
Hara dan Azwan berada di kamar Hara, saat Syifa sedang memarahi Aria, Azwan langsung membawa Hara keluar, dan tentunya masuk ke kamar Hara.
"Kamu benar-benar melakukannya di tempat seperti itu?" tanya Azwan sambil memegangi keningnya sendiri.
Hara mengerutkan keningnya sambil menatap Adiknya itu.
"Sudah aku bilang itu hanya kecelakaan kan?"
"Lagian ini masih sore mana mungkin aku melakukannya, terus di tempat seperti itu." jawab Hara.
Azwan melotot kaget mendengar jawaban dari kakaknya itu.
"J,j,jadi, kalau sudah malam kamu akan melakukannya?" tanya Azwan kembali.
Hara tersenyum sambil menatap adiknya itu.
"Entahlah..." jawab Hara tersenyum lebar.
Azwan semakin bingung dengan kakaknya itu, dan terlihat semakin tidak mengerti apa yang di katakan oleh Hara.
"Cuma becanda kok." ucap Hara.
"Itu memang sebuah kesalahpahaman, Aria menyelamatkanku saat aku akan terjatuh menginjak kain tadi." terang Hara.
Azwan menarik napas lega nya setelah mendengar penjelasan dari Hara, dan Azwan pun celingukan melihat isi kamar Hara.
"Ini pertama kalinya aku kesini, demi dia kamu rela tinggal di tempat seperti ini." ucap Azwan sambil memegang perabot sekitar kamar Hara.
"Ya mau gimana lagi, ini demi Aria..." ucap Hara dengan tatapan kosong.
Lalu Hara menatap tajam Azwan yang sedang melihat-lihat sekeliling kamar Hara.
"Oh, ya Azwan." panggil Hara.
"Jangan sekali-kali kamu panggil namaku di depan mereka, cukup panggil aku dengan sebutan kakak saja." tekan Hara.
Azwan menatap tenang Hara yang terlihat serius itu, sambil meneruskan berjalan di kamar Hara Azwan pun dengan santai menjawab perkataan kakaknya itu.
"Ya aku mengerti."
"tidak ada gunanya aku melarang mu, semakin kamu di larang, kamu ini semakin berontak."
"jadi,,, lakukanlah sesukamu." jawab Azwan.
Hara pun tersenyum mendengar jawaban adiknya itu, dan dia terlihat senang dengan pengertian yang di berikan Azwan untuknya.
**
Di sisi lain Aria yang sedang tertunduk setelah dimaki-maki oleh Adiknya hanya bisa terdiam tidak bisa mengelak lagi.
"Kakakku benar-benar bodoh sekali." terang Syifa memegangi jidatnya sendiri.
"Kamu mau memakai Hara di tempat seperti ini.."
"Terus di lantai seperti ini, dimana pikiran jernih mu Aria."
"Sungguh menjijikan..." celetuk Syifa.
Aria kelimpungan dengan semua ocehan yang di ucapkan Adiknya itu, membela dirinya sendiri pun Aria tidak bisa, karena Syifa terus menekannya dan menyalahkannya.
"Mau bagaimana pun kau ini salah Aria, tidak ada alasan lagi."
__ADS_1
"Sudah jelas-jelas kau mengangkat rok Hara." tambah Syifa.
Aria semakin panik, wajahnya memucat seperti tengkorak yang di tinggalkan dagingnya.
"Ini sebabnya aku tidak menyetujui hubunganmu dengan Hara, Hara sangat berani masuk ke kamar lelaki sembarangan."
"Meskipun kalian pacaran, tapi harus ada aturan dalam menjalin kelakuan kalian."
"Hara telah merusak pikiran mu Aria, aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu setelah mengenal Hara, otakmu jadi mesum."
"Semua yang kamu pikirkan hanya Hara, Hara, dan Hara."
Syifa mengeluarkan uneg-unegnya tentang Aria dan Hara, dan itu membuat kuping Aria panas.
Aria terus mendengarkan ocehan dari adiknya itu, dan hanya menundukkan kepalanya.
"Dengar Aria, aku yakin Hara menyembunyikan sesuatu darimu."
"Aku yakin, Hara itu bukan wanita yang bai..."
"Cukup Syifa." bentak Aria menatap wajah Syifa.
"Kamu boleh memarahiku sesukamu, tetapi jangan sekali-kali kamu menyinggung Hara, apa lagi berfikiran buruk tentangnya." Imbuh Aria.
"Sudah aku bilang, tadi kita hanya kecelakaan."
"Kamu telah salah paham, dan jangan kamu menyangka itu salah Hara, kejadian tadi adalah salahku yang membuat aku dan Hara terjatuh."
"Kamu tidak mengenal Hara dengan baik, jadi kamu tidak pantas berkata macam-macam tentangnya."tutup Aria.
