
Hubungan Aria dan Hara menjadi membingungkan, seminggu ini Hara tetap canggung kepada Aria.
Aria telah mencoba melakukan berbagai cara untuk mendekati kekasihnya itu, tapi tetap saja Hara menjauh dan beralasan kepada Aria.
Aria berjalan sambil melamun di sebuah mall pusat kota, mengikuti Yasmin dan Syifa yang berjalan di depannya.
"Selalu saja gue." gumam Aria yang membawa barang belanjaan milik Yasmin dan Syifa.
"Hmmm, barang itu bagus kak."
"Aku jadi ingin membelinya." ucap Syifa berbicara kepada Yasmin.
Aria menatap adiknya dan Yasmin yang sedang mengobrol itu.
Aria hanya bisa pasrah mengikuti mereka berdua yang memasuki tempat makan di mall itu.
"Kamu pesan apa Syifa?" tanya Yasmin.
Syifa dan Yasmin sibuk melihat-lihat menu makanan itu, Aria yang tidak di hiraukan oleh mereka berdua hanya duduk melihat mereka.
"Sudah gue duga."
"Mereka asyik berdua, sementara gue..."
Aria melihat di sisi-sisi kursinya banyak barang belanjaan milik Syifa dan Yasmin.
"Gue hanya di manfaatkan mereka berdua." keluh Aria.
Saat Aria melamun dan memegang keningnya sendiri, tiba-tiba Syifa menggebrak meja di depan Aria.
"Kakak mau pesan apa?" tanya Syifa.
Badan Aria terkejut sambil menatap Syifa yang berdiri di depannya.
"Aku tanya, Kakak mau pesan apa?"
"Malah melamun." ujar Syifa.
Aria melihat adiknya yang sedang menegurnya, kemudian mengalihkan penglihatannya kepada Yasmin yang tersenyum ke arah Aria.
"Yasmin.." gumam Aria mengalihkan pandangannya.
Aria pun memilih makanannya, kemudian Yasmin memesankan makanan untuk mereka.
Aria dan mereka berdua menunggu di meja yang telah di siapkan.
Seperti biasa, Syifa menidurkan kepalanya di atas meja makan, dan Yasmin sibuk dengan ponselnya.
"Wahh, gila bro..."
"Cewek itu sangat cantik.."
"Tapi sayang dia sudah memiliki pasangan." ucap lelaki di belakang Aria.
"Tapi lelakinya juga ganteng lho." tambah perempuan yang duduk di sampingnya.
Aria yang mendengar perkataan anak muda dibelakangnya itu sedikit terganggu karena mereka terlalu berisik.
"Gue enggak peduli."
"mau cantik atau apapun, gue enggak akan melihatnya, karena gue udah punya Hara." gumam Aria.
Yasmin menyadari perkataan anak muda tersebut, dan melihat ke arah pasangan yang sedang di bicarakan mereka.
"Aria..." ucap Yasmin sambil melotot ke belakang Aria.
Aria yang penasaran siapa yang membuat Yasmin melotot kaget pun melihat ke arah belakangnya.
Dan ternyata cewek cantik dan cowok ganteng yang di bicarakan orang di belakang Aria adalah Hara dan Raiga.
"Yoo... kita bertemu lagi." ucap Raiga memberi salam kepada Yasmin.
Wajah Yasmin memelas, dan menatap sinis ke arah Raiga.
"Lagi-lagi mereka." ucap Yasmin yang kelihatannya tidak suka.
Raiga tersenyum sambil duduk di tengah-tengah antara Aria dan Yasmin.
"Apa boleh kita gabung dengan kalian?" tanya Raiga.
Yasmin tidak memperdulikan Raiga yang duduk di sampingnya, dan memalingkan pandangannya ke arah lain.
__ADS_1
Para lelaki yang di belakang Aria pun kembali berisik ketika Hara mendekati meja Aria.
"woy, pinta nomornya."
"Gila, dia bener-bener cantik." ucap para anak muda itu.
Hara pun berdiri di tengah-tengah antara Aria dan Syifa.
"Apa aku juga boleh gabung di sini?" tanya Hara sambil tersenyum.
Aria yang tatapannya tidak berpaling dari Hara menganggukkan kepalanya, Sambil tersenyum Hara pun ikut duduk dengan Aria.
"Kamu makan apa Aria?" tanya Hara sambil tersenyum.
Aria kembali merasa heran, Hara sudah tidak canggung lagi kepada Aria, Hara kembali seperti semula, dengan Hara yang penuh senyum dan pipi merahnya telah kembali di hadapan Aria.
Aria pun gugup dan menjawab pertanyaan Hara, akhirnya Hara dan Raiga pun memesan makanan mereka.
"H,harumnya Hara..."
"sial, dia terus memandangi gue..." gumam Aria.
Yap benar, Hara yang selalu tersenyum dan ceria telah kembali dan sekarang berada di samping Aria.
Lalu, kenapa Hara yang berada di samping kamar Aria seminggu ini tampak canggung kepada Aria, berbeda dengan Hara yang sekarang,, kata-kata itu terus muncul dalam benak Aria.
Tidak lama berselang makanan mereka pun jadi, tetapi Syifa celingukan melihat ke arah Yasmin dan Aria.
"A,aku disini seperti kambing conge saja."
"Aku pindah saja." ucap Syifa sedikit cemberut.
