
"Aku tidak ingin berpisah denganmu Aria." tegas Hara tersipu malu.
Aria merasa lega dengan pengakuan Hara, ternyata perilaku Hara dari kemarin hanya kesengajaan untuk kejutan di Hari ulang tahun Aria.
"Syukurlah..." mata Aria berbinar-binar.
Aria meregangkan tangannya dan bersiap-siap memeluk Hara.
Tangan Aria mencoba merangkul Hara dari depan.
Wusshhh, pelukan Aria ternyata ngeplos, Aria mencari Hara yang ingin di peluknya tiba-tiba menghilang dari pandangannya.
" Hara.."
" Hara..."
Aria celingukan heran kemana perginya Hara.
Dakk, kaki Aria menyentuh sesuatu, ternyata Hara sedang jongkok menghindari pelukan daria Aria.
" woahh Hara..."
Aria melotot menatap Hara yang berada di bawahnya, dan Hara sedang menatap Aria.
"Kenapa kamu menghindari ku Hara?" tanya Aria.
Hara kembali berdiri, sambil memalingkan pandangannya yang terlihat malu.
"A,a,aku tidak siap di peluk olehmu Aria." ucap Hara.
Aria melamun kenapa Hara menghindarinya, karena selama ini Hara yang selalu memulai untuk bermesraan dengan Aria.
"Oh, begitu ya." ucap Aria tersenyum kepada Hara.
Hara membuka pintu kamarnya, dan memandang ke arah Aria.
" huaaaahhhhh."
Hara menguap sambil menutup mulutnya.
"Aku tidur dulu Aria."
"Aku sangat ngantuk."
Aria kembali memegang tangan Hara.
"Aku masih ingin bersamamu Hara." ucap Aria.
Mata Hara yang sudah teler menatap Aria, Hara sangat kelihatan bingung.
"Hara, maukah kamu menemaniku sebentar saja." ajak Aria lirih.
Hara kelihatannya sangat bingung di antara rasa kantuk dan menemani Aria malam itu.
Wajah Aria sangat memohon kepada Hara, Aria berekspresi sangat menyedihkan.
" baiklah, tapi aku tidak ingin lama-lama menemanimu."
" ini sudah jam 1 malam Aria." tegas Hara.
Hara menatap Aria dengan tatapan curiga dan was-was.
"Tapi kamu tidak akan memangsa ku kan?" tanya Hara sedikit ketakutan.
"M,m,memangsa apanya Hara?" tanya balik Aria.
Hara berjalan masuk dan melambaikan tangannya supaya Aria mengikutinya.
Aria sedikit berlari mengikuti Hara, dan Hara menyuruhnya duduk.
Aria yang duduk hanya bisa melihat Hara yang sedang membereskan tempat tidurnya.
Kemudian, Aria pun menanyakan tentang wajahnya yang kemarin sangat pucat, apakah itu juga salah satu tipuan Hara kepada Aria.
"Sudah aku bilang kan!"
"Semua itu hanya kebohonganku saja, itu hanya akal-akalanku untuk membuatmu panik, Aria."
Hara menjelaskan sambil membawa baju tidurnya ke kamar mandi.
__ADS_1
Tidak lama berselang Hara keluar dari kamar mandinya, dia sudah mengganti pakaiannya dan bersiap-siap untuk tidur.
"Hoammmm" Hara menguap menutupi mulutnya.
"Jadi kenapa kamu masih ingin bersamaku disini?" tanya Hara lagi yang matanya sudah 5 wat.
Aria langsung merespon pertanyaan dari Hara itu.
"S,S,Sudah jelas kan, aku ingin bersamamu Hara."
"Aku, ingin bersama pacarku." tegas Aria.
Sambil tertunduk sedih Aria berucap kepada Hara.
"Sudah sewajarnya aku ingin di temani oleh mu Hara."
"Karena kamu adalah pacarku."
Hara menatap Aria seolah-olah malas mendengar keinginan Aria.
"Terserah kamu saja Aria,"
"Aku benar-benar ngantuk."
Hara merebahkan tubuhnya di kasur.
"Lebih baik kamu juga tidur,"
"Tidak baik terlalu banyak begadang." ucap Hara memakai selimutnya.
Aria heran dengan sikap Hara dari kemarin, sekarang dia menjadi dingin dan terlihat sangat tidak nyaman dengan keberadaan Aria.
Aria memikirkan Hara yang selalu bersikap manja kepadanya, dan selalu menempel kepada Aria.
Aria menghampiri Hara yang berada di kasurnya, dan menyentuh tangan Hara.
"Apa kamu benar-benar bosan kepada ku Hara?" tanya Aria.
Plakk, Hara menyingkirkan tangan Aria, tangan Aria terhempas oleh keplakan Hara.
"Jangan menyentuhku Aria." tegas Hara.
"Apa yang terjadi denganmu Hara?" tanya Aria sedikit membentaknya.
"Aku benar-benar tidak mengerti!"