Aria pun terbawa emosi oleh Syifa yang menyalahkan Hara dari kejadian tersebut, Aria tidak bisa menerima Syifa yang selalu sentimen dengan Hara.
Syifa pun menatap sedih Aria, dan dia tertunduk lemas.
"kemana kakakku yang selalu memanjakan ku, dan selalu membuatku nyaman saat di dekatnya." terang Syifa.
"Kakakku yang sangat hangat kepadaku sekarang telah berubah." tutup Syifa.
Aria pun tertunduk dengan perkataan Adiknya itu, sekarang Aria berada di posisi yang sangat sulit.
Aria dan Syifa saling mendiamkan satu sama lain di kamar mereka, lalu Syifa beranjak daro duduknya sambil membawa kembali tas nya.
"Aaahhhh, disini kurang nyaman sekali." ucap Syifa berbalik membelakangi Aria.
Syifa berjalan keluar kamarnya dan membuka pintu kamar tersebut.
"Jangan lupa makan, aku sudah membeli makan untukmu, aku simpan di dekat kompor itu." tutup Syifa sambil menutup pintu.
Aria pun termenung menyadari dirinya telah membentak adik kesayangannya itu, dan Aria pun merasa bersalah atas perkataannya kepada Syifa.
**
Aria sedang duduk sambil memegangi kepalanya terlarut oleh masalah yang menimpanya sekarang, Aria mengecek jam yang berada di ponselnya, dan waktu sudah menunjukan jam setengah 11 malam.
"Kemana perginya Syifa?" gumam Aria.
Sambil mengepalkan tangannya, Aria memejamkan matanya.
"Aaaaaaaa." teriak Aria.
"Gue menyesal telah membentaknya, Syifa adalah adik gue satu-satunya."
__ADS_1
"gue telah membuat hati Syifa hancur." gumam Aria.
Cklakkkkkk, Suara pesan masuk di ponsel Aria.
"Aria, apa kamu masih bangun?" isi pesan dari Hara.
Ternyata Hara mengajak Aria bertemu di depan kamarnya, Aria pun keluar dengan badan yang lemas.
"Hai Aria..." sapa Hara yang sudah berada di depan pintu kamarnya.
Aria membalas dengan senyuman palsunya, dan memperlihatkan muka yang tidak bergairah kepada Hara.
Hara yabg awalnya tersenyum hangat kepada Aria pun menutupi senyumannya itu, dan langsung menatap heran Aria.
"Ehh, apa yang terjadi denganmu Aria?" tanya Hara.
Atia hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan dari kekasihnya itu, Aria hanya bisa menatap kosong ke arah depan.
"Hey Aria.." panggil Hara mengagetkan Aria.
Badan Aria tersentak oleh panggilan dari Hara itu, dan itu membuat Aria terkejut dan menebarkan senyum palsunya lagi kepada Hara.
"A,Ahh, i,iya, ada apa?" ucap Aria gugup.
Hara menatap heran Aria, dan kembali bertanya kepada Aria.
"Apa yang terjadi kepadamu? kamu kelihatannya lagi dalam masalah." terang Hara.
Aria pun kembali melamun, dalam benaknya pun tidak karuan.
"Apa gue harus terus terang kepada Hara tentang gue dan Syifa lagi bertengkar?" gumam Aria.
"Tidak, tidak, ini masalah gue, jadi gue harus menyelesaikannya sendiri."
"T,tapi, siapa tau Hara dapat mencari solusi tentang masalah gue ini." pungkas Aria.
Aria pun menceritakan masalahnya kepada Hara, Aria terbuka tentang pertengkaran yang terjadi dengan Syifa.
Sambil mendengarkan Aria bercerita, Hara pun menatap dengan tatapan kosong ke arah depan.
"Jadi gara-gara aku toh, kalian bertengkar." ujar Hara.
Aria pun menyangkal perkataan Hara, dan menyebutnya itu cuma kesalahpahaman dari Syifa saja.
"Tapi, karena kamu membelaku, kamu jadi membentak Syifa."
"Syifa pasti sangat sedih sekarang." ucap Hara.
Hara pun masuk ke dalam kamarnya, tidak lama berselang dia kembali sambil mengenakan jaketnya.
"Ayo Aria.." ajak Hara.
Aria keheranan karena Hara tiba-tiba memakai jaket dan mengajaknya pergi.
"K,K,kita mau kemana Hara?" tanya Aria.
Hara pun menarik napas panjangnya, dan memukul kepala Aria.
"Sudah jelas kan, Kita akan pergi mencari Syifa."
"Ini sudah malam, terus dia adalah seorang perempuan."
__ADS_1
"tidak baik untuknya berada di luar malam-malam seperti ini." Pungkas Hara.
Aria pun menatap Hara dengan tatapan bangga, meskipun Syifa tidak menyukainya, tetapi Hara masih peduli dengan Syifa.