My Love Is My Friend ( Terjebak Dua Belenggu )

My Love Is My Friend ( Terjebak Dua Belenggu )
masih banyak rahasia.


__ADS_3

"Entah kenapa, disaat gue ingin bersama Hara, Raiga selalu saja ada."


"Apa benar mereka itu cuma teman dari kecil, atau ada sesuatu yang gue tidak ketahui?"


"Apa mereka juga selalu bersama saat di belakang gue?"


"Jika dugaan gue ini benar, apa yang mereka lakukan saat gue tidak ada di antara mereka?!" pikir Aria.


Aria bengong karena melamun kan Hara yang selalu bersama Raiga.


"Aria." panggil Hara.


Aria tersadar dari lamunannya, dan terkaget dengan panggilan Hara.


"Ah, i,iya,, ada apa Hara?" tanya Aria.


Hara menyentuh pundak Aria yang duduk di sampingnya, sambil tersenyum, Hara pun mengusap-usap pundak Aria.


"Apa yang sedang kamu lamunkan Aria?"


"Apa kamu terganggu oleh perkataan Raiga?" tanya Hara.


Aria langsung menatap Hara karena perkataannya sedikit menuju kepada pemikiran Aria.


"A,Ahh, t,tidak.." jawab Aria gugup.


"Aku, Aku,, sedang melihat kota di luar sana.." ucap Aria.


Raiga yang sedang menyikap kan tangan di dadanya menatap sinis kepada Aria dan Hara.


"Hara aku lapar, kau kan yang mengundangku kesini, tapi kau juga yang mengacuhkan ku." terang Raiga.


Hara langsung tertawa malu kepada Raiga, dan langsung menenangkannya.


"Ahahaha, iya, maaf, maaf." ucap Hara sambil mengangkat tangannya kepada Raiga.


"Aku akan pesankan, kalian mau makan apa?" tanya Hara.


Hara menyodorkan menu yang ada di buku.


"Silahkan pilih sesuai keinginan kalian!" tambah Hara.


Saat yang lain sibuk memilih menu makanan, Aria mengarahkan pandangannya kepada Adiknya.


"Huhhh, Syifa, kamu kan sedang sakit, kenapa keluar kamar."


"Disini udaranya dingin Syifa." gumam Aria.


"Untungnya kamu memakai jaket." tambah Aria.


Syifa terlihat jadi pendiam di antara yang lainnya.


"Serasa ada yang kurang dari kerumunan kita." celetuk Azwan.


"Saat kemarin nginap, Kak Yasmin, Radi, dan Ania ikut bersama kita,,, Aku jadi ingin pergi berlibur lagi bersama-sama." tambah Azwan.


"Iya benar, ayo kita pergi bersama-sama lagi." sahut Syifa yang tiba-tiba ceria.


"Sudah ku duga,, saat membahas liburan, Syifa selalu yang nomor satu." gumam Aria.


Azwan menatap Syifa sambil tersenyum, dan mengelus kepalanya.


"Jangan terburu-buru, sehatkan dulu badanmu." ucap Azwan tersenyum.


"A,A,aku sudah sembuh kok.." jawab Syifa cemberut memalingkan pandangannya.


Aria menatap heran Azwan dan Syifa yang semakin dekat itu.


"T,T,tunggu,, mereka semakin dekat, apa jangan-jangan?" gumam Aria bertanya-tanya.

__ADS_1


"K,Kalau Azwan dan Syifa hubungannya dekat, berarti Syifa sudah menerima Hara." gumam Aria kembali.


Aria hanya terus melamun lagi di tengah-tengah kumpulan bersama teman-temannya itu.


"Aria..." panggil seseorang samar.


Aria tetap melamun dan tidak menghiraukan panggilan kepadanya.


"Aria..." panggil Hara menggoyangkan badan Aria.


Aria kembali terkejut di tengah lamunannya, dan langsung menatap Hara yang memanggilnya.


"Ah,Aiiya,, ada apa?" tanya Aria melotot kaget.


Hara menghela nafasnya, dan menatap mata Aria.


"Sudah ku duga Aria banyak melamun,"


"Sebenarnya apa yang Aria pikirkan?" tanya Hara.


"T,Tidak ada, sungguh, tidak ada yang mengganggu pikiranku." gumam Aria.


Hara menatap Aria heran dan menunjuk menu yang ada di depan Aria.


"Cuma kamu yang belum memesan makanan Aria!" tegas Hara.


Aria pun langsung menatap menu yang ada di depannya, dan langsung menunjuk salah satu makanan yang ada di buku itu.


"Sebentar, aku pesankan dulu." ucap Hara beranjak dari tempat duduknya.


Tidak lama berselang makanan yang fi pesan Hara pun datang, Aria dan kawan-kawannya menyantap makanan tersebut.