"Tunggu Syifa,, aku juga mau pindah." ucap Yasmin
Yasmin membawa makanannya dan mengikuti Syifa yang pindah meja, Raiga pun ikut berdiri lalu mengikuti mereka berdua.
"Woahh sial,, Raiga juga.." gumam Aria.
Hara yang sedang menatap Aria pun mencolek tangan Aria.
"Apa kamu juga ingin pindah tempat?" goda Hara sambil tersenyum.
Aria pun makan berdua bersama Hara, dan mereka bertiga makan di meja yang berbeda.
"Apa kamu mau menyicipi punyaku Aria?" tanya Hara.
"Hehhh..." Aria melotot menatap Hara.
"Menyicipi..."
"Punyamu?" tanya balik Aria.
Hara menarik napasnya sambil tersenyum lebar, lalu Hara mengangkat tangannya.
"Maksudku ini Aria!" ucap Hara menyodorkan makanan di sendok untuk menyuapi Aria.
"Kamu mikir kemana Aria?" tanya Hara tertawa menyentil jidat Aria.
Aria memalingkan pandangannya dari Hara sambil tersipu malu.
"A,aku tidak mikir kemana-mana Hara!" tegas Aria.
Hara menyodorkan makanannya, dan mendekatkannya kepada mulut Aria.
"Aaaaa, buka mulutmu Aria." ucap Hara.
Aria membuka mulutnya, lalu memakan makanan yang di sodorkan Hara.
"Bagaimana,, enak kan?" tanya Hara.
Aria tersipu malu sambil menganggukkan kepalanya.
"Uwahhh, lihat sungguh tidak pantasnya.."
"Cewek secantik dia menyuapi Cowok yang tampangnya pas-pasan."
"gue yakin, dia memakai pelet." ucap Remaja yang berada di belakang Aria dan Hara.
Bruhukkkk, Aria tersedak mendengar percakapan Remaja itu, dan mencari air minum.
Hara menyodorkan gelas minum kepada Aria.
__ADS_1
"Jangan pedulikan apa mereka Aria, mereka hanya iri melihat kita." ucap Hara tersenyum.
Sekarang giliran Aria yang gugup dengan Hara.
Bagaimana tidak, Hara yang seminggu ini terlihat gugup dan dingin tiba-tiba berubah menjadi Hara yang hangat kepada Aria, dan terlihat sangat mengakui Aria sebagai pacarnya.
**
Hara dan Aria telah selesai makan, mereka menuju kasir untuk membayar makanan.
Aria meraba-raba sakunya berniat untuk membayar makan.
"Sial dompet gue di tas Syifa." gumam Aria.
Hara menatap Aria yang terlihat panik mencari seseorang.
Kemudian, Hara mengeluarkan dompetnya.
"Untuk 2 orang ya kak." ucap Hara.
Aria melotot melihat Hara yang membayar makanan Aria, dan tertunduk malu.
"Maafkan aku Hara, dompetku di titipkan di tas Syifa." ucap Aria.
Hara tersenyum dan berjalan menuju pintu keluar, ternyata mereka bertiga sudah menunggu di luar.
"Kalian lama sekali." terang Raiga.
Mereka berjalan meninggalkan mall tersebut, dan berjalan di pusat kota menyelusuri taman.
Aria kerepotan dengan barang milik Yasmin dan Syifa.
"Apa semua barang itu milikmu Aria?" tanya Hara.
Aria menjawab pertanyaan Hara dengan nada yang sedikit kesal.
"Bukan, ini punya Syifa dan Yasmin, tapi mereka menyuruhku membawanya." jawab Aria.
Hara tersenyum mendengar keluhan Aria, dan memegang bingkisan di tangan Aria.
"Biar aku bantu Aria." pinta Hara.
Aria jelas menolak bantuan dari Hara, dan tetap bersikukuh ingin membantu Aria.
"T,terimakasih Hara." ucap Aria.
Mereka berhenti sejenak di taman, tapi Aria menyadari Yasmin, Syifa dan Raiga tidak ada di sekitar Aria.
"Kemana perginya mereka?" tanya Aria.
"Aku tidak tahu." jawab Hara.
Akhirnya Aria dan Hara duduk berdua layaknya seorang pasangan yang sedang berkencan di taman tersebut.
"Banyak sekali orang yang bermesraan." ucap Hara sambil memperhatikan sekitarnya.
Aria menatap Hara, dan di dalam benaknya pun berkata,;
"Hara, kamu memang misterius." pikir Aria.
**
Sudah Setengah jam berlalu, mereka bertiga akhirnya kembali ke tempat Aria dan Hara.
Yasmin dan Syifa pun terlihat bahagia sambil membawa es krim di tangannya.
Aria menepuk jidatnya sendiri melihat kelakuan Yasmin dan Syifa.
"Kalian itu bukan anak kecil lagi." gumam Aria.
Syifa berjalan sambil cengengesan menghampiri Aria.
"Kak, libur minggu besok kita di ajak pergi ke taman edelweiss oleh kak Raiga." ucap Syifa tertawa senang.
Aria pun terkejut, dan ikut senang ketika melihat Syifa sangat gembira.
Tiba-tiba baju Aria di tarik-tari oleh Hara yang berada di sampingnya.
Hara mendekatkan kepalanya ke kuping Aria.
"Kita bisa menghabiskan waktu bersama lagi." bisik Hara yang tersenyum lebar.
__ADS_1