
Beberapa hari berlalu setelah ulang tahun Aria, Hara menghilang lagi tanpa ada kabar, kamarnya pun sepi tiada penghuni.
Aria sekarang sudah mulai terbiasa dengan sikap Hara yang begitu, tapi perasaannya terhadap Hara tidak berubah, dia masih saja menyayangi Hara.
"Apa kakak akan bertahan degan Hara?" tanya Syifa.
"Ya, aku akan tetap menunggunya." ujar Aria.
"Aku tidak tahu racun apa yang Hara tanamkan di kepala kakak."
"Sehingga membuat kakak tergila-gila padanya, dan kakak juga selalu mengalah kepada Hara." sambung Syifa.
Aria terus meyakinkan Syifa mungkin Hara menghilang karena masalah keluarganya yang di alaminya beberapa waktu lalu, dan Aria yakin bahwa Hara mempunyai alasan tersendiri untuk ketenangan dirinya.
Syifa tetap bersikukuh dengan opininya kepada Hara, dan Aria tetap membela Hara.
Aria membelot kan pembicaraannya dengan Syifa, sekarang telah mulai libur tahunan, dan Aria bertanya tentang liburan yang ingin Syifa kunjungi.
"Mungkin aku akan pulang ke kampung."
"Aku sangat rindu kepada Mama." tegas Syifa.
Aria menatap Adiknya dan tersenyum.
"Ternyata kamu masih saja manja."
Aria memegang kepala Syifa.
Syifa menyingkirkan tangan Aria dari kepalanya.
"Sudah sewajarnya aku ingin pulang,"
"Aku sudah 8 bulan tidak pulang-pulang." ucap Syifa cemberut.
Aria hanya tersenyum dengan alasan yang di berikan oleh Adiknya itu.
"Lalu kakak sendiri bagaimana?" tanya Syifa.
Aria hanya melamun dan sedang memikirkan mau kemana dia saat liburan tahunan nanti.
"Entahlah,, aku masih ada pekerjaan."
"Mungkin aku akan menyusul mu beberapa hari lagi." jawab Aria.
*
Malam Harinya Aria mengantar Syifa berbelanja untuk ibunya.
Syifa berjalan di ikuti oleh Aria.
"Apa yang kamu cari?" tanya Aria.
Syifa celingukan melihat kesana-kemari kelihatannya mencari sesuatu.
"Entahlah."
"Aku juga bingung." jawab Syifa.
"Hahh, "Aria di buat kaget dengan jawaban polos Syifa itu.
"Kenapa kamu repot-repot kesini, kalau kamu masih bingung." ucap Aria.
"Kakak ini berisik sekali." sahut Syifa.
Aria menatap adiknya yang menyuruhnya diam.
" huhhhhhhh, terserah kamu Syifa." ucap Aria menarik nafas panjangnya.
Syifa menghampiri toko baju, dan dia masuk untuk memilih-milih baju tersebut.
Dan memakaikannya di badannya sendiri.
"Baju tidak?" tanya Syifa kepada Aria.
"Cukup bagus." terang Aria.
Syifa mengambil baju lagi, dan menempelkannya lagi di badannya sendiri.
"Kalau yang ini gimana?" tanya Syifa lagi.
Aria menganggukkan kepalanya.
Syifa terus mengulanginya sampai 5 kali.
Aria mengeluhkan kelakuan adiknya itu, dan sambil memelas Aria bertanya kepada Syifa.
"Sebenarnya kamu kesini mau beli buat mama atau buat kamu sendiri?" tanya Aria.
Syifa pun cengengesan mendengar pertanyaan Aria.
"hehe."
"Untuk Aku." ucap Syifa sambil tersenyum malu.
"Kau ini..." keluh Aria.
"T,t,,tapi aku juga mau belikan mama baju kok." ucap Syifa.
"Terus kamu mau belikan mama apa?" tanya Aria lagi.
__ADS_1
Syifa sedikit melamun sambil berfikir.
"Kalau itu...."
"Hehe, Aku belu tahu." ucap Syifa.
Aria terkejut mendengar Adiknya berbicara begitu lagi.
Lalu Aria memegang pipi Syifa dan mencubitnya.
"Kau ini yaa."
"Kalau mau belanja kamu harus pikirkan dulu sebelum kamu pergi kesini."
Kepala Syifa muter-muter di cubit oleh Aria.
Orang-orang di sekitar melihat mereka dengan tatapan aneh.
Mereka membicarakan Syifa dan Aria.
"Di tempat seperti ini mereka sangat terbuka."
"Berani-beraninya mereka bermesraan di tempat yang sangat ramai."
"Pasangan itu kelihatannya tidak cocok."
"Lelakinya seperti om-om yang sedang bermain dengan wanita muda."
Syifa dan Aria melotot saling memandang.
Wajah Aria terlihat sangat merah ketika orang di sekita menyebutnya om-om.
"A,Apakah aku terlihat seperti orang tua Syifa?" tanya Aria panik.
Syifa tersenyum jahat sambil memandang tajam Aria.
"Ya begitulah.."
"Mereka benar sekali." tegas Syifa tertawa.
"Waaaa, benarkah?"
Aria pun ngaca di cermin yang ada di sampingnya.
Janggut Aria sudah mulai panjang, kumisnya pun sudah tumbuh.
"Huaaa benar Syifa."
"Kenapa aku tidak menyadarinya." Aria panik lagi.