"Apa aku mempunyai salah kepadamu?"
"Jika memang benar aku mempunyai kesalahan, sebutkan lah apa salahku!."
Aria menekan Hara supaya berbicara tentang perubahan sikapnya kepadanya.
"Jangan membuatku khawatir Hara!" ucap Aria lirih.
"Aku benar-benar tidak nyaman dengan kamu yang berprilaku seperti ini." jelas Aria.
Aria menjelaskan apakah perkataan tentang kebohongannya dan kejutan untuk Aria bisa di percaya atau tidak, karena sampai saat ini Hara masih saja bersikap dingin kepada Aria.
"Atau kamu memang sudah bosan denganku."
"Dan kamu juga benar ingin meninggalkanku." tanya Aria lagi.
Setelah mendengar semua keluhan dari Aria, Hara pun bangun dan duduk di depan Aria.
Hara terlihat sangat tertekan dengan semua perkataan Aria.
"Maafkan Aku Aria."
"Mungkin aku benar-benar ngantuk, dan untuk saat ini aku ingin sendirian dulu."
"Maafkan aku Aria, bisakah kamu meninggalkanku." tegas Hara.
Aria tetap bersikukuh dengan pendiriannya, dan meminta penjelasan dari Hara, bagaimana pun Aria sangat tidak merasa nyaman dengan Hara saat ini.
Hara menyentuh pipi Aria, dan tersenyum memandang kekasihnya itu.
"Jika kamu mengerti diriku, aku ingin kamu menuruti perkataan ku."
"Maafkan aku jika aku terlihat dingin kepadamu."
__ADS_1
"Tapi kamu harus yakin, perasaanku tidak akan cepat berubah Aria."
"Mungkin sekarang aku lagi butuh istirahat."
Hara meyakinkan Aria tentang perasaannya yang tidak pernah berubah sedikitpun kepada Aria, yang Hara butuhkan saat ini adalah sendiri tidak ingin bertemu siapa-siapa.
Aria melihat Hara dengan tatapan heran.
"Apa kamu sedang mempunyai masalah, Hara?" tanya Aria.
Hara sedikit melamun sambil menundukkan kepalanya.
"Jawab aku Hara." tegas Aria.
Pandangan Hara sangat terlihat sedih, kemudian dia menganggukkan kepalanya.
Aria langsung memegang kedua tangan Hara.
"Jelaskan padaku, apa masalahmu?" tanya Aria.
Hara yang masih tertunduk lesu menggelengkan kepalanya, dan tersenyum kepada Aria.
"Maafkan aku Aria."
"Aku tidak bisa memberitahukannya kepadamu." imbuh Hara.
"lho,kenapa?"
"S,s,siapa tahu aku bisa membantumu Hara." ucap Aria.
Hara melepaskan genggaman tangan Aria, dan menopang kan kepalanya di atas lututnya sendiri.
"Ini masalah keluargaku Aria."
"Aku tidak mau, ada orang lain yang mengetahuinya."
"Termasuk dirimu." tegas Hara.
"Apa kamu tidak mempercayaiku Hara?" tanya Aria kembali.
Hara menjelaskan bukannya dia tidak mempercayai Aria, tapi ini adalah masalah genting yang sedang di hadapi oleh keluarga Hara.
Sambil menatap langit-langit, Hara menggerutu.
"Yang aku butuhkan saat ini adalah keheningan."
"Aku ingin mencairkan pikiranku yang mumet ini Aria."
"Maafkan aku yang membawa masalahku ini ke dalam hubungan kita."
Sekarang Aria sedikit mengerti dengan perubahan sikap Hara terhadapnya, mungkin ini juga ada sangkut pautnya dengan permintaan Aria yang ingin pergi keluar dengan Hara.
Aura Aria berubah, dan dia sekarang terlihat sangat begitu sedih setelah pengakuan dari Hara.
"Hara." panggil Aria.
"S,S,Soal liburan yang kita bahas kemarin kita batalkan saja."
"maafkan aku karena telah memaksamu untuk mengikuti keinginanmu."
"Kamu telah menolak ajakan ku kan?"
"tapi bodohnya aku yang ngambek dan tidak mengerti dirimu."
"Jika kamu sibuk dengan masalahmu, selesaikan saja dulu masalahmu itu." ucap Aria.
Aria tidak bisa menatap wajah Hara, karena dia sangat menyesal memaksa Hara untuk keluar bersama, di samping itu Hara mempunyai kepentingan lain tentang keluarganya.
Aria mengelus-elus kepala Hara, dan bangkit dari duduk nya.
"Sekarang kamu istirahat Hara."
"maafkan aku yang bodoh ini."
"Aku benar benar tidak bisa mengerti perasaan pacarku."
Hara hanya bisa memandang Aria yang suasana hatinya tiba-tiba berubah.
"semoga mimpi indah Hara."
__ADS_1
Aria menundukkan kepalanya, lalu berjalan meninggalkan Hara.