku." jawab Hara.
Mobil Hara berhenti di tempat pemakaman umum, dan Hara mengajak Aria turun.
__ADS_1
Hara menghampiri sebuah kuburan yang kelihatannya masih baru.
Aria melihat kuburan tersebut, dan mencoba meminta penjelasan Hara mengajak Aria datang kesini.
"Seminggu yang lalu nenekku meninggal, tapi aku tidak bisa datang ke pemakamannya." ujar Hara.
"Seminggu yang lalu..." gumam Aria melotot.
Aria menatap Hara kaget.
"Seminggu yang lalu hari di mana gue ulang tahun." gumam Aria lagi.
"tunggu-tunggu, apa ini alasan Hara yang sangat sedih saat Hari ulang tahun gue." tambahnya.
Aria memegang bahu Hara, dan bertanya kepada Hara.
"Apa ini yang membuat kamu murung saat itu?" tanya Aria.
Hara menundukkan kepalanya, dan sedikit mengangguk.
Huhhh, Aria menghela napasnya tetap memegang bahu Hara.
"Kenapa kamu tidak jujur saja Hara?" tanya Aria.
Hara memalingkan pandangannya, dan tersipu malu.
"Aku tidak bisa menolak ajakan Aria, tapi di sisi lain, nenekku sedang sekarat, makanya aku bingung." tegas Hara.
"Aku benar-benar tidak berbuat apa-apa." imbuh Hara.
Hara juga menjelaskan seminggu ini dia sangat sibuk dengan kepergian neneknya dan juga mengurusi pekerjaan perusahaan milik Raiga dan restoran milik ibunya sendiri.
"Maafkan aku Aria."
"Kemauan mu jadi terabaikan olehku." tutur Hara.
Aria menatap wajah Hara yang sedang menatapi kuburan neneknya itu.
"Maafkan aku karena memaksamu Hara."
"Aku tidak tahu,"
"Kamu juga tidak menjelaskan masalahmu kepadaku."
"Kalau kamu mengatakannya, aku mungkin bisa mengerti keadaanmu." ucap Aria.
Hara memegang tangan Aria, dan berjalan meninggalkan kuburan nenek nya menuju mobil.
"Kamu tidak perlu meminta maaf Aria, sudah sewajarnya seorang pacar meminta waktu untuk berdua."
"ini jelas kesalahanku, karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku."
"maafkan aku Aria, aku selalu mengabaikan mu." terang Hara.
"Sekarang aku akan memenuhi janjiku."
"Kita akan menghabiskan waktu bersama." Jelas Hara.
Aria menatap Hara dan berjalan mengikutinya memasuki mobil miliknya, Aria tidak tahu tujuan Hara, yang jelas sekarang perasaan Aria menjadi lega setelah bertemu dengan Hara.
**
Di sisi lain, Raiga yang sedang bersama Yasmin sedang berduaan di atas gedung restoran milik Hara, Yasmin menatap Raiga kaget, dan matanya sangat melotot.
"Apa yang kamu katakan adalah kenyataan Raiga?" tanya Yasmin.
Raiga menganggukkan kepalanya, dan menatap ke arah kota yang terlihat di atas gedung tersebut.
"Aku berkata yang sebenarnya Yasmin."
"Makanya aku selalu mendukung dia, ini adalah pilihan yang sulit untukku."
Yasmin menggebrak tembok yang ada di depannya.
"Tidak bisa di biarkan, aku harus memberitahu Aria, sebelum hubungan mereka terlalu jauh." ucap Yasmin.
Raiga melihat ke arah Yasmin, dan memegang pipi Yasmin dengan tangannya.
"Jangan bodoh Yasmin, aku tidak bisa membiarkan kamu berbuat seperti itu." sela Raiga.
"Kalau kamu membocorkannya kepada Aria, aku juga akan mengatakan rahasia mu kepada Aria."
"Dengan begitu, hubunganmu dengan Aria akan menjauh." Ancam Raiga.
Raiga melepaskan tangannya dari pipi Yasmin, dan Yasmin tidak bisa berbuat apa-apa dengan ancaman yang di berikan oleh Raiga.
__ADS_1
Yadsmin tertunduk sedih, dan mengepalkan tangannya.
"Kalian berdua sangat kejam." jelas Yasmin.