"Ahh, kenyang nya..." ucap Hara bersandar di kursi.


Hara pun menatap Aria yang melihat kepadanya, dan tentunya Hara tersenyum manis kepada Aria.


Aria yang menyadari Adiknya begitu langsung menghampirinya.


Aria memegang jidat Syifa, dan ternyata demamnya naik lagi.


"Suhu badanmu panas lagi Syifa, jangan memaksakan untuk berdiam diri di ruangan yang dingin seperti ini." terang Aria.


Syifa hanya terdiam, dan tidak merespon Kakaknya.


"Aku mengantar Syifa ke kamarnya dulu, nanti aku balik lagi." ucap Aria kepada Hara dan yang lainnya.


Aria membawa Adiknya itu kembali ke kamar.


"Kau ini Syifa, kalau lagi sakit begini jangan keluar dulu, nanti demam mu malah jadi tinggi." terang Aria.


"Kita ke dokter aja ya.." sambung Aria.


Syifa menggelengkan kepalanya, tanda dia menolak ajakan Aria.


Huhhhhh, Aria menghela napasnya karena Syifa menolak ajakannya.


"Kau ini sulit di atur Syifa."


"Kalau kamu sakit begini siapa yang repot, pasti aku." gerutu Aria.


Syifa hanya berbaring di tempat tidurnya, sambil mendengarkan Aria yang ngoceh.


Tok,tok,tok,, seseorang membuka pintu kamar Syifa, dan masuk ke dalamnya.


Azwan masuk ke dalam kamar Syifa sambil membawa obat yang telah ia beli.


"Apa Syifa sudah tidur?" tanya Azwan.


Aria menggelengkan kepalanya, sambil mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Sepertinya dia tertidur." jawab Aria.


Azwan pun menaruh obat itu di meja dekat kasur Syifa, dan kembali berjalan keluar kamar Syifa.


Azwan menghentikan langkahnya, dan berbalik melihat kepada Aria.


"Kalau Kak Aria ada waktu luang, Kakakku menunggumu di atap bangunan ini." ucap Azwan.


Aria melotot menatap balik Azwan.


"Hara menungguku?"


"Kenapa dia tidak mengirim pesan langsung kepadaku?" tanya Aria.


Azwan menggelengkan kepalanya, dan membuka pintu kamar tersebut.


"Aku tidak tahu, yang jelas itu adalah pesan Kak Hara yang dia katakan kepadaku." ucap Azwan menutup pintu.


**


Azwan berdiam diri di luar kamar Syifa, dalam benaknya pun muncul obrolan dengan Hara saat di kamar Hara dulu.


"Aku ada permintaan untukmu! " ucap Hara.


"Permintaan?" tanya balik Azwan.


Hara menganggukkan kepalanya sambil melamun.


"Adiknya Aria sepertinya tidak menyukaiku, dan aku ingin kamu membantuku untuk membuatnya lebih mengenal diriku."


"Terus yang harus aku lakukan?" tanya Azwan tidak mengerti.


Hara yang masih melamun melirik kan pandangannya kepada Azwan.


"Yang harus kamu lakukan adalah menahan Syifa agar tidak menggangguku saat aku bersama Aria."


"Dia sering kali menggangguku, dan tidak membiarkan celah untuk membiarkan aku berduaan dengan Aria." terang Hara.


Azwan melotot menatap Hara yang berbicara begitu.


"Terus apa yang harus aku lakukan dengan Syifa?" tanya Azwan kembali.


Hara memalingkan pandangannya, dan berbalik membelakangi Azwan.


"Terserah, yang penting Syifa tidak menggangguku dan Aria." tegas Hara.


Azwan memegang jidatnya sendiri, dan tidak mengerti dengan Kakaknya itu.


"Kau selalu saja memaksa orang lain untuk memuluskan semua keinginanmu." ucap Azwan menatap Hara.


Hara pun tersenyum sambil berbalik kepada Azwan.


"Apa kamu mau Kakakmu ini hidup dengan penuh penyesalan?" ucap Hara memandang Azwan.


"Terserah kau saja, aku akan mencoba untuk membantumu." tegas Azwan.


**


Kembali kepada Aria yang sedang di kamar Syifa, Aria bergegas menghampiri Hara yang berada di atap bangunan itu.


"Wahhh gila, sangat indah." gumam Aria menatap sekelilingnya.


Ternyata di atap bangunan itu ada tempat nyantai, dan di sana juga banyak sekali orang lain.


"S,Semuanya berpasangan." gumam Aria.


Aria mencari Hara yang sedang menunggu di atap bangunan itu, dan menemukan Hara sedang berdiri di tepi bangunan yang sudah di pagar besi itu.


"Hara..." panggil Aria menghampiri Hara.

__ADS_1


__ADS_2