
"M,Maafkan aku Aria, untuk saat ini aku tidak bisa menerima lamaran mu." tolak Hara.
"Ehh.." Aria bagai di sambar petir ketika mendengar penolakan dari kekasihnya itu.
Aria hanya dapat melamun, dan langsung membalikan badan Hara untuk menghadap kepada Aria.
"A,apa aku tidak salah dengar Hara?" tanya Aria melotot.
Hara yang tertunduk sedih pun menggelengkan kepalanya.
"Maaf Aria, aku tidak bisa bertunangan denganmu." tegas Hara.
Hara memegang tangan Aria yang sedang terpaku melamun itu, dan menuntunnya duduk di sofa.
"Kamu jangan berfikir yang aneh-aneh dulu Aria." ucap Hara.
Aria terus melamun tanpa menghiraukan obrolan dari Hara.
"Hey Aria..." panggil Hara menggoyangkan badan Aria.
Aria pun terperanjat kaget saat badannya di sentuh oleh Hara.
"Ahh, iya, ada apa Hara?" tanya Aria yang terperanjat dari melamun nya.
Hara menatap tajam mata Aria.
"Apa kamu kecewa?" tanya Hara.
Aria memalingkan pandangannya dari Hara, dan sedikit merasa kesal.
"T,tidak." jawab Aria singkat.
Hahhhh, Hara menarik napas panjangnya, dan memegang kepala Aria.
"Mau kamu menyembunyikannya seperti apapun sudah terlihat jelas Aria, kamu pasti kecewa kan kepadaku?" tanya Hara.
Aria hanya tertunduk dan menopang kepalanya dengan tangan, sambil mengusap-usap kening dengan jempolnya.
Hara mendekatkan dirinya kepada Aria, dan merangkul kepala Aria dan di sandarkan di dada Hara.
"Wajar saja jika kamu merasa kecewa olehku Aria, tapi hanya itu jawaban yang aku bisa berikan kepadamu." ucap Hara kembali.
"S,sial,, gue tidak bisa terima ini, apa alasannya Hara menolak gue?" gumam Aria mengepalkan tangannya.
Aria pun menjauhkan kepalanya dari rangkulan Hara, dan menghempaskan tangan Hara.
"Kalau kamu menolak ku, kenapa kamu terus bersikap begini kepadaku Hara." ucap Aria.
"Kamu itu seolah-olah benar mencintaiku, tapi nyatanya,,,,"
"Sekarang kamu menolak ku, tapi kamu seolah-olah tidak merasa bersalah dengan apa yang kamu lakukan!"
"Dimana perasaanmu tentang mencintaiku, kamu selalu bilang, bahwa kamu ingin terus bersamaku kan?"
"tapi sekarang saat aku ingin benar-benar serius denganmu, kamu malah menolak ku,, sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku Hara?" tanya Aria menatap tajam mata Hara.
Hara sangat terlihat tenang, dan berani menatap mata Aria yang sedang memojokkannya.
Huhhhh, Hara menghela napasnya lagi, dan kembali mengelus-elus kepala Aria.
"Dengarkan aku Aria!" ucap Hara.
"Apa lagi yang harus aku dengar Hara?" sahut Aria.
Aria menghempaskan tangan Hara yang berada di kepalanya.
"Dengarkan aku dulu Aria!" bentak Hara melotot kepada Aria.
__ADS_1
Aria akhirnya tertunduk sedih setelah ada bentakan dari Hara, Aria mengepalkan tangannya sambil menahan emosinya.
"Siall.." ucap Aria mengepalkan tangannya
"Aria, dengarkan aku dulu." ucap Hara lagi.
Lagi-lagi Hara merangkul kepala Aria, dan menyandarkan kembali di dadanya.
"Aria tenanglah, jangan bertingkah seolah-olah kamu ini adalah korbannya." ucap Hara.
"Dengarkan aku Aria, bukannya aku tidak mau kita bersama, tapi di samping penolakan ku ini, kamu juga harus mengerti perasaanku ini Aria."
"Kamu jangan egois Aria, aku juga sebenarnya tidak mau membuatmu kecewa, tapi mau bagaimana lagi,, sekarang waktunya belum tepat."
"Sekarang aku hanya ingin fokus untuk pekerjaan dan karirku saja, tapi aku juga tidak akan mengesampingkan kamu juga." Jelas Hara.
"Kamu juga adalah hal yang penting buatku Aria, jangan merasa kamu saja yang tersakiti, aku juga sebenarnya sangat merasa terpukul dengan keputusanku ini Aria." imbuh Hara.
"Aku hanya ingin kamu mengerti diriku juga Aria." pinta Hara.
Aria yang sedang bersandar di dada Hara pun mengangkat kepalanya, dan menatap Hara.
"T,tapi a,aku sangat takut kehilanganmu Hara." ucap Aria.