Aura Aria sangat gelap, Aria merasa tidak bisa merawat tubuhnya sendiri.
Lalu Syifa menatap tajam ke arah Aria lagi.
"Apa mungkin Hara malu punya pacar yang jelek seperti kakak."
"Jadi dia menghilang tanpa kabar." canda Syifa.
Aria melotot dan menyentuh kumisnya sendiri.
"Apakah benar begitu!."
"Apa Hara malu punya pacar tampang om-om"
"Syifaa, apa yang harus aku lakukan."
"Syifa bantu aku Syifa."
Aria panik sambil menggoyang-goyang bahu Syifa.
Kepala Syifa tergeleng-geleng karena badannya di goyang-goyang Aria.
"Aku punya ide." ucap Syifa.
Syifa mengajak Aria ke suatu tempat, dan menyuruhnya untuk Masuk.
"Barber shop." ucap Aria.
Syifa mendorong Aria dari belakang, dan menyuruh Aria masuk.
Ternyata Syifa menyuruh Aria potong rambut, dan memotong kumis dan janggut nya juga.
Beberapa saat kemudian Aria dan Syifa keluar dari barber shop itu, wajah Aria telah berubah menjadi sedikit rapi, dan dia kelihatan muda lagi.
"Kau jadi tampak lebih segar kakak." ujar Syifa.
"Benarkah?" tanya Aria.
Aria ngaca kembali, dan mengusap-usap wajahnya.
"Benar, aku telah tampan kembali."
"terimakasih Adikku." canda Aria.
Aria dan Syifa melanjutkan mencari baju buat ibunya, mereka melihat ke toko-toko baju yang ada di sekitaran pusat kota, mereka juga mampir ke restoran untuk makan malam.
***
Syifa dan Aria telah mendapatkan oleh-oleh untuk ibu mereka, dan mereka pun kembali ke kostan mereka.
__ADS_1
Clekk, Aria membuka pintu kamarnya.
"Huahhh,, lelahnya."
Syifa berlari merebahkan tubuhnya di kasurnya sendiri.
Aria menggelengkan kepala melihat tingkah Syifa yang begitu.
Sambil membawa barang Aria menghampiri Syifa yang sedang telungkup itu.
"Kelakuanmu seperti bukan gadis perawan saja Syifa."
"kamu masih saja sama seperti 10 tahun yang lalu." ucap Aria.
Syifa tidak menghiraukan obrolan dari kakaknya itu dan memejamkan matanya.
Aria menatap Adiknya yang sedang merebahkan badannya itu.
Plokkk, Aria menepuk Pan*at Syifa.
"Ganti baju dulu Syifa." ucap Aria sambil menepuk p*n*at Syifa.
"Kau sangat jorok,."
"Pantas saja tidak ada lelaki yang mendekatimu."
Syifa bangkit dari tidurnya, dan menatap tajam Aria.
"Mendingan aku jomblo."
"Daripada punya pacar, tapi selalu menghilang."
"wleeeee."
Syifa meledek Aria sambil membawa baju tidurnya ke kamar mandi.
Aria tertegun mendengar perkataan adiknya, dan dia kembali memikirkan Hara yang belum ada kabar.
"Benar..." gumam Aria tertunduk lesu.
**
Pagi hari Syifa sudah beres-beres dengan barangnya.
"Sudah Siap." teriak Syifa.
Syifa celingukan dan memberikan semua barangnya kepada Aria.
"Ayo kak, aku takut ketinggalan bis." ucap Syifa dengan tangan kosong.
Aria melotot sambil membawa barang-barang milik Syifa.
"Woi Syifa, Kenapa harus aku yang membawanya."
"Bantu aku Syifa."teriak Aria.
Aria berjalan seperti gorila karena tangan dan badannya penuh dengan barang milik Syifa.
Mereka telah sampai di halte pemberhentian pusat kota.
Syifa Sibuk melihat jam tangannya.
Hahhh,hahhhh Aria terengah-engah kecapean.
"Kamu sangat kejam Syifa." ucap Aria menelonjorkan kakinya.
Syifa menatap Aria sambil tersenyum.
"Kakak adalah tulang punggung keluarga, jadi kakak tidak boleh mengeluh." canda Syifa.
"Terserah kamu saja Syifa."
Aria menyenderkan badannya di tiang sambil duduk seperti pengemis.
Sudah sekitar 10 menit mereka menunggu bis, Akhirnya bis nya pun datang.
Syifa bergegas naik ke dalam bis.
"Kak, barang-barang ku masukan ke dalam bagasi." teriak Syifa.
Sambil mengeluh capek ke arah Syifa, Aria pun bergumam.
"Kenapa selalu saja aku yang tersiksa." gumam Aria.
Aria sangat pasrah sambil mengangkat barang-barang Syifa.
Barang-barang Syifa akhirnya sudah di bereskan semua.
Syifa kembali Naik ke dalam bis itu.
"Dadah kakak, aku pulang duluan." ucap Syifa melambaikan tangannya dan sangat terlihat gembira.
Aria pun melambaikan tangannya, dan tersenyum kepada Syifa.
Bis yang di tumpangi Syifa sudah tidak terlihat, Aria balik kanan dan berjalan ke kostan nya.
Aria berjalan sambil sedikit melamun.
"Aku juga sangat rindu rumah, dan mama."
__ADS_1
"tapi Aku juga sangat merindukan Hara." gumam Aria yang tertunduk sedih.