"Kenapa kamu sangat tenang begini Hara, aku sangat tidak mengerti kepadamu Hara." terang Aria.
Hara pun tersenyum sambil mengelus-elus kepala Aria.
"Aku meyakini keputusanku ini, dan aku sangat yakin kamu mau mengerti dengan penjelasan ku ini."
"aku tidak akan pergi kemana-mana, aku akan tetap disini bersama Aria,, jadi bisakah kamu menungguku sebentar lagi Aria?" tanya Hara.
Aria pun menggenggam tangan Hara yang sedang mengelus-elus kepalanya itu.
"Apa kata-katamu bisa aku percayai Hara?" tanya balik Aria.
Hara pun melepaskan tangannya dari genggaman tangan Aria, dan berdiri sambil membelakangi Aria.
"Tentang dirimu?" tanya Aria heran.
Hara tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Ya tentang diriku, tentang semua kehidupanku dan sifat ku." tambah Hara.
Aria pun berdiri sambil mengepalkan tangannya.
"A,Aku pasti akan menerima kehidupanmu dan semua tentang mu Hara." sahut Aria.
"Terimakasih Aria," ucap Hara tersenyum hangat kepada Aria.
**
"Ahhh, lelah juga seharian duduk begini." ucap Hara menggeliatkan tubuhnya.
Lalu Hara menatap kepada Aria yang sedang berada di sampingnya.
"Apa kamu masih kecewa Aria?" tanya Hara.
Aria terperanjat dan langsung menggelengkan kepalanya.
"Ahh, t,tidak juga." Aria memalingkan pandangannya.
"Benarkah?" tanya Hara.
Aria tidak menjawab pertanyaan dari Hara, dan melihat ke arah lain.
"Hahhh, kamu ini Aria.." Hara berdiri dan berjalan di belakang Aria.
__ADS_1
Hara berjalan sambil menyentuh pundak Aria.
"Aku ada urusan dulu Aria."
"Tunggu sebentar jangan kemana-mana." pinta Hara.
Hara berjalan keluar ruangan meninggalkan Aria sendirian.
Aria menatap Hara yang berjalan menjauhinya.
"Hara begitu tenang, bagaimana Hara bisa sangat yakin begitu dengan hubungan ini."
"padahal gue sudah berusaha untuk memberanikan diri, kenapa gue selalu bernasib begini." gumam Aria menidurkan kepalanya di meja.
**
"ahh, Hara lama sekali!" gumam Aria.
Aria melihat jam di ponselnya, dan waktu sudah menunjukkan jam 7 malam.
"Sebentar dari mana, gue sudah 2 jam menunggunya." gumam Aria lagi.
Aria berjalan keluar ruangan kantor Hara.
Clekk, pintu terbuka sebelum Aria membukanya, ternyata yang membuka pintunya adalah Hara.
"Kamu mau kemana Aria?" tanya Hara.
"Kamu lama sekali Hara." terang Aria kesal.
Hara tersenyum sambil mendekati Aria.
"Hmm, ternyata kamu ini orangnya ngambekan ya?" ucap Hara menghampiri Aria.
Hara memeluk tangan Aria, dan bersandar di bahu Aria.
"Jangan ngambek terus Aria,"
"Saat kamu sedang ngambek, wajahmu seperti kambing yang kelaparan." jelas Hara.
"Hahhh.." ucap Aria melihat wajah Hara.
Hara pun tersenyum sambil menggandeng tangan Aria berjalan keluar kantornya.
"Kamu pasti sudah lapar, jadi kamu ngambek terus." ucap Hara.
Aria yang sedang di gandeng oleh Hara hanya melamun sambil berjalan di ruangan yang sedikit gelap itu.
"H,Hara,, bukannya kamu tidak ingin mencolok di kantormu sendiri?"
"bukannya kamu yang bilang, kamu tidak ingin membuat kegaduhan di kantormu?" tanya Aria lagi.
Hara yang masih memeluk tangan Aria semakin bersandar erat di lengan Aria.
"Aku tidak peduli lagi Aria,"
"Kamu telah berani melamar ku, jadi aku juga harus berani terbuka di kantorku."
"Aku tidak akan menutupinya lagi, yang jelas yang aku lakukan ini agar Aria percaya kepadaku." jelas Hara.
Aria dan Hara berjalan menuju tempat khusus yang ada di lantai 3 restoran milik Hara.
Ternyata di sana sudah ada Raiga, Azwan dan Syifa yang sedang menunggu.
"Kamu lama sekali Hara!" ucap Raiga.
"Ahhh. Dia lagi, aku sudah bosan melihatnya." ucap Raiga kepada Aria.
__ADS_1
Aria pun menundukkan kepalanya, dan memalingkan pandangannya.
"S,sialan kau Raiga, mentang-mentang kau ini bos gue." gumam Aria.